https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   04 September 2021 - 05:49 wib

Mengulas Perbedaan Antara Taliban, al-Qaeda, dan ISIS

Meskipun melakukan jihad, dalam arti perang suci, tiga kelompok ini memiliki ambisi, tujuan, dan metode yang berbeda.

Jihadis di seluruh dunia tengah merayakan keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan. Di Yaman dan sejumlah negara lain, mereka menyalakan kembang api; di Somalia mereka membagikan permen; di internet, kelompok-kelompok Islamis di Asia Selatan menyambut penarikan pasukan Barat dari negara itu sebagai kemenangan atas kekuatan militer Barat.

Dan saat ini, para pakar mengkhawatirkan kemunculan era baru jihadisme di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Ancaman terbesar datang dari kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan kelompok yang menyebut diri mereka sebagai Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) - yang melemah dalam beberapa tahun terakhir namun masih aktif.

Sebagai bagian dari kesepakatannya dengan AS, Taliban berjanji tidak akan menyembunyikan kelompok-kelompok ekstremis yang berniat melakukan serangan terhadap target di Barat. Namun, kelompok militan itu tetap menjalin hubungan dekat dengan al-Qaeda.

Adapun saingan al-Qaeda, ISIS, akan terdesak untuk menunjukkan relevansinya, menurut beberapa pengamat.

Kelompok Islamic State Khorasan Province atau kerap disebut IS-K, yang berafilisasi dengan ISIS, tidak membuang waktu dan melakukan serangan di luar bandara Kabul pada 26 Agustus lalu, yang menewaskan 170 orang, termasuk 13 personel militer AS.

Tapi selain ideologi fundamentalisnya, apa yang membedakan antara Taliban, al-Qaeda, dan ISIS ini?

Colin Clarke, peneliti dan analis keamanan di Soufan Center, New York, AS mencoba untuk merangkumnya.

"Taliban adalah pemain paling signifikan di Afghanistan. Al-Qaeda adalah kelompok jihad transnasional yang berusaha membangun kembali jaringannya. Begitu pula ISIS, tetapi perjuangan mereka tidak akan mudah karena mereka adalah musuh bebuyutan al-Qaeda dan Taliban," katanya kepada BBC.

Asal-usul

Al-Qaeda dan Taliban muncul dalam peperangan melawan invasi Uni Soviet pada akhir 1980-an dan konflik internal Afghanistan pada awal 1990-an.

ISIS muncul bertahun-tahun kemudian dari sisa-sisa al-Qaeda di Irak (AQI), cabang lokal al-Qaeda yang dibentuk sebagai tanggapan atas invasi AS ke Irak pada 2003.

Kelompok ini sempat meredup selama beberapa tahun pengiriman besar-besaran pasukan AS ke Irak pada 2007. Tapi mereka mulai muncul kembali pada 2011.

Al-Qaeda didirikan oleh miliuner Arab Saudi, Osama Bin Laden, pada akhir 1980-an. Namanya berarti 'pangkalan' atau 'jaringan', dan berfungsi sebagai jejaring dukungan logistik dan persenjataan bagi Muslim yang berperang melawan Uni Soviet.

Osama Bin Laden pun merekrut orang-orang dari berbagai negara Islam untuk bergabung dengan al-Qaeda.

Taliban, atau 'santri' dalam bahasa Pashto, muncul pada awal 1990-an di Pakistan utara menyusul penarikan pasukan Uni Soviet dari Afghanistan.

Gerakan yang didominasi oleh etnis Pashtun itu diyakini pertama kali muncul di madrasah-madrasah --sebagian besar dibiayai dengan uang dari Arab Saudi-- yang mengajarkan Islam Sunni garis keras.

Taliban berjanji --di wilayah Pashtun yang mencakup Pakistan dan Afghanistan-- untuk mengembalikan kedamaian dan keamanan serta menerapkan syariat atau hukum Islam versi mereka sendiri setelah berkuasa.

Dari Afghanistan barat daya, Taliban dengan cepat memperluas pengaruh mereka. Pada 1996, mereka merebut Kabul dan menggulingkan rezim Presiden Burhanuddin Rabbani. Dan pada 1998, Taliban menguasai hampir 90 persen wilayah Afghanistan.

Saat itu, al-Qaeda sudah menjadi lebih dari jejaring dukungan logistik. Mereka berubah menjadi organisasi jihadis dengan ambisi global. Dan rezim Taliban, sebagai bentuk terima kasih dan dengan imbalan pendanaan, menyambut mereka ke Afghanistan.

Namun AQI yang telah menjadi pemain kunci dalam melawan intervensi asing di Irak, juga memendam aspirasi global dengan ide-ide yang berbeda dari prinsip-prinsip orisinal al-Qaeda.

