Rabu, 08 Februari 2023
17 Rajab 1444

Jangan Sombong, Di Atas Langit Masih ada Langit!

Selasa, 27 Sep 2022 - 19:01 WIB
Hand Of Muslim People Praying With Mosque Interior Background - inilah.com
Foto: istock

“…Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada yang maha mengetahui…” (QS. Yusuf [12]: 76)

Imam Hasan al-Bashri ketika memaknai maksud ayat ini, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa tiadalah orang alim, kecuali di atasnya ada orang alim lainnya, hingga ilmu itu terhenti kepada Allah Swt.

“Di atas langit masih ada langit”. Mungkin inilah ungkapan yang tepat untuk memaknai rangkaian ayat di atas. Secara lebih luas, makna ayat ke-76 dari surat Yusuf tersebut adalah bahwa apapun kelebihan yang dimiliki seseorang; ilmu, harta, prestasi, kedudukan dan sebagainya, di luar sana masih ada yang lebih lagi dari dia.

Ketika ada orang yang memiliki ilmu pengetahuan begitu luas di suatu tempat, maka pasti ada orang lain yang lebih luas dan dalam ilmu pengetahuannya di tempat lain. Ketika ada orang kaya dengan harta melimpah di suatu daerah atau bahkan negara, pasti ada orang lain yang lebih kaya dengan harta yang lebih melimpah ruah di daerah atau negara lain.

Baca juga
Kisah Akhlak Para Wali: Saling Memuliakan

Ketika ada orang yang memiliki kekuatan luar biasa di suatu benua, pasti ada orang lain yang lebih kuat dengan kemampuan fisik yang jauh lebih hebat dari orang tersebut di benua lainnya. Inilah alasan kenapa rekor-rekor dunia selalu terpecahkan. Karena ada rekor-rekor baru yang lebih baik dari rekor sebelumnya. Ini sudah menjadi sunnatullah (hukum Allah). Kelebihan apapun yang kita miliki bukanlah untuk dibanggakan apalagi disombongkan. Alquran banyak memberikan pelajaran berharga tentang hal ini.

Kita tentu ingat tentang kisah Nabi Musa as, dengan Nabi Khidir as yang diabadikan dalam Alquran. Betapa Nabi Musa as., yang merasa dirinya paling pintar di antara kaumnya, ditegur oleh Allah dengan cara dipertemukan dengan Nabi Khidir as. Dan ternyata, Nabi Musa as tidak dapat mengikuti jalan pikiran Nabi Khidir as. Sampai akhirnya Nabi Khidir as sendiri memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan bersama Nabi Musa as kemudian menjelaskan semua peristiwa yang dilaluinya bersama.

Baca juga
Mewujudkan Khaer Ummah - (Bagian 2)

Kita juga tentu pernah mendengar kisah Nabi Sulaiman as yang dengan kekayaan yang dimilikinya memohon kepada Allah agar diizinkan untuk menjamu seluruh makhluk Allah yang ada di wilayah kekuasaannya selama satu hari. Setelah diizinkan Allah, kemudian beliau menyediakan makanan sebanyak-banyaknya untuk menjamu makhluk Allah tersebut.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa panjang makanan tersebut setara dengan jarak tempuh perjalanan selama dua bulan dengan menggunakan kuda pacuan. Lebar makanan pun setara dengan jarak tempuh perjalanan dua bulan dengan kuda pacuan.

Setelah merasa cukup, kemudian beliau memanggil makhluk-makhluk Allah yang ada di darat dan di laut. Saat itu, Allah memerintahkan kepada seekor ikan bernama Nun untuk mulai menyantap hidangan yang disediakan oleh Nabi Sulaiman as. Tidak disangka, seluruh hidangan yang disediakan itu habis tak tersisa sedikitpun setelah disantap oleh ikan tersebut dalam waktu yang sangat singkat. Saat itulah Nabi Sulaiman as., tersadar bahwa apa yang dimilikinya itu tidak ada artinya dibandingkan kekayaan yang dimiliki Allah Swt. Zat yang Mahakaya.

Baca juga
Memeluk Islam, Clarence Seedorf Tak Ingin Ganti Nama

Dari beberapa kisah tersebut, jelaslah bahwa semua yang kita miliki, baik berupa kekayaan, ilmu pengetahuan, prestasi, kedudukan dan jabatan, tidak patut kita banggakan apalagi kita sombongkan di hadapan orang lain. Karena “di atas langit masih ada langit”. Di atas semuanya, ada Allah Swt yang Maha segalanya. [Didi Junaidi, Qur’anic Inspiration]

Tinggalkan Komentar