Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Jadi Lulusan Terbaik, Kompol Ardila Amry Raih Gelar Doktor Kriminologi

Kompol Ardila Doktor
(ist)

Komisaris Polisi Muhammad Ardila Amry resmi menyandang gelar Doktor Kriminologi. Pada Sidang Promosi Terbuka Doktor Kriminologi FISIP Universitas Indonesia (UI), perwira menengah Polri yang sedang bertugas di Kedutaan Besar RI untuk Prancis ini berhasil mempertahankan disertasinya tentang Telaah Reintegrative Shaming dalam Penanggulangan Drug Relapse di Indonesia.

Setelah menjalani wisuda, Jumat (25/2/2022), Kompol Ardila resmi tercatat sebagai Doktor Kriminolog ke-27 di UI. Menantu dari mantan Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Syafruddin ini masuk dalam jajaran tujuh Doktor Kriminologi UI dengan predikat Cumlaude. Bahkan, suami dari Kharisma Bibitani itu merupakan polisi termuda yang menyandang gelar Doktor. Ia pun masuk ke dalam jajaran lima lulusan terbaik FISIP UI.

Baca juga
Di Beranda Istana Alhambra (11 – Toledo Simbol Harmoni Umat Beragama)

Dalam desertasinya, Kompol Ardila menjelaskan, pada statistik penyalahgunaan narkoba dengan status drug relapse, di Indonesia mencapai 70 persen. pada tahun 2019. Kondisi ini menggambarkan bahwa mekanisme rehabilitasi sosial bagi drug relapse di Indonesia masih berpeluang hadir tanpa shaming.

Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan Kompol Ardila berupaya melihat signifikansi lifestyle-related shaming sebagai bagian penting dari mekanisme penerapan shaming bagi khususnya para drug relapse di Indonesia.

Kompol Ardila Doktor

Dalam penelitiannya, Kompol Ardila tidak hanya memakai metode studi dokumentasi, wawancara delphi, FGD, survei dan wawancara mendalam. Dia juga mencoba memanfaatkan dan mengembangkan konstruksi teoritis dengan menghadirkan konsep (variabel) sesuai dengan keterjangkauan data penelitian.

Baca juga
Syafruddin Pimpin Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) Berkunjung ke Al-Azhar Kairo

Dengan demikian, dihasilkan temuan baru mengenai pentingnya lifestyle-related shaming dalam drug relapse. Lifestyle-related shaming adalah bagian dari kombinasi teori reintegrative shaming, teori desistensi dan teori aktivitas rutin.

“Alhamdulillah. Terima kasih untuk tim penguji. Terima kasih untuk Pak Syafruddin yang selalu memberi motivasi dan dorongan. Terima kasih juga untuk istri saya, Kharisma, dan anak-anak saya yang selalu mendukung penuh. Semoga desertasi saya juga bermanfaat dan memberi masukan dalam mengatasi masalah narkoba,” papar Kompol Ardila.

Pria berusia 37 tahun ini juga mengajak para perwira Polri lainnya untuk mengikuti jejaknya dengan tidak lelah mengikuti dan menjalani studi baik di luar maupun dalam negeri.

Baca juga
Orkestra Angklung Meriahkan 62 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Kuba

“Jangan pernah lelah menuntut ilmu. Jika bisa kuliah ya kuliah. Ingat jerih lelahmu tidak akan pernah sia-sia. Jika Sumber Daya Manusia (SDM) kita unggul maka Polri akan jauh lebih baik lagi. Untuk itu, mari mulai dari diri kita dahulu untuk mengembangkan diri,” ujarnya.

Kompol Ardila Doktor

Tinggalkan Komentar