Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

Kabar Baik dari AS, Sri Mulyani Kini Bisa Tidur Nyenyak

Kamis, 11 Agu 2022 - 19:12 WIB
Kabar Baik dari AS, Sri Mulyani Kini Bisa Tidur Nyenyak
Gedung bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Ada kabar baik, potensi krisis global mereda setelah pemerintah AS berhasil menekuk inflasi dari 9,1 persen, turun ke level 8,5 persen.

Sukses AS menurunkan inflasi, naga-naganya bisa membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani tidur nyenyak. Diprediksikan, bank sentral AS (The Fed) tidak akan melanjutkan pengetatan likuiditas dengan mengerek naik suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR).

“Tekanan inflasi direspons (AS) dengan kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas,” ungkap Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (11/8/2022).

Inflasi AS sempat menyentuh level tertinggi yaitu 9,1%, jauh di atas rata-rata yaitu 1-2%. Berdasarkan data Badan Tenaga Kerja (BLS) AS, inflasi di negeri Paman Sam kini, sedikit turun ke level 8,5 persen. Sedangkan suku bunga acuan AS berada di level 2,25-2,50 persen, setelah ada penaikan beberapa waktu lalu.

Baca juga
Kebijakan Pengetatan Moneter AS Bayangi Penguatan Rupiah

Sejarah mencatat, ketika suku bunga acuan AS naik drastis, maka beberapa negara alami tekanan. Khususnya negara berkembang dan miskin yang alami ruang fiskal yang terbatas.

“Dengan peranan dolar AS lebih 60 persen di dunia, keputusan The Fed yang naik (suku bunga), akan menimbulkan imbas di outflow. Dalam 4 dekade terakhir, kenaikan suku bunga karena inflasi. Biasanya menimbulkan krisis di berbagai belahan dunia,” terang Sri Mulyani.

Ya, Sri Mulyani benar. Ketika inflasi tinggi, The Fed langsung mengerek naik suku bunga yang berdampak kepada mengeringnya likuiditas di sejumlah negara. Asal tahu saja, inflasi tinggi yang terjadi di dunia termasuk AS, akibat perang berlarutnya Rusia-Ukraina.

Baca juga
Sentimen Wall Street, Minyak, dan Omicron Buat IHSG tak Nyaman

Dinamika geopolitik memantik mahalnya harga bahan pangan serta energi. Belakangan, ekonomi Sri Langka dan Pakistan langsung kolapse. Di Benua Eropa, Inggris mengalami krisis energi. Sementara di Asia, perekonomian Singapura mengalami kontraksi hebat.

Meredanya inflasi di AS, juga menjadi concern Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Kondisi ini membuatnya bungah, lantaran tekanan ekonomi global menjadi agak landai.

“Alhamdulillah, Inflasi di AS sudah turun, ini tentunya menjadi sinyal baru bagi ekonomi dunia, sebab tekanan global akan semakin berkurang dan tentunya ini menjadi niscaya bagi kita untuk semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menko Airlangga, Kamis (11/8/2022).

Baca juga
Harga Emas Berkilau di Tengah Melambungnya Inflasi AS

Melihat perkembangan ini, Ketua Umum Partai Golkar ini, semakin yakin, perekonomian Indonesia semakin mantap di level 5,2 persen hingga akhir 2022.

“Oleh karena itu, lanjutnya, kami berterima kasih sekali kepada Amerika Serikat, inflasi sudah mulai agak turun sehingga tekanan Global sudah mulai ada relaksasi itupun mulai terlihat tidak semuanya gelap, tetapi lebih terang lagi,” ungkap Menko Airlangga.

Tinggalkan Komentar