Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Kecelakaan Saat Narik Ojol, Pengemudi Grab Bisa Langsung Masuk JMC

Sabtu, 01 Okt 2022 - 14:17 WIB
Ojek online (Ojol). (Foto: Didik Setiawan/Inilah.com).

Menjadi pengemudi transportasi online memang berat dan berisiko. Meleng sedikit bisa kecelakaan. Masalah pengobatan, amanlah karena aplikator gandeng rumah sakit.

Seperti disampaikan Nonot Setiawan, salah satu pengemudi Grab Bike yang bisa seliweran di seputaran Jagakarsa, Jakarta Selatan, membeberkan pengalaman ketika pernah mengalami kecelakaan di daerah Pejaten, Jaksel sekitar Mei lalu.

“Waktu itu ada tulang yang retak, sama kawan-kawan saya di bawa ke RS JMC, langsung ditangani tuh. Ternyata memang ada kerja sama dengan Grab. Tinggal nunjukin aplikasi Grab saja,” ungkap Nonot kepada Inilah.com, Jakarta, Sabtu (1/10/2022).

Apakah layanan kesehatan bagi pengemudi transportasi online itu gratis? Tentu saja tidak. Mama Anggun (40), perempuan pengemudi Grab Bike itu, menyebut adanya potongan lebih dari 20 persen dari tiap rupiah yang dibayar konsumen. Semisal, konsumen harus membayar Rp15 ribu untuk sebuah perjalanan maka jatah untuk pengemudi sekitar Rp10.200, sisanya yang Rp4.800 menjadi jatah aplikator.

Baca juga
Menhub Budi Kerek Tarif Transportasi Online, Pengemudi Ojol di Ujung Tanduk

Masalahnya, jatah aplikator yang Rp4.200 itu setara dengan 32 persen. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 667 Tahun 2022 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan Untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi, yang dirilis 7 September 2022, membatasi biaya potongan aplikasi hingga 20 persen saja.

Sejatinya, jatah 20 persen untuk aplikator tranportasi online, terlalu besar. Sementara driver yang harus berjibaku dengan polusi udara, risiko kecelakaan lalu lintas serta harus modal bahan bakar minyak (BBM), hanya mendapatkan 80 persen.

“Istilahnya, untuk ‘bernafas’ saja, aplikator digaji alias dapat duit. Sementara kami hanya dapat 80 persen, itu pun kotor. Belum kepotong BBM, makan, ngopi, rokok dan beli kuota. Makin berat kena BBM naik,” tandas Herry Suprianto, driver GoJek, Sabtu (1/10/2022).

Baca juga
Korban Tewas Truk Tangki Pertamina Maut Jadi 11 Orang

Saat ini, baik Nonot, Mama Anggun, atau pun Herry, keluhannya sama. Jumlah driver transportasi online sudah overload, aplikatornya saja tumbuh menjadi 5 atau 6 aplikator. Artinya, kompetisi antar sesama driver ojol begitu ketatnya. Sementara pendapatan semakin tak bernilai dibandingkan kenaikan harga barang.

 

 

Tinggalkan Komentar