Jumat, 27 Januari 2023
05 Rajab 1444

Jangan Abaikan Perlindungan Data Pribadi yang Berpotensi Jadi Celah Kejahatan Siber

Selasa, 25 Okt 2022 - 22:35 WIB
Penulis : Ibnu Naufal
siber
Foto: istock

Semakin banyak pengguna internet di dunia, semakin banyak pula yang abai terhadap perlindungan data pribadi. Data pribadi yang diunggah di internet atau media sosial bisa menjadi pintu masuk kejahatan siber. Demi keamanan, dibutuhkan perlindungan kata sandi yang kuat dan rajin memperbarui sistem operasi pada perangkat yang digunakan.

Demikian beberapa benang merah dalam webinar yang mengambil tema “Jaga Data Pribadi Agar Diri Aman di Ruang Digital”, Senin (17/10), di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Webinar ini menghadirkan narasumber, yaitu dosen Komunikasi FISIP Universitas Islam Makassar Andriansyah; pegiat media komunitas dan Direktur DOTstudios.ID Akhmad Nasir; serta Sekretaris ISKI Sulawesi Selatan Andi Widya Syadzwina.

Mengutip sebuah survei di Amerika Serikat, Andriansyah menguraikan bahwa generasi muda yang aktif menggunakan internet, sebagian besar abai terhadap perlindungan data pribadi mereka. Mayoritas atau sekitar 92 % dari mereka menggunakan nama asli, menggunakan foto pribadi yang asli 91 %, dan menampilkan tanggal lahir mereka yang sebanyak 82 %. Selain itu, mereka juga mengunggah alamat rumah, tempat sekolah, alamat email, dan nomor ponsel.

Baca juga
Literasi Keamanan dan Etika Digital Perlu Diperkuat

“Padahal, informasi pribadi seperti tersebut di atas berpotensi sebagai pintu masuk kejahatan digital. Sebaiknya, informasi data pribadi tidak disebar di internet maupun di media sosial demi keamanan diri,” ujar Andriansyah.

Andriansyah juga mengingatkan bahaya malware. Perangkat lunak ini dirancang untuk mengontrol perangkat dengan diam-diam, bisa mencuri informasi pribadi atau mencuri uang dompet digital milik seseorang. Beberapa jenis malware tersebut adalah virus, worm, trojan house, ransomware, maupun spyware.

Sementara itu, Andi Widya menjelaskan, setiap bertransaksi dalam jual beli online berpotensi terjadi kebocoran data. Transaksi digital tersebut adalah pembayaran nontunai secara virtual melalui aplikasi lewat website maupun ponsel. Jenis transaksi digital tersebut adalah membeli pulsa; belanja di loka pasar; membayar tagihan listrik, telepon, maupun internet; atau membeli tiket.

Baca juga
Ancaman Mobile Malware Masih Mengintai Indonesia di Paruh Pertama 2022

“Kenapa data pribadi harus dilindungi? Perlindungan data pribadi dibutuhkan untuk menghindari ancaman yang terjadi di ruang digital, termasuk kejahatan terkait transaksi digital,” tuturnya.

Agar keamanan data pribadi terjaga, menurut Akhmad Nasir, dibutuhkan perlindungan kuat pada perangkat yang digunakan, seperti pada ponsel atau laptop. Ada beberapa model kata sandi pada ponsel, seperti menggunakan PIN, pola (pattern), atau menggunakan sidik jari maupun pengenalan wajah. Selain itu, mengaktifkan fitur keamanan dua langkah juga baik mengantisipasi keamanan data diterobos oknum tak bertanggung jawab.

“Untuk keamanan aplikasi pada perangkat yang kita gunakan, rajin-rajinlah memperbarui (meng-up date) perangkat lunak yang digunakan pada ponsel maupun laptop. Lalu, pasangkan antivirus untuk mencegah virus jahat merusak sistem keamanan,” ucap Nasir.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Tinggalkan Komentar