Jika Terjadi Gelombang 3, Ini Cara Antisipasi Varian Mu

Jika Terjadi Gelombang 3, Ini Cara Antisipasi Varian Mu  - inilah.com
istimewa

Varian Mu terus terdengar kabarnya meski hingga kini belum ditemukan mutasi jenis baru dari covid-19 itu di Indonesia.

Guru Besar Falkutas Kedokteran UI Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan seperti virus lainnya, covid-19 juga memungkinkan muncul mutasi dan varian baru dari waktu ke waktu.
 
Lembaga kesehatan dunia, WHO memang sudah memasukkan varian Mu dalam kelompok Variant of Interest (VOI) sejak 30 Agustus 2021 yang lalu.

“Kalau bukti-bukti ilmiahnya sudah lebih jelas maka mungkin saja varian yang tergolong VOI dapat saja seakan-akan naik kelas menjadi Variant of Concern (VOC) yg tentu perlu perhatian lebih mendalam lagi, walau mungkin juga tetap sebagai VOI saja,” kata Tjandra lewat pesan singkatnya kepada INILAHCOM, Jakarta, Selasa, (14/09/2021).

Varian Delta yang sekarang menjadi salah satu varian dominan di banyak negara (termasuk Indonesia) juga awalnya dikategorikan sebagai VOI dan kemudian masuk dalam kelompok VOC dengan berbagai masalahnya hingga kini.

“Selain VOC dan VOI maka WHO belakangan juga mengidentifikasi varian-varian lain yang bukti ilmiahnya masih sangat awal dan perlu pengamatan lebih lanjut, yang disebut sebagai currently designated Alert for Further Monitoring, dimana salah satunya adalah varian yang bermula dari negara kita, yaitu B.1.466.2 yang disebutkan bahwa sampel mulai didokumentasikan pada bulan November 2020 serta mulai dimasukkan sebagai Alert for Further Monitoring pada 28 April 2021,” tambahnya.
 
Setidaknya ada lima hal yang dapat dan perlu dilakukan untuk antisipasi varian Mu atau varian baru lain yang mungkin datang. Berikut adalah rinciannya:
 
1. Upaya terus menerus untuk meningkatkan jumlah pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) di Indonesia, untuk menemukan kalau-kalau sudah ada berbegau jenis varian baru di negara kita.

Baca juga  Tips Halau Obesitas Agar Tidak Terkena COVID-19

Data sampai 11 September 2021 di GISAID yang mengumpulkan genome seluruh dunia menunjukkan bahwa Indonesia sudah memeriksa dan memasukkan data 6.035  genome, Singapura lebih banyak yaitu 6.807 genome, India bahkan sudah memeriksa dan memasukkan 46.375 genome, hampir delapan kali lebih banyak dari negara kita.

“Yang paling banyak memeriksa dan mengumpulkan genome di dunia adalah Inggris sebanyak  811.630 dan Amerika Serikat yang sudah hampir sejuta genome, tepatnya 931.373 genome,” paparnya.
 
2. Selalu melakukan pembatasan sosial yg memadai, baik dalam tingkat perorangan yaitu 3M atau 5M maupun kebijakan pemerintah seperti PPKM dan lainnya. 

“Kita tahu bahwa pembatasan sosial merupakan faktor penting untuk mengurangi kemungkinan penularan, dan kita tahu juga bahwa kalau ada penularan dimasyarakat yang luas maka virus akan terus berreplikasi yang malahan mungkin menimbulkan terjadinya mutasi dan varian baru,” tambahnya.
 
3. Agar terus meningkatkan jumlah tes dan telusur agar kasus positif dapat terdeteksi, ditangani dan diisolasi atau dikarantina sehingga memutus rantai penularan.

Baca juga  Kasus Aktif Covid-19 Turun, Jangan Euforia Tetap Waspada

Dengan jumlah tes dan telusur yang jumlahnya memadai seperti yang sudah ditargetkan (400 ribu tes sehari dan telusur 15 orang dari setiap kasus positif yang sayangnya sampai sekarang belum tercapai) maka akan dapat terdeteksi lebih banyak kasus positif di masyarakat, termasuk kalau-kalau sudah ada penularan akibat varian Mu atau varian baru lainnya.
 
4. Terus meningkatkan cakupan vaksinasi. Data sampai 11 September 2021 menunjukkan baru 19,94 persen cakupan vaksinasi yang lengkap sampai dosis ke dua, dengan 41.534.340 dosis.

Memang sudah ada 34,69 persen yang sudah mendapat suntikan satu kali dengan 72.248.720 dosis, tetapi kan vaksin ini diteliti, diproduksi dan diberikan izinnya untuk dua kali suntikan, jadi harus dapat dua dosis barulah efek proteksinya memadai. 

Perlu ditekankan juga bahwa per data 11 September 2021 maka baru ada 18,61 persen.

Baca juga  Semenjak Pandemi Digital Menjadi Suatu Keharusan

“Lansia kita yang dapat vaksin lengkap dua kali, artinya masih lebih dari 80 persen Lansia kita belum mendapat proteksi memadai, padahal Lansia adalah kelompok dengan risiko tinggi tertular serta penyakitnya menjadi berat dan bahkan kematian,” katanya.
 
5. Hal yang banyak dibahas adalah tentang kunjungan dari luar negeri. Dalam hal ini maka memang harus diawasi dengan ketat, setidaknya dalam dua periode.

“Kalau ada warga datang dari luar negeri, apalagi dari negara yang sudah melaporkan ada varian Mu, maka pada mereka harus dilakukan karantina dan pemeriksaan PCR untuk tahu positif atau tidak. Lamanya hari karantina tidak boleh terlalu singkat, setidaknya satu atau dua kali masa inkubasi,” ujarnya.

Pengawasan tidak hanya berhenti dengan karantina saja tetapi juga pada periode ke dua yaitu beberapa minggu sesudah selesai karantina dan mereka  sudah ada di hotel, atau di rumah, atau di tempat kerja dan atau berbaur di masyarakat luas.

“Untuk semuanya, kalau ada situasi-situasi yang mencurigakan maka perlu segera dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) untuk mendeteksi kemungkinan adanya varian baru, termasuk varian Mu ini,” katanya.  

Tinggalkan Komentar