Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Jokowi Banggakan Ekonomi Malut 27 Persen, China Untung Besar

Senin, 05 Des 2022 - 08:18 WIB
Presiden Jokowi berikan sambutan dalam Rakornas Investasi 2022, di The Ritz-Carlton Jakarta, Provinsi DKI Jakarta, 30 November 2022. (Foto: MNCTrijaya.com).

Presiden Jokowi membanggakan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara (Malut) yang tembus 27 persen. Tetapi semu, karena masih banyak rakyatnya yang miskin. Yang untung besar tetap saja China.

Dikutip dari akun twitter @panca66, Jakarta, Senin (5/12/2022), tersemat video Presiden Jokowi tengah memberi sambutan dalam acara Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi 2022, di The Ritz-Carlton Jakarta, 30 November 2022.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyebut perekonomian di Provinsi Maluku Utara (Malut) layak dicontoh. Karena, pertumbuhan ekonominya tembus dua digit, tepatnya 27 persen. “Tertinggi di dunia. Enggak ada di dunia manapun yang pertumbuhan ekonomi ‘sampek’ 27 persen,” terang Jokowi.

Tak berhenti di situ. Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini, kembali membanggakan rendahnya inflasi di Kota Ternate. “Yang bagus lagi, saya cek ke pasar Ternate, saya cek ke Bank Indonesia (BI), inflasinya hanya 3,3 persen,” ungkap Jokowi.

Baca juga
Hanya Ganjar yang Berambut Putih, Jokowi Beri Dukungan karena Mudah Dikendalikan

Selanjutnya, Jokowi berpesan agar capaian Malut dan Kota Ternate dipertahankan, kalau bisa ditingkatkan ke arah yang lebih baik lagi. Jangan sebaliknya, usai dipuji presiden justru rontok semuanya.

“Yang bener terus dipertahankan, ditingkatkan lebih baik lagi. Kalau saya puji-puji, bisa kesenangan lalu lupa. Tahu-tahu melorot menjadi 5 persen. Hati-hati, 27 persen itu enggak ada di seluruh dunia yang memiliki pertumbuhan ekonomi setinggi itu,” ungkap Jokowi.

Setelah itu, seorang yang dalam caption tertulis ekonom Maluku Utara, Dr Mukhtar A Adam memberikan komentarnya. Dia menegaskan bahwa penikmat tingginya perekonomian di Maluku Utara, bukannya masyarakat daerah. Namun investor asal Tiongkok alias China. Karena, angka pertumbuhan ekonomi Malut sebesar 27 persen itu, tak lebih gambaran pertumbuhan industri pertambangan di Malut. “Ekonomi yang tinggi (27 persen), penikmatnya bukan rakyat Maluku. Angka 27 persen itu tumbuhnya pertambangan dan industri. Kami tidqak menikmati karena uangnya ke luar semua,” tuturnya.

Baca juga
Tak Sanggup Bayar Utang Rp4.500 Triliun, Bos Evergrande Nyaris Miskin

Selanjutnya, dia menyebut Tiongkok atau China yang paling beruntung. Kekayaan alam berupa bahan tambang asal Malut membuat pengusaha China kaya raya, sementara rakyat Maluku Utara tetap saja miskin. “Yang menikmati China. Dari investasi ekspor meningkat. Yang bergerak di Halmahera dalah sektor tambang,” tuturnya.

Dia pun mempertanyakan data BI yang merilis inflasi di Kota Ternate hanya 3,3 persen. “Pak presiden bisa cek juga, konsumsi rumah tangga kami cuma 2,1 persen. Bahkan konsumsi kuartal III minus nol koma sekian,” ungkapnya.

Bisa jadi, selama ini, Provinsi Malut lah yang berkontribusi terhadap majunya perekonomian China. Kekayaan alam yang dikuras China membuat negeri itu menjelma menjadi negara berekonomi kuat. Sementara rakyat Malut hanya kebagian sisa. Karena, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi masih menjulang di Malut.

Tinggalkan Komentar