Jadi Korban Hoaks, Terdakwa Korupsi PT. Asabri Lapor Dewan Pers

Jadi Korban Hoaks, Terdakwa Korupsi PT. Asabri Lapor Dewan Pers - inilah.com
Jadi Korban Hoaks, Terdakwa Korupsi PT. Asabri Lapor Dewan Pers

Terdakwa kasus dugaan korupsi PT Asabri, Heru Hidayat mengajukan protes dan hak jawab atas pemberitaan sejumlah media online yang dianggap tidak mengedepankan kode etik jurnalistik dalam melakukan peliputan.

Menurut kuasa hukum Heru Hidayat, Kresna Hutauruk, kliennya merasa keberatan atas pemberitaan media online tanggal 27 September 2021.

“Bahwa kami selaku PH Heru Hidayat keberatan atas pemberitaan beritaekspress.com dan beritabuana.co di mana wartawan seakan-akan telah melakukan wawancara dengan klien kami Heru Hidayat. Faktanya, Bapak Heru Hidayat merasa tidak pernah dilakukan wawancara oleh siapapun dan tidak pernah menyampaikan pernyataan sebagaimana berita yang di upload pukul 11.47 WIB pada tanggal tersebut di atas,” kata Kresna di Jakarta, Selasa (27/9/2021).

Baca juga  Bea Cukai Sosialisasikan Ketentuan Rush Handling dan Barang Kiriman

Dalam pemberitaan, disebutkan bahwa Heru Hidayat selaku terdakwa kasus PT Asabri meminta agar Penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Agung agar memproses mitra kerjanya yakni, AR selaku Dirut PT. FIRE maupun AF pemilik saham FIRE yang menjual sahamnya ke PT. Asabri.

“Kami melayangkan hak jawab dan protes keras atas pelanggaran kode etik jurnalistik serta melaporkannya pada Dewan Pers, PWI dan AJI,” ungkapnya.

Kresna beralasan dalam persidangan, kliennya memang didekati oleh seseorang yang tidak dikenal bahkan saat orang ini bertanya tentang kasusnya serta menyebutkan beberapa nama, klien saya sudah menyatakan tidak ingin berkomentar apa-apa dan meminta seseorang tak dikenal yang diduga oknum wartawan tersebut untuk mencari informasi lainnya sesuai yang dipertanyakan.

Baca juga  Ketua Umum PWI Tegaskan Wartawan Tidak Tunduk pada UU Ketenagakerjaan

“Yang jelas, orang tak dikenal atau oknum wartawan tersebut tidak pernah memperkenalkan diri sebagai wartawan dan menunjukkan identitas persnya. Bahkan klien saya tidak tahu bila pembicaraan yang sepotong sepotong itu adalah wawancara. Oknum wartawan itu mencoba menjebak Pak Heru dengan sejumlah pertanyaan yang menyudutkan,” kata Kresna.

“Oknum yang tidak mengenalkan diri sebagai wartawan tersebut juga tidak meminta izin apakah pernyataan klien kami bisa dikutip dan ditayangkan di media online,” ujarnya lagi.

“Harapannya dikemudian hari, hal seperti ini tidak terjadi lagi karena profesi wartawan adalah profesi yang mulia. Senantiasa bertindak dengan mengedepankan profesionalitas dan tidak mencampur adukkan antara opini dengan fakta. Dan oleh karenanya wartawan Indonesia dilengkapi dengan ‘hak tolak’ bila dirasakan tugas yang diemban telah melanggar independensinya”, pungkasnya.

Baca juga  Indonesia Batasi Hanya 5 Bandara untuk Kedatangan Internasional

Tinggalkan Komentar