Senin, 05 Desember 2022
11 Jumadil Awwal 1444

Jika yang Salah Perusuh, Mengapa Menembak ke Arah Tribun?

Senin, 03 Okt 2022 - 07:16 WIB
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan seusai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022). (Foto: Antara)
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan seusai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022). (Foto: Antara)

Sejak menulis artikel ‘Gas Air Mata Pencabut Nyawa’ (2/10/2022) di inilah.com, saya mendapatkan ratusan komentar yang menyebut bahwa Polisi tidak salah menembakkan gas air mata pada tragedi di stadion Kanjuruhan, Malang, karena sudah sesuai prosedur. Komentar ini terasa dimobilisasi. Mereka menyebut bahwa suporter Arema FC berbuat anarkis sehingga penembakan gas air mata harus dilakukan oleh aparat.

“Tidak ada asap kalau tidak ada api,” katanya. “Kalau gas air mata melanggar aturan FIFA, berbuat rusuh di lapangan tentu lebih melanggar lagi,” tulis mereka. Entah dari mana para komentator ini berdatangan. Narasi ‘kerusuhan’ antar suporter sebenarnya tidak masuk akal karena faktanya yang diperbolehkan menonton pertandingan Arema FC melawan Persebaya itu hanya pendukung tuan rumah saja, suporter Persebaya sama sekali dilarang datang ke stadion. Mungkinkah mereka baku hantam dengan teman sendiri? Yang benar saja! Yang benar adalah tidak ada asap kalau tidak ada penembakan gas air mata.

Ada sebuah video yang diunggah RCBFM Channel di Youtube, durasinya 12 menit 55 detik, sampai saat ini sudah ditonton lebih dari 5,3 juta kali. Di video itu jelas terlihat detik demi detik bagaimana chaos terjadi di stadion Kanjuruhan. Setelah pertandingan usai, seluruh pemain dan ofisial Persebaya sudah masuk ke ruang ganti. Di lapangan hanya tinggal pemain dan ofisial Arema FC yang terlihat sedang meminta maaf ke hadapan para penonton.

Pada momen itu, terlihat 1-2 ‘pitch invader’ yang masuk ke lapangan. Apakah mereka berbuat anarkis? Tampaknya mereka hanya menyampaikan keluh kesah dan kekecewaan saja kepada para pemain. Satu orang dikejar petugas, tetapi meloloskan diri dan berlari-lari di area dekat gawang sambil mengibarkan ‘jersey’ Arema. Kemudian tampak beberapa yang lain ikut memasuki lapangan. Petugas mulai kewalahan membendung mereka masuk dan memadati lapangan.

Apakah ini situasi yang berbahaya? Sejauh yang kita bisa tonton, sepertinya tidak. Beberapa orang tampak ingin bersalaman dan memeluk pemain, di antaranya kiper Arema FC, Adilson Maringa. Beberapa yang lain tampak hanya bersorak sorai saja penuh euforia. Narasi yang mengatakan bahwa suporter Arema berusaha menyerang pemain Persebaya di lapangan sama sekali tak beralasan, karena seluruh pemain tim lawan sudah di ruang ganti. Kalau para pendukung dianggap membahayakan pemain Arema FC, mungkinkah mereka mencelakakan para pemain tim kesayangan mereka sendiri? Kecil kemungkinannya.

Baca juga
Konsorsium 303 Jadi Bom Waktu, Publik Tunggu Ketegasan Jokowi

Di dunia sepak bola sebenarnya situasi ini hal yang biasa terjadi. Usai pertandingan penonton memadati lapangan merupakan hal yang lumrah. Dikenal dengan istilah ‘pitch invasion’. Pada tahun 2008, ribuan fans Stoke City FC memadati Britannia Stadium setelah tim itu dinyatakan lolos ke Premier League, tak ada satu pun korban yang jatuh. Desember 2021, para pendukung Malmo FC, Swedia, menyerbu lapangan dan merangsek kepada para pemain sambil membawa kembang api. Surat kabar The Sun menarasikannya dengan dramatis: “Crazy moment thousands of Malmo fans storm pitch and mob players with flares and fireworks…” Tapi, tidak ada tragedi, apalagi korban jiwa.

Situasi ‘pitch invasion’ di Kanjuruhan Malang memang berbeda karena tim Arema FC dalam keadaan kalah. Mungkin penonton memang emosional dan kecewa. Alasan mereka masuk ke lapangan? “Paling njaluk kaos,” celetuk seorang penonton di video RCBFM. Tapi situasi memburuk sebenarnya karena tindakan represif Polisi dan TNI yang berusaha memukul mereka mundur. Di sinilah chaos mulai terjadi. Mulai menit ke-4 di video itu bisa terlihat bagaimana situasi bereskalasi setelah aparat melakukan tindakan fisik. Kemudian flare menyala di dekat pintu masuk ke ruang ganti.

Dari sana, situasi berubah. Keadaan makin mencekam. Polisi dan tentara tampak makin galak mengamankan penonton. Tak pelak terjadi kericuhan, karena beberapa orang melawan. Situasi makin chaos ketika pasukan pengaman terlihat mulai bertambah di lapangan, membawa tameng dan pentungan. Seorang penonton terlihat terkapar tapi tetap dipukul dengan pentungan. Pada menit 6:52 mulai terdengar suara letusan tembakan. Suasana menjadi semakin panik. Pada menit ke-57, terlihat polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun selatan. Api terpercik. Asap mengepul tebal. Penonton di tribun berhamburan.

