https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   08 September 2021 - 12:15 wib

Kota Tangerang, Epicentrum Polemik Mural

Kanal
berita-headline

(ist)

Akhirnya saya menyambung tulisan tentang vandal dari studi kasus di kisaran daerah sendiri. Bulan Agustus 2021, epicentrum seni rupa digoyang dari tanah Kota Tangerang. Gara-gara mural. Ada yang menggambar mural 404 – not found yang dihapus oleh aparat setempat dan bang jago. Berturut-turut kemudian muncul mural yang lain di berbagai daerah (dan dihapus). Waktu itu masa-masa pandemi, ada aturan PPKM berlevel-level (saya lupa kepanjangan PPKM). PPKM yang seperti kita tau, memiliki dampak hebat secara mental dan materiil terutama kepada sektor sektor seni, parekraf. Konser, pameran, aktivitas seni luluh lantah. Di waktu-waktu itu pula ada kasus sembako yang ditilep Mensos.

Bagaimana mencari relasi antar itu semua? Kita mulai dari mural. Mural.. ya seperti yang kita tau adalah gambar di tembok. Muncul dari jaman manusia pra historis. Mereka gambar di tembok goa. Sebagai medium ekspresi dan penanda. Kemudian manusia modern, zaman renaissance, mereka menghias dinding gereja, museum, ruang pameran, tembok-tembok jalanan dengan motivasi seperti mendekorasi, menggugat, cara berekspresi atau menyempaikan gagasan.

Saya langsung fastforward ke era sekarang di Tangerang. Mural pertama di ditemukan di tepian Sungai Cisadane dengan gambar sosok petani bertelanjang dada, posisi jongkok, di sebelah kiri dan kanan-nya digambar pikulan dagangan dan dibagian atas gambar itu ada tulisan:

“Djangan Djoeal Apa Kepada Moesoeh! Dia Oentoeng Kita Boentoeng”

Menurut dokumen Arsip Nasional RI, mural itu dibuat tahun 1946 saat masa penjajahan.

Kemudian di era modern, menurut catatan seniman dari Tangerang, Edi Bonetski, mural secara kolektif kembali marak di tahun 2002, saat digelar hajat First Street Art di Tanah Gocap oleh Rumah Belajar Anak Langit. Kemudian berturut-turut muncul hajat Jumpa Tembok 1,2,3,4 dan berbagai program mural yang diinisiasi oleh Lingkar Semanggi. Bahkan di Tangerang juga ada kolektif yang concern ke mural dan graffiti, namanya Tangerang Street Art Forum.


Itu yang tercatat dengan gaya komunal atau kolektif. Beberapa catatan mural di Kota Tangerang muncul juga karena inisiasi warga atau bermitra dengan pemerintah, seperti mural yang menghiasi kolong flyover toll Jkt-Merak dan Kampung Bekelir atau yang dilakukan Dedi Mulfianto yang menggambar muka para pahlawan di Cipondoh, Tangerang.

Jadi, soal pertama tentang mural rasanya terjawab. Kota Tangerang punya kultur mural.

Kemudian, penghapusan. Saya masuk dari sisi makna vandalisme. Ada catatan menarik dari zoominar yang diselenggarakan L Project pekan lalu. Menurut Bu Inda C Noerhadi seorang akademisi dan direktur Cemara 6, menyampaikan bahwa: yang bisa melakukan vandal bukan hanya publik, tapi aparat. Dia mencontohkan patung publik karya Nyoman Nuarte yang diturunkan paksa, dan berbagai kisah seni ruang publik yang divandal aparat dan masyarakat. Begitupun dengan polemik mural. Menurut saya, ketakutan berlebihan dengan menghapus adalah juga aksi vandal. Yang sering orang-orang gak paham, vandal itu bukan sekedar reaksi dan eksistensi. Tapi ada faktor edukasi. Seyogyanya memang pendidikan seni masuk ke beragam elemen masyarakat dengan terstruktur, massif, berjenjang dan sedini mungkin. Jadi orang-orang akan ngerti ga cuma nyoret nama sekolah mereka.

Hal lain, adalah hal eksternal. Ruang publik dan keberpihakan pemerintah daerah kepada seniman di masa pandemi. Ruang publik adalah ruang milik publik, saya akan jelaskan di akhir. Sementara perihal keberpihakan, seperti yang disampaikan di awal, sektor seni parekraf adalah yang paling terdampak, nah apakah ada kehadiran pemerintah pada sektor tersebut? Coba cek ulang. Apa karena bansos ditilep? Apa sistem pengaman sosial tidak terdistribusi? Atau ya memang ga dianggap. Walaupun disisi lain, temen-temen pekerja seni juga ga teriak-teriak bansos, karena bukan itu. Tapi lebih ke makna keberpihakan, bahasa saya membersamai. Membersamai di masa-masa seperti ini.

Terakhir, saya juga melihat dari sisi lain, Kota Tangerang erat sejarahnya dengan Benteng, Batu Bata, tembok. Silahkan baca buku. Jadi secara makro-kosmos memang rasanya ada hal-hal yang bersifat trans mengapa epicentrum polemik mural bergetar dari Tangerang.

Sebagai penutup, saya rasa polemik mural ini sudah usai. Karena teman-teman Tangerang juga melaluinya dengan biasa saja, dan bahkan teman-teman Tangerang sudah bikin hajat Jumpa Tembok pada tanggal 5 Sept 2021 yg lalu dan rame banget.

Yang perlu diingat, mengutip kata Digie Sigit, ada 4 hal yang secara visual menguasai ruang publik, yaitu:

1. Aktivitas iklan (kita dipaksa melihat papan iklan, merubah kita dari mental bersahaja, gotong royong menjadi konsumtif);

2. Aktivitas politik (kita dipaksa melihat setiap hari citra politikus, yang gaswatnya kebanyakan dari mereka ga pernah berasa kehadirannya di tengah kita);

3. Gengster (ormas, bang jago, dll);

4. Seni di ruang publik (patung, mural, graffiti).

Maka, dari 4 hal tersebut, mari kita sama-sama uji,

yang mana yang paling memiliki dampak rusak paling hebat?! Mural kali ye.

Oleh: Hilmi Fabeta (Indonesian Creative Network)

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Ini Cara Tangerang Hadapi Krisis Pandemi

Pemerintah Kota Tangerang saat ini tengah menyiapkan program yang mengajak masyarakat untuk bisa
berita-headline

Kanal

Sepak Terjang Bea Cukai Tangerang Berantas Rokok Ilegal

Hari demi hari, Bea Cukai Tangerang terus menggelorakan semangat pengawasan cukai, khususnya di wila
berita-headline

Viral

Satu Jenazah Korban Kebakaran LP Tangerang Teridentifikasi

Satu dari 41 jenazah korban kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tangerang telah diidentifika
berita-headline

Viral

Jokowi Tegur Kapolri Gegara Mural Viral

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku keberatan dengan tindakan aparat yang berlebihan menghadapi
berita-headline

Inersia

Vaksinasi Untuk Bentuk Herd Immunity Terus Dikebut

Salah satu strategi pengendalian penyebaran dan penularan infeksi