Kanker Ovarium Salah Satu Penyakit Silent Killer

Kanker Ovarium - inilah.com
istimewa

Kanker ovarium dikatakan sebagai salah satu silent killer karena tidak memiliki gejala khas yang dirasakan pasien pada stadium dini.

Kanker dapat berasal dari ovarium kanan atau kiri atau keduanya. Ovarium berukuran kecil sekitar 2cm, tetapi bila menjadi tumor maka ukurannya bisa menjadi 50 cm dan terkadang walau ukuran tidak besar tetapi menyebar ke organ lain seperti paru-paru.

Dr. dr. Brahmana Askandar, SpOG(K)-Onk, sebagai Ketua Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia (HOGI) mengatakan, kanker ini terbagi mulai stadium 1 hingga empat dan sayangnya sebagian besar baru terdiagnosis pada stadium lanjut yakni 3 dan 4.

Baca juga  Jika Terjadi Gelombang 3, Ini Cara Antisipasi Varian Mu

Hal ini karena perubahan dari normal menjadi kanker tidak melalui tahapan sejelas pada kanker serviks.

“Pemeriksaan canggih apapun itu hanya menyatakan saat ini normal, tetapi terdeteksi dini misalnya benjolan jarang terjadi. Hal ini karena orang-orang tidak mengalami keluhan apapun. Haidnya normal, indung telur masih bisa berproduksi,” kata Brahmana Askandar di Jakarta, Jumat, (14/01/2022).

Pasien umumnya baru datang saat perutnya sudah membesar, kembung, sesak karena ada cairan di paru-paru, gangguan buang air besar, nyeri perut bawah atau panggul, gangguan buang air kecil dan nafsu makan berkurang.

“Paling tidak empat gejala ini kita harus edukasi ke masyarakat, segera kontrol ke dokter kandungan atau umum dulu boleh,” tamah Brahmana.

Baca juga  Simak Jadwal Para Pengisi Acara Synchronize Fest di Radio 2021 Selama 3 Hari

Faktor risiko muncul kanker ovarium

Selain gejala yang bisa masyarakat waspadai, terdapat sejumlah faktor risiko munculnya kanker.

Faktor tersebut antara lain, pertambahan usia wanita, angka kelahiran rendah atau orang tidak pernah hamil, riwayat kanker ovarium pada keluarga, gaya hidup buruk seperti kurang olahraga berujung obesitas, riwayat endometriosis yakni terbentuknya jaringan darah haid di luar rahim dan mutasi genetik.

Brahmana menambahkan, diagnosis pasti kanker dilakukan setelah pengambilan jaringan ovarium dan diperiksa oleh dokter spesialis patologi.

Penyintas harus terus terpantau

Pasien kanker ovarium yang sudah selesai menjalani pengobatan perlu dipantau secara terus menerus. Setidaknya mereka perlu kontrol teratur ke dokter tiga bulan sekali untuk mendeteksi ada tidaknya keluhan, benjolan baru dan lainnnya.

Baca juga  Suara Hati Dorce Gamalama Minta Bantuan Megawati untuk Berobat

“Kanker ovarium perlu dipantau terus menerus. Tidak bisa setelah operasi dan kemoterapi maka selesai. Paling tidak dia harus kontrol teratur 3 bulan sekali untuk melihat ada tidaknya keluhan, munculnya benjolan baru dan lainnya,” tutur dia.

Tinggalkan Komentar