Sampai di sini, sulit bagi saya untuk menggambarkan apa yang terjadi. Berat rasanya membayangkan bagaimana situasi di tribun saat gas air mata tertembak ke sana. Mereka berlarian di sela-sela kursi penonton, pasti ada yang terjatuh dan cedera. Sementara mata perih dan keadaan gelap. Dada mendadak sesak. Semua mencari pintu keluar.

Baca juga
Hujan, Pendemo Anti Anies di KPK Bubar

Memang benar apa yang dikatakan Kapolda Jatim Nico Afinta dan Menkopolhukam Mahfud MD, rata-rata korban meninggal berada di area pintu keluar. Keadaannya sangat memprihatinkan. Mereka pingsan dan terinjak-injak oleh orang yang berjejalan berusaha keluar. Sejumlah saksi melaporkan bahwa mayat-mayat bergelimpangan, beberapa perempuan dan anak-anak, mata mereka sembab.

Jadi, apakah mereka korban kerusuhan antar suporter? Apakah mereka korban dari penonton yang anarkis? Atau mereka lebih cocok jadi korban gas air mata petugas? Silakan Anda jawab sendiri. Saat ini pemerintah sedang membentuk tim investigasi untuk mengusut tuntas tragedi ini. Tapi sayang, menurut beberapa sumber berita, ketua tim investigasi saat ini adalah Ketua Umum PSSI Iwan Bule yang merupakan mantan perwira tinggi Polri, mantan Kadiv Propam Polri dan Kapolda Metro Jaya. Seharusnya tim investigasi terdiri dari orang-orang independen, dipimpin bukan oleh pihak yang terkait kebutuhan investigasi ini, termasuk PSSI.

Sebenarnya, hal paling penting bukan mencari siapa yang salah. Tetapi apa yang salah. Kita tahu semua pihak dalam tragedi ini memiliki porsi kesalahannya masing-masing, suporter, klub, panpel, PT LIB, PSSI, Polisi, TNI, dan mungkin juga pemerintah daerah. Kita tidak sedang berusaha menyalahkan salah satu pihak saja. Tapi harus ditemukan apa kesalahan yang paling fatal? Sehingga setelah terjelaskan ‘apa yang salah’, jelas pula ‘siapa yang harus bertanggung jawab’.

“Coba lihat video suporter Arema menyerang pemain dan ofisial Persebaya bahkan di dalam rantis barracuda. Ada videonya.” Pesan seorang komentator yang lain. Memang ada fakta bahwa suporter menyerang kendaraan taktis yang digunakan para pemain Persebaya, tetapi kejadian itu rasanya setelah semua chaos terjadi di stadion. Setelah jatuh para korban jiwa dari pendukung Arema.

Kita menunggu semua pihak yang terlibat melaksanakan perintah Presiden dan desakan masyarakat Indonesia untuk mengusut tuntas kasus ini. “Saya telah perintahkan kepada Menpora, Kapolri dan Ketua Umum PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepak bola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraannya.” Pesan Presiden, Minggu (2/10/2022), dalam siaran video.

Baca juga
Produk Kosmetik hingga Klub Sepak Bola, Inilah Sumber Kekayaan Gilang Juragan 99

Seraya menunggu semua itu, kita berharap ada yang secara ‘gentleman’ mengambil tanggung jawab moral. Bukan merasa tidak bersalah dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Polisi merasa sudah melaksanakan tugas sebagaimana mestinya, bahkan mengirim surat kepada panpel, seolah menyalahkan klub dan panitia. Panitia menyalahkan stasiun TV dan PSSI. Dan PSSI memberi sanksi kepada Arema FC sambil menunjuk hidung panitia lokal. Kapolri, Kapolda, Ketua Umum PSSI, Dirut PT LIB, Presiden Arema FC, semua tak ada mengundurkan diri. Yang mengundurkan diri justru komentator Liga 1 Radot Valentino ‘Jebret’ Simanjuntak.

Mari kita bersama mengheningkan cipta, memberikan doa yang terbaik untuk para korban meninggal, sambil membayangkan apa yang dilihat pemain depan Arema FC Abel Camara, “Kami menampung orang-orang yang terkena gas air mata di dalam ruang ganti. Mereka meninggal tepat di depan kami. Ada sekitar 7-8 orang meninggal di ruang ganti.” Duh, Gusti.

Ah, sepak bola memang tak pernah setara dengan nyawa. 5-10 tahun dari hari ini, tentu stadion-stadion akan ramai lagi. Industri sepak bola Indonesia akan bangkit dan mulai melupakan peristiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang. Jika saat itu tiba, mungkin rasa kita tentang sepak bola tidak sesedih hari ini. Tapi, pada saat itu, pasti ada hati seorang ibu yang masih terluka, ia membenci sepak bola untuk selama-lamanya, karena telah merenggut buah hatinya.

Pak, tidak apa-apa tidak mau disalahkan tentang gas air mata. Tapi jangan salahkan 125 korban meninggal yang mungkin tidak bersalah itu. Sebagian dari mereka hanya duduk di tribun, mungkin lansia, perempuan dan anak-anak. Jika yang salah perusuh, mengapa Bapak menembak ke arah tribun?

FAHD PAHDEPIE Penulis, CEO inilah.com

Tinggalkan Komentar