Senin, 23 Mei 2022
22 Syawal 1443

Kala Omicron Picu Kelangkaan Tenaga Medis di Kanada

Tenaga Medis
(foto: CNN)

Selama setahun Aimee Earhart pernah menjadi perawat di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit yang sibuk di Toronto, Kanada.

Pekan lalu dia mengundurkan diri. Dia pindah kerja ke Florida, AS, dengan kontrak singkat sebelum berprofesi sebagai perawat pendamping perjalanan. Dia berharap profesi itu bisa menambah penghasilannya.

“Kami sangat sibuk sepanjang waktu,” kata Earhart mengenang pekerjaannya di Kanada. Dia mengaku rindu dengan rekan-rekan kerjanya di sana. Seandainya kondisinya lebih baik, mungkin dia tak pernah pindah dari tempat itu.

Pandemi COVID-19 dan varian Omicron yang sangat menular telah menyebabkan rumah-rumah sakit di Kanada kekurangan tenaga medis.

Wawancara dengan belasan petugas kesehatan, termasuk delapan perawat aktif dan sudah pensiun, menunjukkan bahwa sistem kesehatan tengah terhantam gelombang pandemi paling buruk.

Banyak staf rumah sakit jatuh sakit akibat kelelahan ketika pasien COVID-19 yang membutuhkan rawat inap terus berdatangan. Dua tahun bekerja tanpa henti telah menguras energi mereka.

Rumah-rumah sakit telah meminta staf mereka untuk tidak cuti atau mengambil kerja lembur.

Orang-orang Kanada bangga dengan sistem kesehatan publik di negara mereka. Namun, kata para kritikus, pemerintah gagal menambah investasi sehingga sektor itu rentan terhadap kondisi darurat yang berlangsung bertahun-tahun.

Jika petugas medis pergi dan tidak ada penggantinya –akibat minimnya pelatihan dan sertifikasi, batasan upah atau persepsi negatif terhadap profesi itu– sistem kesehatan akan terganggu.

Baca juga
Anies Senang Bisa Bantu KPK

Lowongan-lowongan kerja di sektor kesehatan dan pendampingan sosial Kanada meningkat 78,8 persen pada kuartal ketiga 2021 dibandingkan pada periode yang sama dua tahun sebelumnya.

Pemerintah Ontario, yang disorot karena membatasi gaji pekerja publik seperti perawat sebelum pandemi, mengatakan dalam pernyataan mereka menambah 6.700 tenaga kesehatan dan staf sejak awal pandemi. Mereka juga berencana menambah 6.000 orang lagi hingga Maret.

‘Saya tak bisa lagi memberikan apa pun’

Lindsay Peltsch tahu dia harus mundur ketika tak punya semangat lagi untuk memandikan pasien.

“Saya masih melakukannya tapi saya tak dapat kepuasan lagi,” kata dia. “Sepertinya remeh, tapi itu jadi masalah besar karena martabat menjadi bagian dari apa yang kita kerjakan.”

Peltsch bekerja selama 12 tahun sebagai perawat anak, 10 tahun di antaranya di SickKids, rumah sakit anak di Toronto. Hatinya tertambat pada profesi perawat, namun beban tugasnya menjadi terlalu besar, katanya.

Sif kerja dengan petugas lengkap menjadi barang langka. Salah satu shift terakhirnya di ruang gawat darurat (ICU) kekurangan 10 staf. Dia juga merasa profesi yang digelutinya kurang dihargai.

“Saya sampai pada titik di mana saya tak bisa lagi memberikan apa pun.”

Baca juga
Demokrat Sibuk Bangun Komunikasi Cari Rekan Koalisi

Juru bicara SickKids mengatakan rumah sakit itu ‘menghadapi kekurangan tenaga’ tapi tidak mengetahui tentang adanya shift di ICU yang kekurangan 10 perawat.

Praveen Nakesvaran dan ahli-ahli terapi pernapasan di RS Humber River telah mengambil alih peran perawat ketika mereka menangani pasien COVID-19 –memasangkan selang dan lainnya secara hati-hati ke tubuh pasien agar paru-paru mereka berfungsi dengan baik.

“Biasanya kami hanya berdiri di ujung ranjang: Memastikan selang itu aman,” kata Nakesvaran. “Sekarang kami juga melakukan tugas perawat.”

Suzi Laj, kepala ICU di rumah sakit itu, mengatakan dia paham bahwa moral telah menjadi isu bagi tenaga medis dan berusaha mengatasinya dengan cara apa pun, misalnya mengobrol atau mengundang staf kerohanian.

“Mereka berusaha menjaga diri mereka tetap penuh harapan dan memberi dukungan… tapi ketahanan mereka benar-benar pudar,” kata dia.

Para pakar kesehatan masyarakat mengatakan puncak Omicron di Kanada kemungkinan terjadi dalam waktu dekat, dan Ontario pekan lalu berencana untuk melonggarkan pembatasan. Namun saat ini, petugas kesehatan masih menghadapi kesulitan.

Sejumlah provinsi telah membuat ketentuan bagi petugas medis untuk segera kembali bekerja setelah hasil tes COVID-19 menunjukkan positif.

Ontario mengizinkan masuk perawat yang dilatih di luar negeri, yang kerap menghadapi kendala dan menunggu lama sebelum dibolehkan magang di Kanada, untuk mendapatkan pengalaman kerja di rumah sakit.

Baca juga
PPATK Sebut Ada ASN Transfer dan Belikan Rumah Pacarnya, Apakah Siwi Widi?

Sementara itu, Manitoba mengatakan mereka akan mengirim ratusan pasien untuk dirawat di Dakota Utara, AS, karena kapasitas rumah sakit sudah penuh.

‘Kami tak minta pekerjaan yang lebih mudah’

Ketika seorang perawat ICU di Montreal terkena laringitis parah selama bertugas, dia merasa bimbang antara tetap bekerja untuk membantu rekan-rekannya atau rehat di rumah sambil menunggu hasil tes COVID-19.

Perawat muda itu, yang minta namanya dirahasiakan saat wawancara dengan Reuters, mengatakan dia memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya karena rekan-rekan kerja dia sangat membutuhkan bantuannya.

“Benar-benar menimbulkan perasaan bersalah, lebih dari apa pun,” kata dia.

“Anda merasa seperti meninggalkan mereka yang bekerja dalam kondisi yang sangat sulit.”

Doris Grinspun, Presiden Asosiasi Perawat Terdaftar Ontario, menerima sejumlah panggilan telepon dari perawat di seluruh provinsi yang bertanya bagaimana mereka akan bertahan.

“Semua rumah sakit sedang berjuang,” kata Grinspun, yang menambahkan bahwa kalimat itu bisa diartikan sebagai ‘tidak aman’.

Ketika Peltsch berbicara dengan mantan rekan kerjanya, “mereka seperti bilang, ‘Jangan kembali’.”

“Orang-orang yang tadinya bertahan mulai ambruk,” kata dia.

“Kami tidak meminta pekerjaan yang lebih mudah. Kami ingin bisa mengerjakan tugas sulit yang kami geluti itu dengan aman.”

(Sumber: Reuters)

Tinggalkan Komentar