Minggu, 29 Mei 2022
28 Syawal 1443

Januari 2022, BI Catat Pembiayaan Korporasi Cukup Tinggi Berasal dari Utang

BI Catat Pembiayaan Korporasi Cukup Tinggi Berasal dari Utang

Sepanjang Januari 2022, Bank Indonesia (BI) mencatat, permintaan pembiayaan korporasi masih tinggi dibanding bulan sebelumnya (month to month/mtm).

Hal tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada Januari 2022 turun 13,1 persen dibandingkan Desember 2021 sebesar 17,4 persen.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan, perlambatan permintaan terutama untuk pembiayaan yang bersumber dari dana sendiri dan pembiayaan dari pinjaman atau kredit baru perbankan dalam negeri. “Sementara itu, permintaan yang bersumber dari pinjaman/utang dari perusahaan induk terindikasi meningkat,” ujar Erwin, Kamis (17/2/2022).

Menurut dia, kebutuhan pembiayaan baru oleh rumah tangga terpantau masih terbatas pada Januari 2022. Mayoritas rumah tangga memilih Bank Umum sebagai sumber utama penambahan pembiayaan, dengan jenis pembiayaan yang diajukan mayoritas berupa Kredit Multi Guna. “Sementara itu, untuk keseluruhan periode triwulan I 2022, penyaluran kredit baru diprakirakan tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujarnya.

Baca juga
Tak Langgar Net Zero Emission, Pushep: Perbankan Boleh Biayai Indutri Batu Bara

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan terjadi pertumbuhan kredit di rentang 6,5%-8,5% pada 2022. Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok 5,2%. Salah satu indikator perkiraan tersebut adalah menurunnya angka restrukturisasi kredit menjadi Rp693,6 triliun pada 2021, jauh di bawah angka tertinggi Rp830,5 triliun pada 2020.

Dari jumlah restrukturisasi pada 2021 tersebut, telah dibentuk pencadangan sebesar 14,85%, atau sekitar Rp103 triliun. Tak hanya OJK, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) optimistis kredit akan tumbuh melesat ke level 5,1 persen sampai 8,9 persen.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2022 akan mencapai 6%-8%, sejalan pulihnya aktivitas ekonomi dari pandemi COVID-19. Artinya, tingginya pembiayaan korporasi bisa bermakna positif. Bahwa perekonomian terus bergerak. Bisa jadi semakin cepat. Semoga.

Baca juga
Kekayaannya Susut Rp177,3 Triliun/Bulan, Bos Baterai Listrik China Ini Bakal Cepat Miskin

 

 

Tinggalkan Komentar