Minggu, 04 Desember 2022
10 Jumadil Awwal 1444

Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al Jailani Bikin Perampok Bertobat

Jumat, 07 Okt 2022 - 04:39 WIB
Ilustrasi : Para Kaum Sufi, termasuk salah satu diantaranya adalah Syeikh Abdul Qadir Al Jailani (Foto: Islamadani)
Ilustrasi : Para Kaum Sufi, termasuk salah satu diantaranya adalah Syeikh Abdul Qadir Al Jailani (Foto: Islamadani)

Kejujuran adalah awal tercapainya kemaslahatan hidup seseorang. Karena kejujuran akan mendorong seseorang untuk berperilaku pada kebaikan yang membuat kemudahan dalam mencapai kebahagiaan.

Perilaku jujur modal dalam menjalani kehidupan dunia yang akan berdampak pula pada kebaikan akhirat buat diri sendiri maupun orang lain.

Di usia kanak-kanak, oleh ibunya Syekh Abdul Qadir al-Jailani diminta untuk menuntut ilmu ke negeri yang jauh. Dia pun menuruti permintaan ibunya.

Abdul Qadir kemudian berangkat bersama serombongan kafilah. Sebagai bekal, ibunya menitipkan uang sebesar 40 dirham yang dijahitkan dalam kantong pakaian Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Di tengah perjalanan rombongan tersebut dirampok, termasuk juga Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Setelah semua orang diperiksa dan diambil harta benda mereka, kepala perampok itu pun berkata kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Baca juga
Kisah Akhlak Para Wali: Abu Yazid dan Pemuda Kaya

“Kami telah menggeledah semua barang dan mengambilnya, tetapi, kami tidak menemukan harta berhargamu. Apakah kamu memiliki uang atau harta, anak muda?”

“Iya, aku memiliki uang 40 dinar,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan jujur.

Di mana kamu menyembunyikannya?”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani pun menunjukkan tempat ibunya menjahitkan uang itu untuknya, dan dengan mudah ditemukan oleh si kepala perampok.

Melihat kejadian itu, kepala perampok menjadi penasaran dan berkata kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

“Mengapa kamu mengatakannya? Padahal kami sudah menggeledah semua barang-barang milikmu dan tidak menemukannya”

Dengan polos dan tenang Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab.

Baca juga
Kebaikan dan Keburukan

“Ibuku berpesan bahwa aku harus berkata jujur, dan itulah yang harus aku lakukan.”

Mendengar penuturan dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini, kepala perampok itu kemudian merasa terpukul. Dia merenung sejenak. Kemudian ia membuka pintu hatinya untuk bertobat kepada Allah SWT.

Nah, saudaraku seiman mari merenungi diri apakah kita sudah berperilaku jujur seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Kejujuran membawa kebaikan bukan hanya untuk diri kita tetapi juga untuk orang lain.

Tinggalkan Komentar