Jumat, 27 Januari 2023
05 Rajab 1444

Kasus Suap Rektor Unila: Masuk Fakultas Kedokteran Harus Setor Rp250 Juta

Senin, 14 Nov 2022 - 12:56 WIB
Penulis : Wiguna Taher
KPK Yakin Angin Prayitno Divonis 9 Tahun Penjara
Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri (Foto: inilah.com)

Rektor Universitas Lampung (Unila) nonaktif Karomani (KRM) diduga memasang tarif Rp250 juta untuk memuluskan calon mahasiswa agar bisa masuk ke Fakultas Kedokteran Unila. Saat ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menelusuri aliran uang yang diterima tersangka Karomani dari berbagai pihak dalam kasus dugaan suap penerimaan mahasiswa baru.

Untuk keperluan itu, Jumat pekan lalu KPK memeriksa dua saksi masing-masing Mualimin selaku dosen dan Kepala Biro Perencanaan dan Humas Unila Budi Sutomo. “Didalami pengetahuannya, antara lain, masih terkait dengan aliran uang yang diterima tersangka KRM dari berbagai pihak,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri di Jakarta, Senin (14/11/2022).

Selain itu, KPK juga memeriksa dua saksi lainnya, yaitu dosen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Darlis Herumurti dan pihak swasta Radityo Prasetianto Wibowo.

Baca juga
PM Inggris Boris Johnson Akhirnya Mundur

Ali mengatakan, tim penyidik mendalami pengetahuan keduanya antara perihal sistem program aplikasi yang digunakan dalam penerimaan mahasiswa baru.

KPK telah menetapkan empat tersangka terdiri atas tiga orang selaku penerima suap, yakni Karomani, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi, dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri. Sementara itu, pemberi suap adalah pihak swasta Andi Desfiandi yang saat ini sudah berstatus terdakwa.

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan bahwa Karomani yang menjabat sebagai Rektor Unila periode 2020-2024 memiliki wewenang terkait dengan mekanisme Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) Tahun Akademik 2022.

Selama proses Simanila berjalan, KPK menduga Karomani aktif terlibat langsung dalam menentukan kelulusan dengan memerintahkan Heryandi, Budi, dan Basri untuk menyeleksi secara personal terkait dengan kesanggupan orang tua mahasiswa.

Baca juga
Selain Balap Jalanan, Ancol jadi Lokasi Formula E?

Apabila ingin dinyatakan lulus, calon mahasiswa dapat “dibantu” dengan menyerahkan sejumlah uang, selain uang resmi yang dibayarkan sesuai mekanisme yang ditentukan kepada pihak universitas.

Selain itu, Karomani juga diduga memberikan peran dan tugas khusus bagi Heryandi, Basri, dan Budi untuk mengumpulkan sejumlah uang yang disepakati dengan pihak orang tua calon mahasiswa baru. Besaran uang itu jumlahnya bervariasi mulai dari Rp100 juta sampai Rp350 juta untuk setiap orang tua peserta seleksi yang ingin diluluskan.

Karomani diduga memerintahkan Mualimin untuk turut mengumpulkan sejumlah uang dari para orang tua peserta seleksi yang ingin dinyatakan lulus oleh Karomani.

Seluruh uang yang dikumpulkan Karomani melalui Mualimin dari orang tua calon mahasiswa itu berjumlah Rp603 juta dan telah digunakan untuk keperluan pribadi KRM sekitar Rp575 juta.

Baca juga
Plang IKN Nusantara di Permukiman Padat Bikin Warga Sepaku Resah

Dalam dakwaannya, jaksa penuntut umum (JPU) KPK menyebutkan Andi memberikan suap kepada Karomani guna membantu dua orang calon mahasiswa masuk ke Fakultas Kedokteran Unila pada tahun 2022.

“Terdakwa memberikan uang sebesar Rp250 juta rupiah kepada penyelenggara negara dalam hal ini Rektor Unila guna memuluskan dua orang untuk menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unila,” kata JPU KPK Agung Satrio Wibowo di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang, Bandarlampung, Rabu (9/11/2022).

Tinggalkan Komentar