https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   14 August 2021 - 07:39 wib

Era Jurnalisme Digital di Tengah Disrupsi dan Solusi

Jika kita ke sebuah acara apakah itu peristiwa budaya, ekonomi, politik atau sekedar jumpa pers peluncuran sebuah produk teknologi, kita akan melihat banyak teman-teman pewarta yang menggunakan gadget atau gawai mutakhir untuk pengiriman informasi ke kantor berita masing-masing. Sesaat tokoh utama berbicara di panggung, selang dalam hitungan menit kemudian, swing..., kutipan pembicaraan tersebut telah masuk dalam aneka situs berita terkini.

Betul, definisi berita, yang sebelumnya bermakna "melaporkan peristiwa yang telah terjadi”, kini berganti makna dengan "melaporkan peristiwa yang sedang terjadi”. Betapa dahsyat revolusi teknologi informasi ini. Bom yang meledak di kawasan Sarinah pada tahun 2016 lalu hanya selang beberapa menit telah mengundang puluhan hingga ratusan juru warta untuk mengabarkan peristiwa tersebut. Pasang televisi, dengar radio, buka situs berita, semua menyajikan peristiwa terkini dengan berbagai sudut pandang.

Banyak orang kagum dan menikmati kecepatan penyampaian informasi. Perlahan-lahan aneka situs berita mematri dirinya untuk menjadi sarana penyampai berita yang tak kalah dengan media cetak, dan media elektronik lainnya. Bahkan media-media "tradisional", seperti surat kabar, majalah, dan "semimodern", seperti radio atau televisi, pun sudah mengarungi digitalisasi melengkapi dirinya dengan situs berita online untuk mengisi percepatan informasi yang disampaikan dengan penuh kompetisi sekarang ini.

Jurnalisme dan Media Sosial

Dalam rentang periode yang lama jurnalisme menjadi pilar demokrasi. Sebelum akhirnya perkembangan teknologi mendisrupsinya. Internet yang mendemokratisasikan informasi membuat media arus utama tak lagi menjadi pemegang kunci lalu lintas informasi. Setiap orang saat ini adalah pembuat konten. Kompetisi media secara tak langsung tidak lagi bersaing dengan media lainnya, tetapi dengan setiap individu atau influencer pembuat konten yang menyebarkannya lewat media sosial.

Berdasarkan laporan Digital News Report 2021 oleh Reuters Institute mengungkapkan, penggunaan media sosial untuk pencarian berita, tetap kuat, terutama pada anak muda dan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Aplikasi seperti Whatsapp dan Facebook sangat dominan di Indonesia, dan menimbulkan kekhawatiran terbesar dalam penyebaran informasi yang salah.

Banyak contoh mulai dari pendengung (buzzer) dan troll yang memanfaatkan penyebaran informasi kebohongan ini mulai dari sejak Pilkada DKI Jakarta 2017. Mereka bertahan hingga Pemilihan Presiden 2019. Keterbelahan publik akibat hoaks, hasutan antar agama,ras dan provokasi yang disebar di media sosial oleh mereka masih terasa hingga kini.

Screenshot-508

Reuters' Digital News Report 2021

Lalu betulkah media sosial akan menggantikan jurnalisme? Ini salah satu pertanyaan yang mungkin ada dalam benak pikiran Anda setelah perubahan arus informasi yang cepat terjadi. Paling tidak dalam banyak orang ingin makin mengerti dan mendalami hubungan kedua hal ini, mencoba melihat hubungan positif dan negatif antara jurnalisme dan media sosial

Media sosial yang hadir di era digitalisasi belakangan ini dalam rupa seperti Facebook, Twitter, dan Instagram memang mengubah panorama jurnalisme di Indonesia, terutama yang menyangkut proses pengumpulan berita, proses pembuatan berita, dan proses penyebaran berita.

Dalam proses pengumpulan berita, sudah menjadi umum sekarang Ini jika "status" atau siaran podcast pada sebuah kanal youtube yang ditunjukkan oleh para orang terpandang—ataupun orang yang biasa jadi narasumber dalam aneka media sosial mereka bisa menjadi ramuan kata-kata, yang kemudian ditulis di media massa mainstream. Sementara itu, aneka informasi yang sedang trending tersebar dalam jejaring media sosial juga kerap menjadi informasi yang kemudian disebarkan.

Media massa mainstream. Dalam hal ini, jurnalisme warga memiliki ruang untuk beritanya makin tersebar. Sementara dalam proses pembuatan berita, kita sekarang melihat sudah menjadi sesuatu yang umum ketika media online yang menampilkan jurnalisme memberikan ruang komentar dari para pembacanya atas item berita yang mereka hasilkan.

Sementara itu, dalam proses penyebaran berita, kita melihat aneka tampilan media sosial dipergunakan, baik oleh media itu sendiri maupun para pembacanya, untuk meneruskan berita yang telah diproduksi. Di sini kita berhadapan dengan pembaca atau konsumen media yang memiliki perilaku senang berbagi dalam suasana media yang makin terkonvergensi ini seperti yang dicantum pada tulisan Henry Jenkins berjudul “Convergence Culture: Where Old and New Media Collide”.