Pada 2006, mereka bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis lainnya dan menggunakan nama Negara Islam Irak.

Setelah 2011, seiring kemajuannya di Suriah yang dilanda perang, Negara Islam Irak mengubah namanya menjadi Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS, menyatakan diri sebagai kekalifahan dan segera menjauhkan diri dari al-Qaeda.

Interpretasi Islam

Kesamaan antara Taliban, al-Qaeda, dan ISIS adalah pendangan keras mereka tentang ajaran Islam Sunni.

Michele Groppi, seorang dosen di King's College London, Inggris mengatakan, "Ketiga kelompok itu percaya bahwa kehidupan sosial dan politik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama."

"Mereka percaya bahwa kekerasan atas nama iman bisa dibenarkan. Ini juga merupakan kewajiban: siapa yang tidak berperang, berarti bukan Muslim yang baik," katanya kepada BBC.

Groppi menyebut pandangan ini berasal dari interpretasi literal ayat-ayat suci yang ditulis dalam konteks ancaman yang berbeda.

"Seperti Alkitab, Al-Qur'an memiliki ayat-ayat yang keras, ayat-ayat yang sangat kuat. Tetapi mayoritas Muslim, umumnya, menolak prinsip-prinsip kekerasan itu."

"Mereka mengatakan ayat-ayat itu berlaku pada masa-masa awal Islam, saat Muslim berada dalam ancaman. Jihad, sebagai perang suci, masuk akal saat itu," ucap Groppi.

Meskipun menganut pandangan yang sama, Taliban, al-Qaeda, dan ISIS berbeda dalam tingkat ekstremisme sesuai dengan tujuan mereka --yang menurut beberapa pakar adalah perbedaan utama antara ketiganya.

Tujuan

Taliban hanya menginginkan Afghanistan, sedangkan al-Qaeda dan ISIS memiliki ambisi global.

Terakhir kali Taliban menerapkan hukum syariat pada 1990-an, itu termasuk peraturan ketat untuk perempuan dan hukuman keras, termasuk eksekusi publik, cambuk, dan potong tangan.

Khawatir sejarah akan terulang, warga Afghanistan berbondong-bondong berusaha keluar dari negara itu setelah Taliban kembali berkuasa.

Daniel Byman, pengamat terorisme dan Timur Tengah di Georgetown University, Washington, AS mengatakan bahwa ajaran al-Qaeda dan ISIS jauh lebih radikal.

"Meskipun Taliban bertujuan mengembalikan Afghanistan ke negara Islam yang dianggap ideal di masa lalu, tapi mereka tidak berusaha mengubah negara lain," katanya kepada BBC.

Byman menjelaskan bahwa meskipun al-Qaeda dan ISIS memiliki aspirasi global dan bercita-cita menciptakan kekhalifahan, mereka berbeda pada satu poin penting.

"ISIS ingin menciptakan kekhalifahan sekarang, namun al-Qaeda berpikir itu terlalu cepat. Mereka percaya bahwa komunitas jihadis dan masyarakat Muslim belum siap. Ini bukan prioritas mereka."

Musuh

Taliban, al-Qaeda, dan ISIS memiliki musuh bersama, yang jauh maupun dekat.

Amerika Serikat dan negara-negara Barat termasuk yang terjauh. Sedangkan musuh-musuh yang lebih dekat adalah sekutu mereka dan negara-negara yang telah menerima pemisahan antara negara dan agama.

"Sejak awal, ISIS lebih kejam daripada al-Qaeda dan melancarkan --di samping perang melawan Barat-- konflik sektarian melawan Muslim lain yang tidak setuju dengan ideologinya," kata Byman.

Jadi perbedaan utama lainnya adalah bahwa, sementara AS tetap menjadi musuh utama al-Qaeda, ISIS terus menyerang komunitas Syiah dan kelompok agama minoritas lainnya di Timur Tengah.

"Meskipun al-Qaeda juga menganggap penganut Syiah sebagai murtad, kelompok itu berpikir bahwa membunuh mereka terlalu ekstrem, membuang-buang sumber daya, dan merugikan proyek jihad," kata Byman.

Kedatangan Taliban ke tampuk kekuasaan semakin mendorong perpecahan, dengan ISIS menganggap kelompok itu sebagai 'pengkhianat' karena menegosiasikan rencana penarikan pasukan asing dengan dengan AS, kata Groppi.

Namun, mereka secara tidak langsung terhubung dengan Taliban melalui kelompok ketiga.

Para pengamat mengatakan ada hubungan kuat antara faksi ISIS di Afghanistan dan kelompok militan yang disebut jaringan Haqqani, yang dekat dengan Taliban.

Metode

Al-Qaeda terkenal karena serangannya terhadap Menara Kembar WTC di New York, AS pada 11 September 2001, yang kemudian dikenal sebagai serangan 9/11.

