https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   12 October 2021 - 17:06 wib

Penyakit Pernapasan Kian Kronis di Masa Pandemi, Saatnya Beri Perhatian Ekstra

Kanal
berita-headline

(ist)

Tidak terasa, sudah 1,5 tahun kita bekerja dan hidup di tengah pandemik COVID-19. Hampir semua aktivitas kita diatur oleh protokol kesehatan (prokes) untuk memastikan agar kita tetap sehat dan aman. Dominannya COVID-19 dalam kehidupan kita membuat perhatian kita kerap terfokus pada pandemi mematikan ini. Padahal, banyak gangguan kesehatan lain yang jika dibiarkan dapat berujung pada kematian. Sejumlah penyakit berbahaya berpotensi menjadi komorbid COVID-19, apalagi pandemi membuat penanganan gangguan kesehatan menjadi complicated. Contohnya gangguan pada sistem pernapasan.

Menurut data World Health Organization (WHO), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, infeksi saluran pernapasan bawah akut, TB dan kanker paru-paru adalah lima gangguan kesehatan pada sistem pernapasan yang paling mematikan di seluruh dunia

Menurut badan kesehatan dunia tersebut, sekitar 65 juta orang menderita PPOK dan menyebabkan 3 juta meninggal setiap tahun. Hal ini menjadikan PPOK sebagai penyebab kematian ketiga tertinggi di dunia. Sedangkan sekitar 334 juta orang menderita asma, penyakit kronis paling umum pada anak-anak dengan menyerang 14% anak-anak secara global. 

Pneumonia pun membunuh jutaan orang setiap tahunnya sehingga dinobatkan sebagai penyebab utama kematian pada anak di bawah 5 tahun. Sementara lebih 10 juta orang menderita tuberkulosis (TB) dan 1,4 juta meninggal karenanya setiap tahun, menjadikan TB sebagai penyakit menular mematikan paling umum. Lalu kanker paru-paru yang membunuh 1,6 juta orang setiap tahun, menjadikannya kanker paling mematikan di seluruh dunia.

Penyakit pernapasan juga menjadi masalah serius di Indonesia. Sebut saja penyakit asma yang masuk dalam sepuluh besar penyakit penyebab kesakitan dan kematian. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi asma mencapai 2,4%. Kendati ada penurunan, angka ini masih tergolong cukup tinggi.  

Demikian juga pneumonia yang memiliki prevalensi sebesar 2%, naik dari 1,8% pada Riskesdas 2013. Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperkirakan ada 43.309 kasus pneumonia atau radang paru pada balita selama tahun 2019. Penyebabnya beragam mulai dari bakteri, virus hingga jamur.

Adapun prevalensi TB mencapai 0,42%. Angka ini terdistribusi pada semua kelompok umur dan masyarakat yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan. Global TB Report 2019 mencatat, insiden TB di Indonesia sebanyak 845 ribu kasus, nomor dua tertinggi di dunia setelah India sebanyak 2,69 juta kasus.

Yang menjadi persoalan, TB, PPOK dan asma juga merupakan komorbid COVID-19. Ini berarti, penderita salah satu gangguan kesehatan tersebut akan menghadapi masalah serius jika terifeksi virus COVID-19. Situasinya akan lebih parah jika masalah kelangkaan pasokan oksigen kembali terulang. Harus diakui, oksigen adalah salah satu komponen terpenting untuk menangani gangguan kesehatan pernapasan.

Ini alasan mengapa gangguan kesehatan pernapasan tidak boleh dianggap enteng dan perawatannya harus menjadi prioritas. Terutama karena akhir pandemi COVID-19 belum bisa diprediksi. Dengan terus bermunculannya varian baru virus COVID-19, para ahli epidemiolog memperkirakan Indonesia masih jauh dari kondisi herd immunity.

Sementara itu, faktor komorbid membuat banyak RS membatasi kunjungan atau pelayanan rawat inap para penderita gangguan pernapasan. Hal ini berujung pada harapan agar orang-orang yang berisiko berupaya keras mencegah agar tidak terkena gangguan kesehatan seperti ini.

Penanganan yang Tepat Bantu Selamatkan Penderita Gangguan Pernapasan

Pencegahan adalah solusi terbaik untuk masalah kesehatan pernapasan dalam situasi sekarang ini.

Untuk mencegah terjadinya gangguan pernapasan, penting untuk selalu menjaga kesehatan paru-paru dan saluran pernapasan. Biasakan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, mencukupi waktu istirahat, mengendalikan stres, mencuci tangan secara rutin, dan tentunya menghentikan kebiasaan merokok.

Seseorang yang memiliki gangguan pernapasan ringan dapat menggunakan obat hirup di rumah sebagai solusinya. Nebulizer kerap digunakan dalam terapi aerosol ini, baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak. Penggunaan obat ini dapat mengatasi sesak napas, mengurangi peradangan, dan mencegah kekambuhan gejala. Dengan nebulizer, obat yang tadinya berwujud cair diubah menjadi uap sehingga memudahkan transportasi obat ke saluran napas.

Nebulizer biasanya disarankan untuk penanganan penyakit asma, bronkitis dan Penyakit Paru Obrstruktis Kronis (PPOK), meski tidak menutup kemungkinan juga digunakan pada pasien flu dan batuk yang disertai sesak napas. 

Namun, tidak semua obat-obatan cair bisa digunakan dengan nebulizer, tergantung obat dan sediaannya. Untuk mengetahui perangkat nebulizer yang tepat, dosis dan penggunaan campuran obat-obatannya, sangat disarankan untuk mengkonsultasikan ke dokter via telepon, video call atau chat, atau menggunakan layanan telemedicine. Kunjungan tatap muka dengan dokter, apalagi perawatan di rumah sakit, tetap diusahakan menjadi opsi terakhir.

Pandemi COVID-19 akan segera sirna ketika semakin banyak orang melakukan vaksinasi, menjalankan protokol kesehatan diterapkan secara ketat di mana saja dan melakukan penanganan gangguan kesehatan—terutama yang terkait komorbid COVID-19 seperti asma, TB dan PPOK—secara tepat.

Tomoaki Watanabe, Director OMRON Healthcare Indonesia 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Tren Kasus Positif Menurun, Masyarakat jangan Lengah

Tren kasus terkonfirmasi positif belakangan menunjukkan angka penurunan. Meski begitu, Pemerintah
berita-headline

IXU

Empat Cara Mencegah Badai Sitokin

Bagaimana cara mencegah badai sitokin? Jawaban: Mengutip kata RA Adaningga
berita-headline

Viral

Angka Kematian Covid-19 Hilang Kemana?

Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan beberapa tanggapan terk
berita-headline

Viral

Halodoc Masuk Daftar 100 Layanan Kesehatan Digital Top Dunia

Perusahaan telemedisin Indonesia, Halodoc, dinobatkan sebagai salah satu dari 100 perusahaan laya
berita-headline

IXU

Belajar dari Kasus Dorce, Ini Tips Atasi Saat Gula Darah Drop

Belum lama ini, penyanyi Dorce Gamalama dilarikan ke rumah sakit karena tidak sadarkan