Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Jangan Ada Lagi yang Meninggal Saat Isoman

Rabu, 11 Agu 2021 - 19:22 WIB
Penulis : Ivan Setyadhi
Jangan Ada Lagi yang Meninggal Saat Isoman - inilah.com

Isolasi mandiri (isoman) saat pandemi Covid-19 harusnya jadi solusi bagi pasien positif Covid tanpa gejala untuk sembuh. Namun kenyataannya, sudah 2.000an orang meninggal saat melakukan isoman di rumah.

Koalisi Warga Lapor Covid-19
mencatat sebanyak 2.641 pasien Covid-19 meninggal dunia saat menjalani
isoman berdasarkan data hari ini, Sabtu (24/7/2021).

Lapor
Covid-19 menyatakan data tersebut diperoleh dari tiga sumber. Pertama,
data laporan yang diterima oleh tim relawan Lapor Covid-19, kemudian
data kedua diperoleh dari komunitas yang berasal dari lembaga CISDI, dan
data ketiga didapatkan dari data pemerintah yang hanya bersumber dari
dinas provinsi DKI Jakarta.

Lapor Covid-19 mencatat jumlah kasus
kematian warga saat isoman terbanyak di DKI Jakarta yakni sebanyak
1.215 kasus, atau 48,77 persen dari data laporan keseluruhan.
Rinciannya, 1.161 data yang dilaporkan bersumber dari Dinkes DKI,
sementara 54 kasus lainnya merupakan kumulatif laporan dari Lapor
Covid-19.

“Sejauh ini baru Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang
secara official mau terbuka mendata dan memberikan data kematian pasien
isomannya sehingga bisa dianggap data yang ada di Jakarta sudah
mendekati situasi real. Di daerah lain masih seperti fenomena puncak
gunung es,” tulis Lapor Covid-19 dalam laman resminya.

Jawa
Barat jadi tertinggi kedua dengan 683 kasus warga meninggal saat isoman,
dengan rincian 446 data yang bersumber dari CISDI, dan 237 lainnya dari
Lapor Covid-19.

Posisi ketiga ada Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY) dengan kumulatif yang dilaporkan sebanyak 250 kasus yang bersumber
dari data Lapor Covid-19. Lalu masih bersumber dari data Lapor
Covid-19, posisi keempat ada Jawa Tengah dengan 142 kasus.

Apa Sebab Pasien Meninggal Saat Isoman

Pasien meninggal saat isoman umumnya disebabkan gejala pemburukan yang
tidak mendapatkan pertolongan “Kita harus terbuka saja, banyak yang
mestinya sudah dirawat di rumah sakit, dengan saturasi di bawah 94,
bahkan mungkin saturasinya rendah sekali 80 atau 70, karena tidak dapat
kamar (di rumah sakit) terpaksa dirawat dirumah,” ucap Dokter Daeng M
Faqih, SH, MH, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Baca juga
Foto: Lonjakan Kasus COVID-19

Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan gradasi keparahan infeksi sehingga
seharusnya mendapatkan perawatan lebih. Gradasi pasien Covid-19 terdiri
dari lima tahapan yakni OTG, ringan, sedang, berat dan kritis. Gejala
pneumonia di antaranya napas jadi lebih cepat dan pendek. Jika diukur
respiratori atau kecepatan napas mencapai 24 kali per menit.

“Itu sudah menunjukkan gejala gangguan napas, berarti dia sudah ada
gejala pneumonia. Sudah masuk gradasi gejala sedang, bukan lagi gejala
ringan, jadi tidak boleh lagi dilakukan isoman,” imbuh Daeng.

Gejala kedua, meskipun napas tidak cepat tapi merasa sesak atau dada
seperti tertekan dan sakit, itu termasuk gejala gangguan napas. Ketiga,
terjadi sianosis, yakni kebiruan pada bibir, ujung tangan, juga ujung
kuku.

Bagaimanapun, temuan tim Lapor Covid-19 perlu menjadi
perhatian semua pihak. Temuan ini menunjukkan berbagai kelemahan dalam
penanganan orang yang terpapar.

Pertama, rumah-rumah sakit dan
fasilitas kesehatan tidak mampu menampung semua yang terpapar. Terbukti,
banyaknya yang dirawat di luar rumah sakit.”Yang meninggal saja kan
jumlahnya mencapai 2.641. Pasti jumlah yang isoman berkali-kali lipat
dari jumlah itu. Kebanyakan dari mereka itu memilih isoman karena tidak
tertampung di rumah-rumah sakit dan faskes-faskes yang ada,” kata Ketua
Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay kepada INILAHCOM, Sabtu (24/7/2021).

Fenomena ini juga menunjukkan keterbatasan tenaga medis yang tersedia.
Buktinya, LaporCovid-19 menjelaskan bahwa mereka yang isoman tersebut
tidak pernah didatangi atau dihubungi pihak tenaga medis. Ini bisa jadi
karena tenaga medis yang ada terkonsentrasi di rumah-rumah sakit dan
faskes-faskes.

