Minggu, 29 Mei 2022
28 Syawal 1443

Kebijakan Sengsarakan Rakyat, Jokowi ‘Kura-kura dalam Perahu’

Presiden Joko Widodo - inilah.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Sekretariat Kabinet

Presiden Joko Widodo meminta para menterianya agar sensitif terhadap kesulitan rakyat alih-alih sibuk mewacanakan penundaan pemilu dan perpanjangan jabatan presiden tiga periode. Namun pernyataan tersebut justru memberi kesan, presiden tidak tahu permasalahan alias ‘kura-kura dalam perahu’.

“Komentar seperti ini malah memberi kesan tidak tahu permasalahan. Padahal, banyak kebijakan yang merugikan rakyat,” kata Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) di Jakarta, Kamis (7/4/2022).

Anthony pun merinci kebijakan Harga Ecerang Tertinggi (HET) minyak goreng yang dicabut. Lalu, soal harga minyak goreng yang melonjak di Indonesia sebagai negara produsen sawit terbesar dunia. “Kalau serius memikirkan rakyat, bisa mulai dengan kembalikan HET minyak goreng,” tukasnya.

Pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/4/2022), Jokowi menyatakan, barang-barang kebutuhan pokok sudah mulai naik. “Hati-hati utamanya masalah ketersediaan, pasokan, dua hal tadi pangan maupun energi apalagi ini menjelang Lebaran,” ujarnya.

Jokowi meminta kepada seluruh anggota Kabinet Indonesia Maju mengambil kebijakan dengan tepat. “Sikap-sikap kita, kebijakan-kebijakan kita, pernyataan-pernyataan kita harus memiliki sense of crisis, harus sensitif terhadap kesulitan-kesulitan rakyat,” ucap Jokowi tandas.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui, tantangan dan ancaman yang masyarakat hadapi kini bukan lagi soal pandemi COVID-19, melainkan kenaikan harga barang alias inflasi. Tantangan dan ancaman ini sudah menjadi kenyataan.

Dampak Kenaikan Harga Pertamax terhadap Inflasi

Perang Rusia-Ukraina telah melambungkan harga energi dan komoditas pangan. Pertamina pun sudah tak kuasa lagi mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax di Rp9.000 per liter. Dampak inflasinya langsung nyata kepada pengguna bahan bakar RON 92 ini.

Baca juga
Waspada! Penjahat Siber Kini Gunakan Kode QR untuk Tipu Korban

“Kenaikan harga BBM jenis Pertamax ini lebih kecil dampaknya terhadap inflasi daripada Pertalite. Tambahan inflasi dari kenaikan Pertamax tidak sesignifikan apabila Pertalite yang naik. Ini akan tercermin pada inflasi April 2022,” kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata kepada Inilah.com di Jakarta, Kamis (7/4/2022).

Pertamina secara resmi telah menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax per 1 April 2022, pukul 00.00 waktu setempat. Harga Pertamax naik menjadi Rp 12.500-13.000 per liter dari sebelumnya Rp9.000 per liter.

Menurut Josua, konsumsi Pertalite jauh lebih besar ketimbang Pertamax. Porsinya bisa mencapai 50% dari total konsumsi BBM, termasuk Pertamax, Pertamax Turbo, Pertalite, Dexlite, dan Pertamina Dex. “Pertalite merupakan konsumsi kendaraan umum dan transportasi logistik,” ujarnya.

Ia berharap, kenaikan harga Pertamax tidak berdampak ganda terhadap inflasi turunnanya di sektor-sektor lain. “Jarang kita menemukan kendaraan umum menggunakan Pertamax. Jika pengangkutan telor menggunakan Pertamax baru akan berpengaruh ke inflasi. Mereka pasti memilih BBM semurah mungkin, ya artinya BBM subsidi,” papar Josua.

Josua menegaskan, dampak inflasi Pertamax terhitung kecil dan kondisi masih jauh untuk membawa Indonesia ke dalam resesi ekonomi. Sebab, untuk resesi perlu pertumbuhan ekonomi di angka negatif selama tiga kuartal berturut-turut.

