Jumat, 19 Agustus 2022
21 Muharram 1444

Jakarta Banjir dari Zaman Belanda Diatasi Era Anies

Rabu, 08 Des 2021 - 20:51 WIB
Penulis : Willi Nafie

Budayawan Betawi Ridwan Saidi memastikan persoalan banjir di DKI Jakarta sudah sering terjadi bahkan sejak zaman Belanda menjajah Indonesia. Meski demikian mantan anggota DPR melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1977-1987 itu enggan banyak berkomentar mengenai penanganan banjir di Jakarta saat ini.

“Iye (banjir sejak zaman kolonial Belanda). Tetapi sama yang ahli banjir aja yang ngomong ini,” kata Ridwan mengakhiri perbincangan dengan Inilah.com, Rabu (8/12/2021).

Hal senada disampaikan Peneliti Kebijakan Publik IDP-LP, Riko Noviantoro. Persoalan banjir di kota Jakarta bukan barang baru. Sejak era kolonial kota bernama Jayakarta ini telah menjadi daerah langganan banjir. Namun persoalan itu bisa diatasi secara bertahap oleh Gubernur Anies.

Pasalnya mantan Menteri Pendidikan itu dianggap mumpuni memahami persoalan publik. Ditambah dukungan tim ahli dan anggaran sangat memadai, otomatis Anies bisa membuat terobosan pengendalian banjir yang lebih efektif lagi sesuai kajian serta riset para ahli.

“Dulu Anies punya program sumur resapan dan naturalisasi sungai. Gagasan itu bagus hanya tidak diterapkan optimal. Kalau Anies bisa selesaikan masalah banjir, sudah cukup modal untuk maju pada kontetasi politik yang lebih besar, ” ucap Riko kepada Inilah.com.

Sebelumnya diberitakan, ada tujuh kebijakan Gubernur Anies yang dinilai sukses menangani banjir di Ibu Kota.

Pertama memastikan aliran air tidak terhambat dengan membersihkan gorong-gorong hingga sungai, kedua naturalisasi kanal banjir barat sekitar kawasan Dukuh Atas, ketiga memasang alat pengukur curah hujan di 267 kelurahan.

Keempat Anies Baswedan juga melakukan naturalisasi Kali Ciliwung Lama (tepi Jalan Kerapu), Pademangan, Jakarta Utara, kelima naturalisasi waduk Kampung Rambutan, Sunter Selatan sisi timur, dan Cimanggis. Keenam menyiapkan 1.262 lokasi pengungsian daya tampung 105.804 jiwa. Terakhir program sumur resapan untuk menampung air hujan di Ibu Kota.

Baca juga
Harga Pertalite Naik, yang Miskin Makin Miskin

Anies lewat Dinas Sumber Daya Air juga tampak terus melaksanakan pembangunan tanggul National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) sejak tahun 2016 hingga 2019, kemudian dilanjutkan kembali di tahun 2021, dengan target total sepanjang 790 meter. Pembangunan itu guna mengantisipasi banjir banjir rob yang sering terjadi di wilayah pesisir Jakarta.

Catatan Penanganan Banjir di Jakarta

1. Banjir Surut Dalam Waktu Enam Jam

Pada tanggal 18 Februari 2021 lalu banjir menggenang sejumlah titik di Ibu Kota. Dalam waktu enam jam setelah hujan banjir yang menggenangi sejumlah wilayah surut tanpa meninggalkan genangan. Ini adalah bagian dari prioritas Anies dalam penanganan banjir Jakarta. Pertama tidak adanya korban jiwa dan kedua genangan harus surut kurang dari enam jam setelah turun hujan.

2. Warga Akui Banjir Era Anies Lebih Cepat Surut

Warga di Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur di bantaran Sungai Sunter menyebut banjir saat di era Gubernur Anies Baswedan lebih cepat kering, karena genangan air langsung disedot dan dibuang ke Kalimalang.