“Kita sangat sedih melihat fakta ini. Sebab,
mereka yang mendapat perhatian dan pengobatan serius pun banyak yang
tidak bisa tertolong. Apalagi yang tidak diperhatikan dan tidak menerima
pengobatan yang memadai,” ungkap anggota Komisi IX DPR itu.

Baca juga
Foto: Penerapan Scan Barcode PeduliLindungi di Akses Masuk CFD

Pemprov DKI Jakarta sebagai penyumbang pasien Covid-19 yang meninggal
saat isoman terbanyak, tengah melakukan berbagai upaya untuk menekan
laju kurva tersebut. Pemprov DKI membentuk Satgas Covid-19 hingga ke
tingkat RT. Setiap rumah ditunjuk satu orang sebagai penghubung dalam
melakukan koordinasi dengan pengurus RT setempat, puskesmas, dan Satgas
Covid.

“Kami minta seluruh masyarakat agar yang isoman
melaporkan. Kemudian nanti petugas memberi tanda di setiap rumah dan
lebih baik selain isoman di rumah, di tempat tempat yang telah
disediakan,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria.

Pemprov juga meminta masyarakat untuk selalu melaporkan perkembangan
kondisi keluarga yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah kepada
petugas maupun sanak saudara. Pemberian obat dan vitamin, juga sudah
dilakukan Pemprov DKI.

“Kita tekankan kepada warga bahwa untuk
isoman harus melaporkan kepada satgas setempat kemudian juga di satu
sisi satgas RT/RW sampai lurah juga harus tahu ada warganya yang sedang
isoman, supaya bisa kita penuhi dukungannya baik kesehatan, maupun
dukungan kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Lies Dwi
Oktaviani.

Kalau Lagi Isoman, Bagaimana Sebaiknya

Tika punya cerita sendiri bagaimana dia berhasil merawat orangtunya
melewati masa isoman. Masalah Tika sama dengan kebanyakan, memilih
isoman karena tidak dapat tempat di rumah sakit. Meski merawat
orangtuanya sendiri saat isoman, Tika tetap berkomunikasi dengan dokter
untuk mengetahui perkembangan isoman orangtuanya.

“Pisahkan
tidur keluarga yang positif dengan yang negatif. Menggunakan masker
double baik pasien yang positif dan negatif,” cerita Tika kepada
INILAHCOM.

Tika juga tak lupa menggunakan sarung tangan saat
memberikan makan dan keperluan lainnya. Bagi Tika, vitamin tidak hanya
untuk yang positif, yang negatif juga minum vitamin dan makan gizi
seimbang terutama protein agar bisa menghalau virus.

“Semprot
disinfektan setiap saat minimal 30 menit sekali di setiap ruangan yang
digunakan orang yang positif,” ungkapnya. Penggunaan kamar mandi yang
berbeda menjadi penting saat tinggal bersama pasien isoman. Namun jika
hanya punya satu kamar mandi, maka disemprot usai digunakan orang yang
positif.  

Baca juga
Cegah KLB dan Wabah, Semua Anak Indonesia Diharap Ikuti BIAN 2022

Selain itu, penting untuk memisahkan peralatan
pribadi yang dipakai untuk pasien isoman agar tidak bercampur dengan
orang yang negatif Covid-19.”Gunakan sendal di dalam rumah. Ini untuk
mencegah penularan juga. Baik yang positif maupun yang negatif,”
katanya.

Nafas Memburuk Saat Isoman, Ikuti Cara Ini

Cara sederhana yang bisa dilakukan saat pasien isolasi mandiri di rumah
adalah teknik proning. Teknik pernapasan ini, pasien harus dalam posisi
berbaring tengkurap untuk membantu meningkatkan saturasi oksigen.

Mengutip dari akun resmi instagram @kemenkes_ri, ketika saturasi
oksigen semakin turun, beberapa cara bisa dilakukan dengan proning.

Posisi 1: Berbaring di atas perut durasi 30 menit.

Posisikan kepala lebih rendah dari tubuh, tahan dengen satu bantal di bawah talang leher.

Bantal kedua, di atas area pelvis (pastikan perut memiliki cukup ruang untuk dilewati 1 tangan).

Bantal ketiga di bawah kaki.

Posisi 2: Duduk, dengan durasi 30 menit.

Bersandar dengan posisi punggung miring.

Posisi 3: Berbaring ke sisi kanan dengan durasi 30 menit.

Letakkan satu bantal di bawah kepala.

Kemudian letakkan bantal kedua di antara pinggang.

Setelah itu, letakkan bantal ke tiga di antara kaki.

Jagalah agar terus beralih di antara tiga posisi ini setiap 30 menit.
Buat diri Anda senyaman mungkin. Pastikan juga ruangan memiliki
ventilasi yang baik dan usahakan menghirup udara segar sebanyak mungkin.
[rok]

Tinggalkan Komentar