Senin, 30 Januari 2023
08 Rajab 1444

Kejagung Bongkar Korupsi Waskita Karya, Kementerian BUMN Lepas Tangan

Selasa, 06 Des 2022 - 03:10 WIB
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga dukung Kejagung garap korupsi Waskita Karya, Jakarta, Senin (5/12/2022). (Foto: JPNN)

Kementerian BUMN mendukung langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam membongkar korupsi yang menyeret direktur operasional (dirops) II Waskita Karya berinisial BR sebagai tersangka.

“Seperti yang sudah komitmennya Bapak Menteri BUMN Erick Thohir untuk bersih-bersih BUMN, jadi kita dorong terus yang namanya bersih-bersih BUMN, termasuk dalam kasus ini. Makanya kita support dan mendukung langkah-langkah yang dilakukan Kejagung,” ujar Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga di Jakarta, Senin (5/12/2022).

Arya mengatakan, Kementerian BUMN terus mendukung terkait hal-hal yang dibutuhkan Kejagung. “Jadi kita tetap support terus apa-apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah status hukum di BUMN kita support terus, itu sudah jelas arahan bapak Erick Thohir untuk bersih-bersih BUMN,” katanya.

Baca juga
Kejagung Terima Pelimpahan Tahap I Putri Candrawathi

Sebelumnya, penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung menetapkan Direktur Operasi II PT Waskita Karya (Persero) Tbk periode 2018 hingga saat ini yaitu BR sebagai tersangka korupsi penyimpangan penggunaan fasilitas pembiayaan beberapa bank, Senin (5/12).

Direktur Penyidikan Jampidsus Kejaksaan Agung Kuntadi mengatakan penyidik telah meningkatkan status penyidikan umum ke penyidikan khusus kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan penggunaan fasilitas pembiayaan beberapa bank oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Waskita Beton Precast Tbk dengan menetapkan tersangka berdasarkan dua alat bukti yang cukup.

Kuntadi menjelaskan perbuatan melawan hukum yang dilakukan tersangka adalah menyetujui pencairan dana “Supply Chain Financing” (SCF) dengan dokumen pendukung palsu.

Baca juga
Sidang Perkara Asabri Ricuh, Protes Sidang Harus Terpisah, Jangan Disatukan

Penyidik menetapkan BR melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 juncto Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tinggalkan Komentar