Banyak pihak melihat jurnalisme dan media sosial sebagai sesuatu yang sedang populer saat ini dan perlu terus dipromosikan. Namun, tidak semua orang melihat kedua hal ini sebagai sesuatu yang saling menguntungkan. Orang seperti Robert G. Picard, misalnya, dalam artikelnya di Nieman Reports  justru mempertanyakan manfaat dari media sosial terhadap perusahaan media secara umum: "Hanya karena teknologi itu populer untuk kalangan jurnalis dan penggunanya, itu bukan berarti penggunaan teknologi itu lalu menguntungkan perusahaan media secara keseluruhan”.

Picard adalah peneliti di Reuters Institute for the Study of Journalism di Universitas Oxford, Inggris, dan juga dikenal sebagai bapak studi ekonomi media.

Pertanyaan dasar Picard sangat beralasan. Hingga kini, penulis juga belum melihat satu model bisnis yang ideal untuk mengintegrasikan media sosial dan jurnalisme ini. Artinya, apakah betul media yang menggunakan "media sosial” itu telah menghasilkan keuntungan dari penggunaan teknologi media horizontal ini? Lepas dari masalah ekonomi media yang perlu pengamatan lebih dalam dan lebih cermat, antara jurnalisme dan media sosial ini juga menghasilkan sejumlah tantangan ke depan, terutama terkait dengan kualitas jurnalisme di kemudian hari.

Solusi Inovasi inilah.com

Awal Juli kemarin, penulis yang kerap mengisi kanal teknologi inilah,com diajak hadir pertemuan webinar dimana tujuannya adalah perkenalan susunan direksi dan perubahan wajah baru inilah.com dengan mengusung slogan baru 'titik tengah. titik cerah'. Salah satu yang dikenalkan pada saat itu CEO baru inilah.com, Fahd Pahdepie, yang merupakan seorang pengusaha, aktivis dan penulis ternama yang sudah banyak menghasilkan karya best seller. Ia mengatakan bahwa inilah.com dengan tagline baru tersebut dipilih karena ia ingin menghadirkan visi konsep jurnalisme solusi sebuah gagasan jurnalisme yang bukan hanya mengangkat persoalan, tetapi mendorong dan menggerakkan penyelesaiannya.

Screenshot-511

Dalam percakapan di webinar itu, Fahd Pahdepie mengatakan, "Saya ingin menolong dan bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang." Pernyataan tersebut membuat penulis merenung, sebagai muslim terlintas ini seperti penegasan hadis nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan HR Ahmad Athabrini bahwa "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia".

Hal ini menjadi pertimbangan dan mungkin tanpa sadar ini adalah skenario Allah bagaimana hasrat penulis ingin turut berpartisipasi pula sebagai bagian mendapatkan transfer amal jariyah sebagai hubungan vertikal dengan sang pencipta serta horizontal untuk membuat tulisan lebih bermanfaat dalam mengentaskan kreasi kecemasan massal yang publik konsumsi media saat ini alami.

Dengan pendekatan Solution journalism, inilah.com di bawah komando Fahd Pahdepie berharap bisa menawarkan penyelesainnya dalam reportase liputannya. Persis inilah jurnalisme yang diharapkan saat ini.

Karena dengan konsep jalan keluar ini adanya disrupsi teknologi baru idealnya dibuat memungkinkan manusia mendapatkan ruang pencerahan. Penemuan internet makin mendemokratisasi pengetahuan. Lepas jeratan dari penggunaannya untuk memanipulasi manusia, internet adalah tempat belajar segala jenis pengetahuan.

Masih ada banyak persoalan lain yang kita temui dalam melihat persoalan antara jurnalisme dan disrupsi media saat ini. Namun, ini memang suatu pertanda munculnya era baru dalam dunia media komunikasi, menantang kita untuk lebih mendalaminya, dan mencoba memahami serta kembali  pada esensi utamanya: untuk apa komunikasi diciptakan! Untuk memudahkan manusia berhubungan dengan manusia lain, untuk lebih “memanusiakan manusia”, atau malah menghasilkan dehumanisasi?.

Kita tentu berharap inisiatif seperti inilah.com ini akan berumur panjang, dan inisiatif serupa lebih banyak, dan pada akhirnya publik juga yang akan dapat manfaat dari hadirnya karya-karya jurnalistik yang memberi manfaat.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Kominfo Paparkan 10 Sektor Prioritas Transformasi Digital

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan transformasi digital Indonesia fokus
berita-headline

Viral

Alquran Jadi Pembungkus Petasan Viral, Polisi Turun Tangan

Sebuah video viral di media sosial yang menayangkan sisa kertas petasan  diduga Alquran. Hal
berita-headline

Kanal

Anies: Selamat, Ikhtiar untuk Inilah.com, Inilah Reborn

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menaruh harapan besar atas lahirnya kembali Inilah.com, #inil
berita-headline

IXU

Naik Motor Setelah Bergejala Covid-19, Amankah?

Pertanyaan: Apakah berbahaya setelah terinfeksi Covid-19 mengendarai motor sendiri, hal ap
berita-headline

Kanal

Inovasi Ekosistem Layanan Financial Digital Kopra

Bank Mandiri terus melakukan transformasi digital dalam produk maupun layanan jasa keuangannya. K