Jumat, 12 Agustus 2022
14 Muharram 1444

Jalankan Program Kemitraan, Industri Sawit Dukung Instruksi Jokowi Sejahterakan Petani

Jumat, 10 Des 2021 - 20:13 WIB
Industrisawit - inilah.com
Industri sawit

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong industri sawit nasional untuk mengembangkan program kemitraan dengan petani sawit. Agar tercipta kesejahteraan bersama berkat sawit.

Direktur Asian Agri, Bernard Riedo, kepemilikan lahan perkebunan kelapa sawit Asian Agri (kebun inti) telah seluas 100 ribu hektar (ha), serta telah bermitra dengan petani sawit dengan model skim plasma terdapat 60 ribu ha, dan model kemitraan melalui dengan petani swadaya mencapai 42 ribu ha.

“Perkebunan kelapa sawit yang kami kelola tersebar di tiga wilayah yakni, Sumatera Utara, Riau dan Jambi,” kata Bernard dalam acara FGD Sawit Berkelanjutan bertajuk Minyak Sawit Sebagai Minyak Nabati Berkelanjutan Terbesar Dunia secara online, dikutip Jumat (10/12/2021).

Kata Bernard, produksi minyak sawit Asian Agri mencapai 1,1 juta ton per tahun. Mengukuhkan Asian Agri sebagai perusahaan sawit sustainable, lantaran sudah menggenggam sertifikasi minyak sawit berkelanjutan terbesar di dunia. Baik skim Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Indoensian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). “Serta telah menjadi perusahaan perkeunan kelapa sawit pertama yang mitra petani sawit swadaya-nya memperoleh sertifikat RSPO dan ISPO,” katanya.

Tak hanya memenuhi aspek praktik sawit berkelanjutan dalam budidaya di perkebunan, Asian Agri juga memiliki tingkat produksi kelapa sawit yang cukup tinggi. Dibandingkan produktivitas rata-rata perkebunan kelapa sawit global.

Baca juga
Terseret Dugaan Mafia Migor, Cabut Izin Ekspor CPO dan Periksa Pajak Wilmar Cs

Produktivitas rata-rata kebun sawit Asian Agri mencapai 5,38 ton CPO/ha/tahun, lebih tinggi dari ratarata produktivitas perkebunan kelapa sawit global yang mencapai 4,3 ton/ha/tahun. Menunjukkan tingginya tingkat produktivitas ketimbang produktivitas minyak nabati lainnya. Misalnya, rapeseed yang mencapai 0,7 ton/ha, minyak bunga matahari 0,52/ha, atau minyak kedelai 0,45/ha

Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), M Hadi Sugeng mengatakan, praktik sawit berkelanjutan dilakukan AALI sejak 2011. Sesuai kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang beberapa kali direvisi hingga ditetapkannya Perpres No 44 Tahun 2020, Tentang Sistem Serifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, dengan regulasi petunjuk teknis sesuai Permentan No. 38 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.

Baca juga
Mendag Zulhas Targetkan Harga TBS Kelapa Sawit Naik Menjadi Rp2.400/Kg

Menurut Hadi yang juga Kepala bidang Implementasi ISPO Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), sampai September 2021, capaian Sertifikat ISPO anggota GAPKI sebanyak 542 sertifikat. Sedangkan sertifikasi ISPO non GAPKI sebanyak 275 sertifikat. “Sedangkan petani sebanyak 24 sertifikat. Totalnya 841 sertifikat,” paparnya.

Peneliti Sustainable Palm Oil Support Indonesia (SPOSI), M Ichsan Saif mengungkapkan, rencana Presiden Jokowi meningkatkan campuran biodiesel serta pengembangan green fuels, layak diacungi jempol. Bahkan, program ini masuk Proyek strategis nasional (PSN) lantas melakukan pembangunan green refinery oleh Pertamina di Plaju dan Cilacap.

Kata Ichsan, alasan pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) berbasiskan sawit, untuk memperbaiki ketahanan energi dan defisit neraca perdagangan akibat tingginya impor BBM. Serta, menjaga harga sawit global akibat kontroversi sawit global dan kelebihan pasokan minyak sawit. “Terpenting akan ada peningkatan kebutuhan akan lahan,” katanya.

Baca juga
China Mau Impor Sejuta Ton CPO, Luhut Nilai Harga Sawit Akan Naik

Plt Direktur Kemitraan BPDPKS, Edi Wibowo menerangkan pentingnya program pengembangan industri sawit dalam negeri meliputi sektor hulu. Yakni, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), dukungan sarana dan prasarana, serta program pengembangan SDM. “Dampak untuk petani sawit swadaya berupa Efisiensi biaya usaha berkebun sawit rakyat, serta harga jual TBS Sawit yang optimum, “ kata Edy.

Menurut Edi, hingga Oktober 2021, jumlah pekebun sawit yang terlibat dalam PSR mencapai  102.209 petani. Dengan luas lahan sekiar 234.392 hektar, serta dana yang telah tersalurkan mencapai Rp6,34 triliun.

 

Tinggalkan Komentar