Dengan metode sedramatis itu, mereka bermaksud membakar semangat pejuang Muslim di mana-mana dan mengusir AS dari Timur Tengah, terutama Arab Saudi dan tempat-tempat suci.

Propagandanya berkisar pada gagasan bahwa jihad adalah kewajiban setiap Muslim --tetapi tujuan al-Qaeda lebih diutamakan daripada yang lokal.

Byman mengatakan, ISIS juga membuat poin-poin ini meski dengan pendekatan yang jauh lebih keras.

"Bagi ISIS, terorisme adalah bagian dari perang revolusioner. Di wilayah yang mereka kuasai, mereka mengadakan eksekusi massal, pemenggalan kepala di depan umum, dan pemerkosaan. Mereka berusaha meneror penduduk setempat agar tunduk kepada mereka."

"Al-Qaeda bisa memiliki pendekatan yang sedikit lebih lembut, kalau bisa dikatakan begitu," ucap Byman.

Antara 2014 dan 2017, ISIS memperluas wilayahnya di Suriah dan Irak, meskipun sejak itu mereka kalah dari pasukan Barat dan Kurdi dan tentara Suriah yang disokong Rusia.

Pada Maret 2019, kekhalifahan ISIS dinyatakan runtuh setelah kehilangan wilayah terakhirnya di Suriah, namun sisa-sisa kelompok itu berkembang menjadi jaringan rahasia dan masih menjadi ancaman.

IS-K, ISIS cabang Afghanistan, melancarkan serangan di luar bandara Kabul pada 26 Agustus lalu yang menewaskan 170 orang. Kelompok ini juga menyerang kelompok etnis minoritas di negara itu.

Adapun Taliban mengerahkan taktik perang dan melakukan serangan terhadap pemerintah Afghanistan dan pasukan keamanan dalam beberapa pekan terakhir untuk merebut kota-kota besar dan akhirnya, ibu kota Kabul.

Ada banyak laporan yang menuduh pejuang Taliban di tempat-tempat ini mengeksekusi tentara Afghanistan dan memberlakukan hukuman dan pembatasan yang keras, terutama pada perempuan.

Namun, Groppi mengatakan. kelompok itu juga menguasai daerah dengan membujuk penduduk setempat, terutama di daerah pedesaan, dan mengatakan bahwa mereka adalah solusi untuk banyak masalah negara, terutama korupsi.

Perekrutan


Taliban, al-Qaeda, dan ISIS semuanya telah mampu merekrut orang-orang dari populasi lokal untuk memperjuangkan tujuan mereka.

Mereka melakukannya dengan menjanjikan bahwa jihad akan menyelamatkan dan 'memurnikan' agama mereka.

Dengan ambisi global, al-Qaeda dan ISIS juga berhasil merekrut orang-orang dari luar perbatasan Timur Tengah.

"ISIS telah menjadi yang paling sukses dalam aspek ini. Memanfaatkan kekuatan internet untuk menarik orang ke wilayahnya di Irak dan Suriah," kata Groppi.

Byman pun setuju. "Upaya ISIS di media sosial sangat mengesankan, dan mereka lebih mampu memobilisasi individu di Barat yang, meskipun hanya memiliki sedikit atau tidak ada kontak sama sekali dengan organisasi dan tidak dapat melakukan perjalanan ke Suriah atau Irak, merencanakan serangan di negara mereka sendiri."

Di antaranya adalah serangan skala besar di Paris pada tahun 2015, di mana militan ISIS, beberapa yang pernah bertempur di medan perang, menewaskan 130 orang dan dianggap sebagai kekejaman terburuk di Prancis saat masa damai dalam beberapa dekade.

[sumber: BBC]

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

HTI 'Muncul' Lagi di KPK Setelah G30STWK

Foto bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di meja salah satu pegawai Komisi Pemberantasan Korups
berita-headline

Viral

Isu Bendera Mirip HTI Sengaja Dipolitisir untuk Fitnah 57 Pegawai KPK

Juru Bicara 57 mantan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Hotman Tambunan telah membant
berita-headline

Viral

Media Barat Skeptis dengan Janji Taliban

Dun
berita-headline

Viral

Taliban Klaim Kemenangan Mirip Kemerdekaan RI, Pengamat: Beda Jauh

Pengamat politik Timur Tengah, M. Najih Arromadloni menilai klaim Taliban atas perebutan Afghanis
berita-headline

Inersia

Aktor Korsel Jung Woo-sung Donasikan Rp1,2 Miliar untuk Afghanistan

Aktor ternama Korea Selatan Jung Woo-sung mendonasikan 100 juta won atau sekitar Rp1,2 miliar kepada