Jasa Marga Kesusu Rakyat Buntung

Jasa Marga Kesusu Rakyat Buntung   - inilah.com

Tarif tol Jakarta-Surabaya mengalami kenaikan sebesar 4,41 persen atau dari Rp 691.500 menjadi Rp722.000. Kabarnya kebijakan itu diambil menyusul terjadi perubahan tarif di empat ruas Jalan Tol Trans Jawa yang dikelola oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan Waskita Toll Road.

Jasa Marga Terburu-buru

Langkah Jasa Marga mendefinisikan kebijakan dengan kenaikan tarif bertolak belakang dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat sekarang.  Situasi sedang ekonomi sedang tak menentu akibat pandemi Covid-19. Ada efek domino yang lain. Seperti sektor transportasi.

Andaikan membawa barang untuk dijual dari Surabaya ke Jakarta begitu juga sebaliknya  biaya tol mahal. Agar untung tidak buntung biayanya dibebankan kepada konsumen. Jadi secara otomatis konsumen meski membeli barang yang diproduksi itu dengan tambahan biaya.

Baca juga  Pemerintah Tetapkan Hari Libur Nasional 2022 Sebanyak 16 Hari

“Seharusnya Jasa Marga tidak buru-buru. Jadi alasannya tidak tepat,” kata Ketua Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan kepada Inilah.com, Jumat (20/8/2021).

Tarif Tol Naik Rakyat Kena Lagi Dampaknya



Pengamat sosial Musni Umar mengatakan BUMN ditugaskan pemerintah membangunan tol dan jalan. Dalam prosesnya bila BUMN tidak mendapat bayaran dari pemerintah maka terpaksa utang. Bila jumlahnya sudah semakin membekak sampai kesulitan membayar. Jalan keluar mengatasinya BUMN melakukan reinvestment atau reinvestasi sehingga dampaknya tarif secara otomatis mengalami kenaikan.
 
“Tetapi yang sekarang ini yang membangun itu bukan perusahaan-perusahaan BUMN. Sudah kelilit utang maka bagaimana solusinya? Terpaksa mereka jual,” urai Musni kepada inilah.com.

Baca juga  173.329 Guru Honorer Lulus PPPK Tahap I, Nadiem: Terbesar dan Bersejarah

Rektor Universitas Ibnu Chaldun itu menekankan solusi dengan melakukan reiinvestasi untuk mengurangi beban tepat bagi BUMN. Tetapi petaka bagi rakyat.
Alasannya perusahaan swasta yang membeli tidak mau rugi. Mereka juga mengejar agar uang cepat kembali. Akhirnya tarif tol dinaikan. Rakyat lagi terkena dampaknya.

“BUMN menanggung derita ini, padahal BUMN juga milik pemerintah. Nah kalau dia kesulitan pemerintah juga turun tangan. Uang ambil darimana? utang lagi. Jadi ini udah kayak lingkaran setan yang enggak ada habisnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar