Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Jokowi: Indonesia Bisa Rusuh jika Dulu Terapkan “Lockdown”, Saya Semedi Tiga Hari

Kamis, 26 Jan 2023 - 12:29 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi menyampaikan sambutan saat membuka Rapat Koordinasi Transisi Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) di Gedung AA Maramis, Kompleks Kemenkeu, Jakarta, Kamis (26/1/2023). (Foto: Antara/Gilang Galiartha)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia bisa dilanda kerusuhan jika pemerintah pada masa awal pandemi COVID-19 menerapkan kebijakan karantina wilayah secara menyeluruh atau lockdown.

Jokowi mengaku pemerintah telah melakukan perhitungan bahwa apabila lockdown diberlakukan dalam jangka waktu 2-3 pekan masyarakat akan tertutup sama sekali peluang untuk mencari nafkah.

“Coba saat itu misalnya kita putuskan lockdown. Hitungan saya dalam dua atau tiga minggu, rakyat sudah enggak bisa, enggak memiliki peluang yang kecil untuk mencari nafkah. Semuanya ditutup, negara tidak bisa memberikan bantuan kepada rakyat, apa yang terjadi? Rakyat pasti rusuh,” kata Jokowi  saat membuka Rakornas Transisi Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) di Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (26/1/2023).

Baca juga
Larangan Ekspor Batubara Plin-plan, Belum Jalan Sudah Dicabut

Jokowi mengaku bahwa potensi kerusuhan akibat tekanan keadaan tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi dirinya dan jajaran pemerintah apakah akan menerapkan lockdown untuk pola penanganan pandemi COVID-19.  “Saya semedi tiga hari untuk memutuskan apa ini, apakah kita harus lockdown atau tidak,” ujar Jokowi sembari berkelakar.

Jokowi juga menyampaikan bahwa sebetulnya mayoritas menteri Kabinet Indonesia Maju pada masa awal pandemi COVID-19 menyarankan untuk penerapan lockdown.

Sikap tersebut bisa dipahami Jokowi berdasarkan tren pola antisipasi pandemi COVID-19 di beberapa negara lain. “Pada saat memutuskan lockdown atau enggak lockdown, rapat menteri 80 persen (bilang) ‘Pak lockdown‘, karena semua negara memang melakukan itu,” katanya.

Baca juga
'Dipelintir' Media Barat Masuk RS, Menlu Rusia Hadir di Pembukaan KTT G20

Lebih lanjut, sikap permintaan lockdown juga ditunjukkan kalangan legislator di DPR serta juga suara-suara di jajaran partai politik.

Jokowi menyebut tekanan semacam itu diiringi ancaman krisis berpotensi membuat seorang pembuat keputusan keliru dalam mengambil kebijakan.

Akan tetapi, Jokowi justru mengapresiasi bahwa mayoritas jajaran pemerintah Indonesia baik dari pusat hingga tingkat desa semuanya menjalankan manajemen makro hingga mikro yang efektif untuk mengatasi pandemi COVID-19.

“Manajemen makro dan mikro yang kita lakukan betul-betul sangat efektif, dan saya melihat semuanya kita ini bekerja karena tertekan oleh persoalan, tertekan oleh masalah. Semuanya bekerja,” ujar Jokowi.

Tinggalkan Komentar