Kamis, 11 Agustus 2022
13 Muharram 1444

Jepang Laporkan Hari Terpanas di Bulan Juni

Minggu, 26 Jun 2022 - 04:32 WIB
Jepang Juni
(foto: BBC)

Sebuah kota di bagian timur Jepang mencatat temperatur tertinggi negara tersebut untuk hari di bulan Juni pada Sabtu (25/6/2022), mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, menurut biro cuaca.

Gelombang panas, yang diperkirakan Badan Meteorologi Jepang (JMA) akan terus berlangsung selama musim panas, tiba bertepatan dengan seruan pemerintah bagi rumah-rumah tangga dan usaha-usaha untuk menghemat listrik guna menghindari kemungkinan adanya krisis energi hingga September.

Sebuah stasiun cuaca mencatat temperatur setinggi 40,2 derajat Celcius pada Sabtu siang di Isesaki, sebuah kota yang terletak 85 kilometer ke arah barat laut dari Tokyo, menurut JMA.

Baca juga
Kunjungi Menteri Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, Menteri Basuki Perkuat Kerjasama

Angka tersebut memecah rekor sebelumnya dari hari terpanas Jepang di bulan Juni dengan temperatur yang mencapai 39,8 derajat yang dicatat pada 24 Juni 2011.

“Antisiklon yang kuat dari Pasifik, ditambah dengan cuaca tak berawan, membawa hawa panas,” kata seorang pejabat JMA.

Stasiun cuaca lain di pusat Tokyo mencatat suhu 35,4 derajat Celcius pada hari sebelumnya, menandai ketibaan paling awal sejak pencatatan dimulai pada tahun 1875 dengan suhu di atas 35 derajat Celcius di ibu kota, yang dianggap panas sebagai ekstrem di Jepang.

Pada hari Sabtu, JMA dan kementerian lingkungan mengeluarkan peringatan terkait serangan panas di enam dari 47 prefektur di negara itu. Mereka pun merekomendasikan orang-orang untuk tetap berada di dalam ruangan dan menggunakan pendingin ruangan.

Dalam ramalan cuaca tiga bulan terbaru yang dirilis minggu ini, JMA mengatakan musim panas ini akan lebih panas daripada tahun-tahun biasa di Jepang utara, timur dan barat, karena faktor-faktor seperti pemanasan global dan La Nina.

Baca juga
Toyota Luncurkan Noah dan Voxy Generasi Terbaru di Jepang

Perkiraan tersebut menambah kekhawatiran bagi negara tersebut, yang menghadapi pasokan energi yang lebih ketat karena lambatnya pemulaian kembali tenaga nuklir, penutupan pembangkit listrik termal dan risiko geopolitik yang meningkat setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Tinggalkan Komentar