Minggu, 26 Juni 2022
26 Dzul Qa'dah 1443

Jokowi Jangan Hanya Bisa Curhat Subsidi BBM Bengkak, Pengamat UGM Usulkan 3 Solusi

Selasa, 21 Jun 2022 - 22:43 WIB
Jokowi Jangan Hanya Curhat Subsidi Bengkak, Pengamat Usul 3 Solusi
Presdien Jokowi beri sambutan di Rakernas II PDIP. (Sumber: Viva).

Dalam Rakernas II PDIP, Presiden Jokowi mengeluhkan beratnya subsidi energi yang bengkak hingga Rp502 triliun. Duit ini seharusnya berguna untuk membangun IKN Nusantara.

Menurut pengamat ekonomi energi UGM, Fahmy Radhi, Presiden Jokowi seharusnya curhatnya terkait subsidi dan kompensasi energi yang salah sasaran. Hingga detik ini masih terjadi tanpa ada keseriusan untuk menghentikannya.

“Yang ada hanya tataran wacana saja. Untuk menekan mengelembungnya subsidi dan kompensasi BBM akibat salah sasaran, enggak ada. Padahal mudah kok,” papar Fahmy kepada Inilah.com, Jakarta, Selasa (21/6/2022).

Selanjutnya Fahmy menawarkan sejumlah langkah yang bisa menjadi solusinya. Pertama, penetapan harga Pertamax dan Pertamax diserahkan saja kepada Pertamina, sesuai keekonomian. “Sehingga negara tidak perlu pusing karena harus membayar kompensasi. Akibat adanya perbedaan harga,” ungkapnya.

Baca juga
Jokowi ke Timnas Indonesia: Kalian Sudah Berjuang dengan Gigih

Kedua, lanjut Fahmy, pemerintah menetapkan pembatasan penggunaan Pertalite dan Solar dengan kriteria sederhana. Tetapkan saja bahwa pengguna Pertalite dan Solar hanya untuk sepeda motor dan angkutan.

“Ketiga, hapus BBM RON 88 yakni Premium. Alasannya, kendati penggunaan Premium sudah dibatasai hanya diluar Jamali, namun impor dan subsidi contents Premium masih cukup besar, yang juga menambah beban APBN,” tuturnya.

Ketiga langkah tersebut, menurut mantan anggota tim reformasi tata kelola migas, lebih bermakna ketimbang hanya sekedar curhat. “Ketimbang mencurhatkan besaran subsidi BBM yang sudah given, akan lebih produktif bagi Jokowi untuk mengupayakan subsidi yang lebih tepat sasaran, sehingga mengurangi beban APBN,” pungkasnya.

Baca juga
Bukan Harga Bahan Pangan Saja Naik, Produk Plastik Ikut Mahal

Membengkaknya beban subsidi energi, lebih disebabkan meroketnya harga minyak dunia, yang menjadi variabel utama pembentuk harga BBM. Saat ini, harga minyak dunia mencapai US$105 per barel.

Sedangkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Oil (ICP) yang tersemat dalam APBN ditetapkan US$63 per barel. Nah, selisih ICP dengan harga minyak dunia itu, merupakan subsidi yang menjadi tanggungan APBN.

1

Tinggalkan Komentar