Anies sempat memposting di media sosialnya moment ketika dirinya mendatangi kampung RW 04 dan 03, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur pada tahun 2017 silam. Kala itu banjir mengepung kampung di bantaran sungai Sunter tersebut mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Ketika didatanginya lagi saat musim penghujan tahun 2019 tidak ada banjir di sana.

Baca juga
Ratusan Relawan di Kudus Deklarasi Anies Capres 2024

Anies juga pernah menyampaikan pihaknya telah melakukan persiapan terlebih dahulu dengan menggelar simulasi penanganan banjir sebelum cuaca ekstrem melanda Jakarta. Langkah itu merupakan salah satu indikator banjir surut lebih cepat dari waktu sebelumnya.

Volume genangan air di kawasan strategis atau pusat bisnis tepatnya di Jalan MH. Thamrin, Jakarta juga semakin berkurang saat kepemimpinan Anies ketimbang saat banjir di era Gubernur Basuki Tjahjaja Purnama (Ahok).

Perbandingan Banjir Ekstrem di Jakarta

Merujuk dari data yang pernah diunggah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta dengan rentang waktu 19 tahun terakhir. Tepatnya dari era kepemimpinan Gubernur Sutiyoso terakhir Anies Baswedan, khusus banjir terparah pada bulan Februari. Tercatat saat Anies area strategis di Ibu Kota nihil dari banjir.

Berikut data-datanya yang dirangkum Inilah.com :

1. Era Gubernur Sutiyoso

Baca juga DKI Turun Level 2, Anies Akui Masih Sulit Awasi Kegiatan Privat
2 Februari 2002

– Curah hujan tertinggi: 168 mm/hari

– RW tergenang: 353

– Luas area tergenang: 168 km2

– Area strategis: Ya

– Pengungsi: 154.270

– Jumlah lokasi pengungsi: N.A

– Korban meninggal dunia: 32

– Waktu surut >95 % genangan: 6 hari

 

2. Gubernur Fauzi Bowo

2 Februari 2007

– Curah hujan tertinggi: 340 mm/hari

– RW tergenang: 955

– Luas area tergenang: 455 km2

– Area strategis: Ya

– Pengungsi: 276.333

– Jumlah lokasi pengungsi: N.A

– Korban meninggal dunia: 48

– Waktu surut >95 persen genangan: 10 hari

 

3. Gubernur Joko Widodo (Jokowi)

Baca juga
Arteria Dahlan dan Anggiat Pasaribu Tempuh Jalan Damai

17 Januari 2013

– Curah hujan tertinggi: 100 mm/hari

– RW tergenang: 599

– Luas area tergenang: 240 km2

– Area strategis: Ya

– Pengungsi: 90.913

– Jumlah lokasi pengungsi: 1.250

– Korban meninggal dunia: 40

– Waktu surut >95 persen genangan: 7 hari

4. Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

11 Februari 2015

– Curah hujan tertinggi: 277 mm/hari

– RW tergenang: 702

– Luas area tergenang: 281 km2

– Area strategis: Ya

– Pengungsi: 45.813

– Jumlah lokasi pengungsi: 409

– Korban meninggal dunia: 5

– Waktu surut >95% genangan: 7 hari

 

5. Gubernur Anies Baswedan

1 Januari 2020

– Curah hujan tertinggi: 377 mm/hari

– RW tergenang: 390

– Luas area tergenang: 156 km2

– Area strategis: tidak

– Pengungsi: 36.455

– Jumlah lokasi pengungsi: 269

– Korban meninggal dunia: 19

– Waktu surut >95% genangan: 4 hari

20 Februari 2021

– Curah hujan tertinggi: 226 mm/hari

– RW tergenang: 113

– Luas area tergenang: 4 km2

– Area strategis: Tidak

– Pengungsi: 3.311

– Jumlah lokasi pengungsi: 44

– Korban meninggal dunia: 0 (data terbaru 5 orang meninggal)

– Waktu surut >95% genangan: dalam penanganan

Tinggalkan Komentar