Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Kasus Tambang Ilegal, Bareskrim Pastikan Keluarga Ismail Bolong Hadiri Pemeriksaan Hari Ini

Kamis, 01 Des 2022 - 10:11 WIB
Penulis : Aria Triyudha
Ismail Bolong - inilah.com
Sosok mantan anggota Polres Samarinda Ismail Bolong terkait kasus tambang ilegal di Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis hari ini (1/12/2022). Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol Pipit Rismanto menyebut, anak dan istri Ismail Bolong menghadiri pemeriksaan. (Foto: Arsip)

Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) Polri memeriksa anak dan istri Ismail Bolong, Kamis hari ini (1/12/2022). Pemeriksaan keluarga mantan anggota Polres Samarinda itu menyangkut kasus dugaan suap tambang ilegal di Kalimantan Timur (Kaltim).

“Akan hadir istri dan IB (Ismail Bolong),” kata Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri Brigjen Pipit Rismanto dalam keteranganya.

Dia menjelaskan, istri dan anak Ismail Bolong itu bakal hadir memenuhi panggilan pemeriksaan sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka dimintai keterangan sebagai saksi.

Lebih jauh, Pipit menyebut, pengusutan kasus tambang ilegal di Kaltim itu sudah masuk tahap penyidikan. Sebanyak satu orang tersangka juga dikabarkan telah ditangkap. Meski begitu, Pipit masih enggan memberi penjelasan mengenai hal ini.

“Baru satu (ditangkap) nanti saja informasinya. Belum selesai pemeriksaan,” katanya.

Sebelumnya, beredar video berdurasi 2 menit 17 detik berisi pengakuan eks anggota Polri Ismail Bolong. Ismail mengaku sebagai pengepul konsesi tambang batubara ilegal di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Daerah itu masuk wilayah hukum Polres Bontang.

Baca juga
Tragedi Kanjuruhan: Bareskrim Periksa Direktur LIB, Ketua Panitia, dan Ketua PSSI Jatim

Keuntungan yang diperoleh Ismail Bolong dalam usaha pengepulan tambang batu bara ilegal itu mencapai kisaran Rp5 miliar hingga Rp10 miliar per bulannya. Sejak bulan Juli 2020 – November 2021.

Selama melakukan pengepulan konsesi batu bara ilegal, ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kabareskim Polri Komjen Agus Andrianto. Koordinasi diduga untuk melindungi aktivitas penambangan tersebut.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Kabareskrim, yaitu ke Bapak Komjen Pol Agus Andrianto dengan memberikan uang sebanyak tiga kali. Yaitu pada bulan September 2021 sebesar Rp2 miliar, bulan Oktober 2021 sebesar Rp2 miliar, dan bulan November 2021 sebesar Rp2 miliar,” sebut Ismail.

Selain Agus, Ismail mengaku juga menyetorkan uang kepada pejabat reserse Polres Bontang. “Saya pernah memberikan bantuan sebesar Rp200 juta pada bulan Agustus 2021 yang saya serahkan langsung ke Kasatreskrim Bontang AKP Asriadi di ruangan beliau,” katanya.

Baca juga
INFOGRAFIS: Bukan Nyanyian Sumbang Ismail Bolong

Video Klarifikasi

Namun, selang beberapa waktu kemudian, Ismail membuat video bantahan. Ia mengklarifikasi dan membuat permohonan maaf kepada Kabareskrim atas berita yang banyak beredar.

Ismail mengaku diperiksa pada Februari 2022 oleh Brigjen Pol Hendra Kurniawan saat menjabat Karo Paminal Divisi Propam Polri yang beberapa kali mengontak. Lantas tim dari Paminal datang ke Mapolda Kaltim untuk memeriksanya dan memaksa untuk membacakan testimoni yang ditulis dalam secarik kertas.

Kabareskrim Sebut Rekayasa

Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto sendiri merespons soal namanya yang terseret dalam kasus tambang ilegal di Kaltim. Ia mengaku mempertanggungjawabkan seluruh pekerjaannya kepada Allah SWT

“Saya mempertanggungjawabkan seluruh pekerjaan saya kepada Allah SWT. Sesuai arahan Bapak Presiden kepada Kapolri dan tuntutan masyarakat yang sedemikian cerdas,” kata Agus dalam keterangannya, Jumat (25/11/2022).

Sebaliknya, ia menyinggung kasus pembunuhan Brigadir J yang menyeret Ferdy Sambo Cs dan perkara narkoba eks Kapolda Sumbar, Teddy Minahasa. Menurut Agus, tudingan mengenai kasus tambang ilegal hasil rekayasa kelompok Ferdy Sambo, yang lama membawahi Divpropam Polri. Dia menganggap testimoni Bolong merupakan hasil rekayasa Ferdy Sambo Cs dengan merujuk perkara pembunuhan Brigadir J yang sedari awal hendak ditutupi namun terungkap atas desakan publik. Begitu pula dengan kasus Teddy Minahasa yang terjerat perkara narkoba namun mengubah berita acara pemeriksaan (BAP) dalam proses pemeriksaan yang menurut Kabareskrim lantaran diintimidasi atau direkayasa.

Baca juga
Dugaan Kabareskrim Terima Setoran Tambang Ilegal, Aktivis: Kapolri Jangan Melindungi

“Lihat saja BAP awal seluruh tersangka pembunuhan alm Brigadir Yosua, dan teranyar kasus yang menjerat IJP TM (Irjen Pol Teddy Minahasa) yang belakangan mencabut BAP juga,” kata Agus.

Tinggalkan Komentar