Jokowi Pidato COP 26 Deforestasi Menurun, Greenpeace Ungkap Sebaliknya

Jokowi Pidato COP 26 Deforestasi Menurun, Greenpeace Ungkap Sebaliknya - inilah.com
Presiden Jokowi Saat Pidato di Forum COP26

Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam perhelatan COP 26 di Glasgow, Senin (1/11/2021) terkait deforestasi, keberhasilan menurunkan angka kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga memutus ketergantungan terhadap energi kotor dinilai tak sesuai kenyataan.

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak membuka sederet data tentang klaim Presiden Jokowi terhadap komitmen Indonesia tentang iklim.

“Deforestasi di Indonesia justru meningkat dari yang sebelumnya 2,45 juta ha (2003-2011) menjadi 4,8 juta ha (2011-2019). Padahal Indonesia sudah berkomitmen untuk menekan laju deforestasi,” kata Leonard dalam keterangannya kepada Inilah.com, Kamis (4/11/2021).

Tren penurunan deforestasi dalam rentang 2019-2021, tidak lepas dari situasi sosial politik dan pandemi yang terjadi di Indonesia sehingga aktivitas pembukaan lahan terhambat.

Baca juga  Banjir di Sintang, WALHI Tunggu Tindakan Konkret Jokowi

“Selama hutan alam tersisa masih dibiarkan di dalam konsesi, deforestasi di masa depan akan tetap tinggi. Deforestasi di masa depan, akan semakin meningkat saat proyek food estate, salah satu proyek PSN dan PEN dijalankan. Akan ada jutaan hektar hutan alam yang akan hilang untuk pengembangan industrialisasi pangan ini,” ungkapnya.

Klaim Presiden Jokowi tentang penurunan kasus kebakaran hutan di Indonesia juga dibantah GreenPeace.”Penurunan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2020 jika dibandingkan 2019 yang mencapai 296.942 hektar ini adalah angka kebakaran yang luasnya setara dengan 4 kali luas DKI Jakarta,” ungkap Leo.

Penurunan ini juga disebabkan gangguan anomali fenomena La Nina bukan sepenuhnya hasil upaya langsung pemerintah. Pemerintah tidak boleh menganggap sepele angka tersebut, sebab ongkos sesungguhnya harus ditinjau dari masalah kesehatan masyarakat, biaya penanggulangan, kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan yang sangat besar.

Baca juga  Kominfo Temukan 1.991 Isu Hoaks Terkait COVID-19

Indonesia sulit berharap terbebas dari karhutla tahunan dalam waktu dekat, pasalnya pemerintah masih bersikap permisif memberi kelonggaran kepada industri menggarap lahan gambut.

Penelitian Greenpeace Indonesia terbaru mengungkapkan hampir sepertiga dari Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) di 7 provinsi prioritas restorasi gambut, berada pada level kritis yang disebabkan penggunaan lahan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan sawit skala besar.

Greenpeace memandang pidato Presiden Jokowi tidak memperlihatkan komitmen serius dan ambisius yang merupakan inisiatif pemerintah sendiri. Sebagai anggota G20 yang memegang presidensi G20 di 2022, Indonesia seharusnya bisa menjadi contoh bagi banyak negara berkembang untuk memutus ketergantungan terhadap energi kotor, mewujudkan nol deforestasi, serta tidak bergantung pada dukungan internasional.

Baca juga  Pigai Langganan Rasis Pendukung Jokowi

“Sebagai bagian dari 20 ekonomi terbesar di dunia, dan 10 negara pengemisi terbesar, seharusnya Indonesia memimpin dengan komitmen ambisius dan aksi nyata untuk dekarbonisasi ekonominya. Yaitu dengan berkomitmen untuk mencapai karbon netral pada 2050, menghentikan dominasi batubara pada sektor energi, dan tidak menggantungkan diri pada perdagangan karbon yang merupakan solusi palsu terhadap krisis iklim,” tandas Leonard Simanjuntak.

Tinggalkan Komentar