Kebijakan Nyeleneh di India, Ganti Suara Klakson Mobil Jadi Suling

Kebijakan Nyeleneh di India, Ganti Suara Klakson Mobil Jadi Suling - inilah.com
(Mumbai)

Polusi suara di India karena klakson kendaraan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa, namun ternyata dianggap menjadi polusi suara bagi sebagian orang. Salah satunya adalah kementerian transportasi India yang menyatakan membuat aturan baru penggunaan suara klakson yang bisa diubah menjadi seperti suara alat musik saja.

Menteri Persatuan Nitin Gadkari mengungkapkan kekesalannya dengan suara klakson, karena dirinya tidak bisa melakukan pranayama (yoga pernapasan). Suara klakson tersebut sangat mengganggu dan akhirnya ide baru muncul dari dirinya dan siap untuk mengganti suara instrumen kendaraan ke setiap pabrik pembuatnya.

“Saya tinggal di lantai 11 di Nagpur. Saya melakukan pranayama selama 1 jam setiap pagi. Tapi suara klakson mengganggu keheningan pagi,” buka Nitin, dikutip dari Cartoq, kamis (8/9/2021).

Baca juga  Mengetahui Manfaat Merotasi Ban Mobil

Nitin mengungkapkan, jika suara klakson mobil di India seharusnya menjadi instrumen dan harus digunakan sesuai dengan fungsinya.

“Suara instrumen seperti tabla, perkusi, biola, terompet, suling harus didengar dari klakson,” kata Nitin Gadkari.

Lokmat melaporkan, jika pemerintah menyetujui, suara klakson kendaraan bisa bersuara seperti alat musik di India.

Bunyi klakson dari kendaraan menyebabkan polusi suara di India. Terlebih lagi, tidak ada zona membunyikan klakson di seluruh wilayah negara tersebut.

Sebagian besar pengendara mobil dan motor di India juga dianggap tidak mengikuti norma yang berlaku ketika membunyikan klakson.

Menurut aturan yang berlaku di India, kenyaringan maksimum bunyi klakson kendaraan baik mobil atau motor tidak boleh melebihi 112 dB.

Baca juga  Tempuh Jarak 1.360 Km dalam Sekali Pengisian Bahan Bakar, Toyota Mirai Catatkan Rekor Dunia

Di India sendiri ada beberapa daerah yang dilarang membunyikan klakson di jalanan, namun sepertinya peraturan tersebut tidak terlaksana. Menurut kamu apakah kebijakan ini bisa diterapkan juga di Indonesia sebagai solusi polusi suara seperti di Jakarta? menggantinya dengan bunyi gamelan mungkin.

Tinggalkan Komentar