Baca juga
Indonesia Butuh Akselerasi Pengembangan Mobil Listrik

Akan tetapi, bagi pengguna Pertamax, efek inflasinya sangat terasa. Iwan (41) seorang pengendara Jupiter MX menuturkan efek tersebut. Ia mengisi tangki motornya menjadi tidak full tank dengan uang Rp30 ribu.

“Padahal, dengan uang segitu motor saya biasanya luber dan sekarang tangkinya hanya terisi 70 persen,” ungkap Iwan.

Iwan juga mengaku uang Rp30 ribu untuk Pertamax itu biasanya cukup untuk transportasi pulang-pergi dari rumah ke kantor selama sepekan. Iwan beralamat di kawasan Ciputat Tangerang Selatan dan kantornya di Darmawangsa, Jakarta Selatan. “Sekarang, uang Rp30 ribu itu cukup untuk empat hari doang,” ucapnya.

Iwan merupakan satu dari jutaan contoh premotor di Tanah Air yang terdampak kenaikan harga Pertamax. Belum lagi dengan pengguna mobil yang konsumsi BBM-nya jauh lebih banyak.

Faktor Disparitas, Pengguna Pertamax Beralih ke Pertalite

Tak heran, efek inflasi tersebut telah menimbulan disparitas harga sehingga terjadi peralihan dari pengguna Pertamax menjadi konsumen Pertalite. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Alfian Nasution menyebutkan masyarakat yang menjadi konsumen Pertamax berkurang 15 persen akibat kenaikan harga pada 1 April 2022.

Mereka beralih menggunakan Pertalite. “Saat ini ada sedikit pergeseran konsumsi sekitar 10-15 persen dari Pertamax ke Pertalite, mungkin bisa jadi ini karena kaget harganya naik,” kata Alfian.

Josua mengamini, kenaikan harga Pertamax menjadi pemicu disparitas harga. “Orang-orang mampu pun jadi beli Pertalite juga. Padahal, yang tadinya subsidi Pertalite ditujukan untuk ekonomi secara luas, konsumsi BBM mayarakat menengah ke bawah pun jadi tergerus jatahnya,” tukasnya.

Baca juga
IPCC Laporkan Ekspor Kendaraan CBU Melonjak 25,79 Persen di 2021

Keadaan tersebut, kata Josua, yang sejatinya menjadi catatan penting pemerintah. Sebab, subsidi tambahan yang sudah pemerintah gelontorkan sebesar Rp30 triliun sebelum kenaikan harga Pertamax menjadi tidak tepat sasaran.

Kebijakan Sengsarakan Rakyat

Kenaikan harga Pertamax bukan satu-satunya faktor penyumbang inflasi. “Tanpa kenaikan Pertamax pun, harga-harga pangan sudah meningkat karena momentum Ramadan. Belum lagi dengan kenaikan tarif PPN (Pajak Pertambahan Nilai) menjadi 11%,” tuturnya. Begitu juga dengan pencabutan HET minyak goreng.

Sementara dari faktor eksternal, sejumlah harga bahan pokok meningkat karena beberapa faktor, mulai dari tingginya permintaan serta konflik Rusia-Ukraina yang menyebabkan harga komoditas melonjak. Elpiji hingga BBM adalah dua di antara berbagai komoditas yang mengalami kenaikan.

Bahan pangan seperti daging sapi, daging ayam, minyak goreng, bawang putih, terigu, hingga mie instan pun mengalami kenaikan.

Usai Sidang Kabinet Paripurna baru-baru ini, Sri Mulyani meyebutkan kenaikan harga barang memang tak lepas dari kenaikan harga komoditas global, dipicu eskalasi Rusia-Ukraina. Belum lagi dengan ancaman inflasi global yang kian meninggi.

“Ini telah memberikan dampak di satu sisi APBN penerimaan negara akan naik. Namun di sisi lain, masyarakat juga akan merasakan rambatan dari inflasi global,” ucap Sri Mulyani.

Tinggalkan Komentar