Selasa, 27 September 2022
01 Rabi'ul Awwal 1444

Jaga Kesehatan Mental Saat Ekonomi Sedang Tidak Baik-baik Saja

Sabtu, 09 Jul 2022 - 02:17 WIB
Kesehatan Mental
(Ilustrasi)

Pandemi dan situasi geopolitik global ikut menyeret berbagai sektor perekonomian di Tanah Air. Tingginya harga bahan kebutuhan pokok, inflasi, rupiah semakin terpuruk dan PHK menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ekonomi memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi Anda tetap harus bisa menjaga kesehatan mental di saat sulit.

Hampir semua sektor terganggu. Banyak perusahaan yang terpaksa memutuskan hubungan kerja (PHK) karyawannya. Seperti yang terjadi pada banyak perusahaan startup atau perusahaan rintisan.

Jumlah lowongan kerja juga menurun yang bikin orang makin sulit buat cari kerjaan. Boro-boro mencari pekerjaan ideal sesuai passion atau yang diinginkan, mendapatkan pekerjaan yang pragmatis untuk sekadar bertahan hidup saja tidak mudah. Sementara, di sisi lain yang sudah dapat kerja pun masih mengeluhkan beban hidup dengan kenaikan harga-harga bahan pokok.

Yang sudah kerja, mendapatkan gaji aman setiap bulannya juga tak terlepas dari berbagai persoalan. Seperti tuntutan pekerjaan yang lebih tinggi untuk menghidupkan perusahaan, gaji yang tidak sesuai dengan beban kerja, hingga konflik pekerjaan dengan bos atau lingkungan perusahaan.

Baik yang tidak bekerja maupun yang bekerja tentu semua persoalan dan ini bukan hal yang mudah. Kadang masalah bisa diatasi, dengan bertahan namun tetap saja tidak sehat bagi kesehatan mental.

Kondisi perekonomian yang sedang tidak sedang baik-baik saja ini berpotensi meningkatkan tekanan psikologis masyarakat. Bagi orang yang tidak kuat menahan dampak dari situasi ini akan sangat mungkin mengalami gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, stres, depresi, hingga keinginan bunuh diri.

Baca juga
3 Cara Mudah Penuhi Sarapan dengan Gizi Seimbang

What Should We Do?

Bersyukur, menerima keadaan dan sabar sering menjadi kata kunci dari apa yang terjadi dengan kondisi perekonomian ini. Ini tepat mengingat ada keadaan yang tidak bisa kita kontrol. Tak bisa pula terus menerus menyalahkan keadaan. Memang hal wajar mengeluh dan curhat tentang apa yang terjadi tetapi jangan berlarut-larut.

Dalam ilmu psikologi dikenal sebagai coping strategies untuk mengelola stres. Ada dua cara mengelola stres. Pertama adalah mengelola stres berdasarkan emosi atau emotional focused coping. Jadi Anda menenangkan diri misalnya tarik napas, menyanyi atau menenangkan diri. Baru kedua adalah memikirkan apa yang bisa Anda lakukan.

Emotional focused coping ini menarik karena akan fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol. Daripada mengeluh atau banyak protes lebih baik mencari tahu kenapa bisa merasakan masalah ini dan apa yang bisa kita kontrol. Lalu kemudian breakdown menjadi poin-poin yang lebih mudah kita cerna dan kita selesaikan.

Jadi, sekarang lakukan yang bisa dikontrol oleh diri sendiri. Segeralah move on seperti melakukan penghematan. Saat ini waktu yang tepat untuk hidup sederhana jauh dari konsumtif. Bukan berarti pelit tetapi membeli barang berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan apalagi gara-gara diskon. Dengan demikian membeli barang berdasarkan fungsi dan bukan gengsi.

Baca juga
Kenapa Masyarakat Indonesia Sakit tapi Tidak Berobat ke Rumah Sakit?

Momentum Mengembangkan Diri

Situasi seperti ini juga sangat pas untuk belajar menggali ilmu, mengembangkan diri untuk bersiap-siap lari menangkap peluang. Karena peluang itu justru datang di saat waktu yang sulit. Belajar dari contoh di masa lalu, beberapa perusahaan yang menjadi besar saat ini dibangun saat resesi. Masih ingat di 2008 ketika dunia mengalami resesi, banyak perusahaan yang lahir dan menjadi besar. Misalnya Facebook dan Netflix.

Lakukan perencanaan usaha yang lebih baik dan menyesuaikan dengan situasi saat ini. Kalaupun tak punya sumber daya untuk membangun suatu inovasi, mungkin bisa melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat di masa mendatang. Misalnya belajar berkebun, membangun bimbingan belajar kelompok kecil atau kegiatan-kegiatan baru lainnya. Yang penting waktu tidak terbuang sia-sia, tetap produktif bahkan kalau bisa malah menghasilkan pendapatan.

Sementara bagi Anda yang masih beruntung memiliki pekerjaan dan penghasilan yang baik dalam situasi saat ini, syukurilah. Bekerjalah dengan baik dan sepenuh hati. Dalam keadaan seperti sekarang, saat perekonomian sedang terpuruk sudah bukan jamannya lagi bekerja biasa saja apalagi seenaknya. Jika di kemudian hari perusahaan tempat Anda bekerja terpaksa melakukan rasionalisasi pegawai, orang yang performance kerjanya buruk, biasa dan cenderung turun itulah lapisan pertama yang terkena dampaknya.

Baca juga
7 Kebiasaan Buruk Berpeluang Merusak Jantung

Yang juga harus diingat adalah mempertimbangkan risiko. Pada situasi saat ini, banyak tawaran pinjaman dengan berbagai kelebihan dan kemudahan, dari mulai pay later, pinjaman online, atau pinjaman tanpa bunga. Perhitungkan secara cermat risikonya dan kalau perlu hentikan hasrat untuk itu jika tak ingin malah mendapat kesulitan di masa mendatang. Bahkan sebaiknya jika Anda memiliki tanggungan, pinjaman segera melunasinya. Kita tidak tahu kapan ekonomi akan kembali membaik.

Siapapun tidak menginginkan terjadinya ujian dalam kehidupan termasuk dalam situasi ekonomi seperti ini. Namun, kenyataannya tidak ada yang bisa menghindarinya. Bagi umat Muslim, ujian merupakan rahmat dari Allah SWT kepada hamba yang disayangi-Nya.

Menarik menyimak firman Allah SWT: “Allah tidak memberikan kesulitan kepada seseorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah/2: 286).

Tetaplah semangat, badai ekonomi pasti berlalu.

Tinggalkan Komentar