Rabu, 01 Februari 2023
10 Rajab 1444

Kantor yang Punya Ruang Laktasi Masih Minim, Perlu Peran Swasta

Jumat, 02 Sep 2022 - 16:08 WIB
Kantor yang Punya Ruang Laktasi Masih Minim, Perlu Peran Swasta
Ruang laktasi untuk kesehatan generasi Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan pada 2017, baru 64,8 persen perkantoran di Indonesia punya ruang laktasi yang mendukung ASI eksklusif. Perlu peran swasta untuk meningkatkannya, demi lahirnya generasi emas Indonesia.

Menyikapi fenomena ini, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA), Vera Galuh Sugijanto, menyatakan, APPNIA telah berkontribusi dalam upaya percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan akan terus berkomitmen mendukung upaya peningkatan status gizi dan kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

“APPNIA menyadari pentingnya manfaat ASI Eksklusif dan juga keberadaan orang tua setidaknya di 1000 hari pertama kehidupan, khususnya bagi ibu yang perlu memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi. Kami mendukung adanya cuti berbayar selama 3 sampai 6 bulan, dan dukungan nutrisi bagi ibu menyusui, penyediaan ruang laktasi, serta edukasi dan pendampingan tentang 1.000 hari pertama kehidupan,” ucap Vera, Jakarta, Jumat (2/9/2022).

Disampaikan Vera, salah satu wujud konkrit atas dukungan APPNIA terhadap program ASI Eksklusif adalah, sebagian besar perusahaan anggota APPNIA telah menerapkan kebijakan cuti, melahirkan bagi ibu bekerja selama 3 sampai 6 bulan, agar ibu dapat mengupayakan pemberian ASI eksklusif bagi bayinya dan juga penyediaan Ruang Laktasi pada kantor dan pabrik perusahaan anggota APPNIA.

Baca juga
Sahur jadi Kunci Ibu Lancar Menyusui Saat Berpuasa

Harapannya, inisiatif dalam bentuk kebijakan dan program yang telah diterapkan dalam perusahaan anggota APNNIA dapat membantu para karyawan yang sedang hamil dan menyusui agar dapat memberikan ASI eksklusif dengan optimal. “Karena kami sadar bahwa gizi yang baik di awal kehidupan anak akan menciptakan anak Indonesia yang sehat, tangguh, cerdas,serta terbebas dari stunting,” tegas Vera.

Memperingati Pekan ASI Sedunia 2022, APPNIA terus memperkuat kebijakan dan melakukan berbagai program untuk memastikan hak-hak karyawan dan anak terpenuhi, melalui pemberian cuti melahirkan berbayar selama 6 bulan bagi karyawan perempuan, penyediaan ruang laktasi untuk memerah ASI, hingga edukasi dan dukungan psikologi bagi karyawan.

Kebijakan parental leave berupa cuti berbayar selama 3 bulan karyawan perempuan dan cuti selama 10 hari bagi karyawan pria jika istrinya melahirkan. Bahkan beberapa anggota APPNIA berinisiatif untuk menerapkan cuti yang lebih panjang yaitu 6 bulan dan berbayar untuk karyawan perempuan. Penyediaan ruang laktasi yang nyaman di tempat bekerja dan juga flexible working arrangement untuk memerah ASI,” ucap Vera.

Selanjutnya, beberapa perusahaan anggota APPNIA juga menyediakan layanan Employee Assistance Program (EAP) berupa layanan konsultasi virtual dengan psikolog untuk mendukung karyawan terkait masalah pribadi, psiko sosial,dan pekerjaan. “Juga terdapat program edukasi dan pendampingan tentang 1000 hari pertama kehidupan. Kegiatan edukasi bersama para ahli yang dilakukan secara berkala, dan dukungan nutrisi bagi ibu menyusui,” ucap Vera.

Baca juga
Berpikir Positif hingga Jauhi Stres Bisa Bantu Pemulihan COVID-19

Disampaikan Vera, perlu kolaborasi dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan yaitu pemerintah, para ahli, sektor swasta maupun masyarakat agar program ASI eksklusif bisa berjalan maksimal.

Asal tahu saja, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama di kehidupan anak, memberikan manfaat seumur hidup. Salah satunya imunitas tubuh yang kuat serta perlindungan dari infeksi. Kementerian Kesehatan mencatat, ketiadaan ruang laktasi yang layak membuat karyawan wanita terpaksa memerah ASI di toilet, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi air susu dengan kuman karena tidak higienis.

Di sisi lain, absennya ruang laktasi sangat mengganggu produktivitas kerja, karena harus mencari ruangan yang kosong dan nyaman untuk memerah ASI. Kadangkala, lemari pendingan yang harusnya dikhususkan untuk ASI tercemari bahan makanan lain.

Berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 83, pengusaha diwajibkan memberikan peluang yang layak kepada karyawan wanita dengan bayi yang masih menyusu. Peluang itu di antaranya adalah dengan membangun fasilitas ruang laktasi bagi karyawan perempuan untuk menyusui di tempat kerja dan waktu untuk menyusui selama kerja sesuai dengan aturan perusahaan atau kesepakatan kerja bersama. “APPNIA sepenuhnya mendukung program ASI eksklusif, pemberian sarana dan fasilitas layak untuk ibu memerah ASI,” ucap Vera.

Baca juga
Konimex Akhirnya Tarik Produk Termorex Sirop

Sumanti, Pelaksana Tugas Kepala Sub Direktorat Pengawasan Norma Perlindungan Reproduksi Kementerian Tenaga Kerja RI, dalam sebuah webinar beberapa waktu lalu, menyampaikan, perlindungan fungsi reproduksi wanita merupakan kekhususan yang meliputi dari menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Aturan menyusui di Undang-Undang Kesehatan Reproduksi dimaksudkan untuk melindungi kesehatan ibu pasca melahirkan, dan untuk memberikan ASI untuk bayinya secara optimal. Karena itu, ada sanksi bagi perusahaan yang tidak memberikan masa cuti sesudah melahirkan kepada karyawan. Bahkan bisa dikenakan penjara satu tahun minimal, dan empat tahun maksimal.

Tinggalkan Komentar