Minggu, 29 Januari 2023
07 Rajab 1444

Kekerasan Senjata; Wabah Tanpa Akhir Bangsa Amerika

Rabu, 25 Jan 2023 - 08:38 WIB
Penulis : DSY
Guns - inilah.com
Ilustrasi dari Verse Magaine

Dengan satu pekan tersisa di bulan Januari, riset LSM Gun Violence Archive menunjukkan sudah ada 38 penembakan massal tahun ini. Penembakan tersebut terjadi dari pantai ke pantai, di 17 negara bagian yang berbeda, juga di District of Columbia. Kecuali, dan sampai keadaan ini berubah, warga Amerika Serikat harus senantiasa siap dibantai.

Oleh    : John Cassidy

Pada Senin sore lalu, ketika jaringan berita kabel sibuk melaporkan kejadian dari Monterey Park, kota bermayoritas penduduk asal Asia di timur Los Angeles, tempat sebelas orang ditembak dan dibunuh pada Sabtu malam, mereka harus memotong berita tentang serangan di sebuah sekolah di pusat kota Des Moines. Dua siswa tewas dan satu lainnya luka parah.

Di hari yang sama datang lagi berita tentang penembakan di Half Moon Bay, sebuah kota di California Utara, yang menewaskan tujuh orang. “Tragedi demi tragedi,” komentar Gubernur California, Gavin Newsom di Twitter.

Dengan satu pekan tersisa di bulan Januari, LSM Gun Violence Archive menunjukkan sudah ada 38 penembakan massal tahun ini. Enam di antaranya berakhir dengan empat orang atau lebih terbunuh. (LSM itu mengklasifikasikan penembakan massal sebagai insiden di mana empat orang atau lebih ditembak, tidak termasuk penembak, dan belum tentu fatal.) Penembakan tersebut terjadi dari pantai ke pantai, di 17 negara bagian yang berbeda, dan District of Columbia. Pembantaian di Star Ballroom Dance Studio di Monterey Park, yang menurut polisi dilakukan oleh seorang pria Asia berusia tujuh puluh dua tahun, adalah yang paling mematikan.

Penghitungan, seperti yang dilakukan Gun Violence, menunjukkan bahwa penembakan massal datang dalam berbagai variasi, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan geng, serangan acak oleh individu yang terganggu, serangan terhadap rekan kerja, dan terorisme domestic. Oleh FBI itu didefinisikan sebagai “tindakan kriminal kekerasan yang dilakukan oleh individu dan/atau kelompok untuk tujuan ideologis lebih lanjut, yang berasal dari pengaruh domestik, seperti yang bersifat politik, agama, sosial, ras, atau lingkungan.”

Baca juga
Indonesia Tidak Akan Hadapi Tren Pengunduran Diri Tenaga Kerja Seperti di Amerika

Pelaku dan korban kekerasan senjata melintasi batas usia, ras, dan latar belakang sosial. Mencoba mengaitkan motif umum atau penjelasan psikologis yang mendasari fenomena multifaset seperti itu adalah pekerjaan bodoh. Tetapi seperti yang ditunjukkan oleh komentator CNN Andrew McCabe, mantan wakil direktur FBI, pada Senin lalu, ada satu hal yang mengikat banyak penembakan massal yang paling mematikan: ketersediaan senjata yang sangat mematikan, seperti pistol semi-otomatis, yang menurut polisi digunakan dalam pembantaian di Monterey Park. Kesamaan inilah yang membedakan Amerika Serikat dari kebanyakan negara maju lainnya, di mana penembakan massal jarang terjadi.

Di hadapan kebenaran yang tak terhindarkan ini, reaksi terhadap setiap pembantaian baru dapat diprediksi secara menyedihkan: penyangkalan dan kebingungan berkaitan kuatnya lobi mereka yang berkepentingan dengan senjata dan antek-antek politiknya; serta perasaan putus asa di pihak mayoritas, yang mendukung pengetatan dari undang-undang senjata. Setelah penembakan Sabtu lalu, Partai Republik telah membuat argumen bahwa negara bagian seperti California dan Illinois memiliki undang-undang kontrol senjata yang ketat tetapi toh kekerasan belum berhenti. Argumen ini dengan mudah mengabaikan fakta bahwa banyak senjata yang digunakan untuk melukai atau membunuh orang di tempat-tempat seperti California dan Illinois, telah diimpor secara ilegal dari negara bagian dengan undang-undang senjata yang lebih longgar.

Jadi bukan itu masalahnya. Menurut laporan berbagai media Senin lalu, penembak yang melepaskan tembakan di Star Ballroom Dance Studio menggunakan senjata yang legal untuk dibeli di California beberapa dekade lalu. Belum jelas kapan dan bagaimana dia mendapatkannya. Namun, bagaimanapun, seperti yang dilaporkan Washington Post, bukti menunjukkan bahwa undang-undang senjata California, beberapa di antaranya disahkan pada tahun 1990-an, sebenarnya telah membantu mengurangi kekerasan senjata. Di antara 50 negara bagian, California menempati urutan ketujuh terendah dalam tingkat kematian akibat senjata api, dan di bawah rata-rata kematian akibat penembakan massal.

Baca juga
China Kecam Kunjungan Pelosi, Langsung Gelar Latihan Militer di Dekat Taiwan

Namun, tidak diragukan lagi kebenarannya, dengan tidak adanya undang-undang senjata yang lebih efektif di tingkat nasional, kecil kemungkinan untuk mencegah lebih banyak kematian massal karena senjata. Juni lalu, tak lama setelah seorang mantan siswa berusia delapan belas tahun menembak mati 19 anak kecil di Sekolah Dasar Robb di Uvalde, Texas, Kongres — untuk pertama kalinya dalam tiga dekade — mengesahkan undang-undang senjata bipartisan, yang memperluas pemeriksaan latar belakang untuk pembeli senjata di bawah 21. Kongres juga menyediakan dana federal untuk negara bagian yang memperkenalkan undang-undang “bendera merah”, yang memungkinkan hakim mencabut kepemilikan senjata api dari orang-orang yang dianggap sebagai ancaman serius bagi orang lain.

Meski disambut baik, reformasi itu tidak cukup untuk mengatasi skala masalah, dan kebanyakan orang Amerika mengetahui dengan baik soal itu. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Pew Research, 78 persen responden mengatakan bahwa undang-undang yang baru tidak akan banyak atau bahkan tidak sama sekali bisa mengurangi kekerasan senjata.

Dengan Partai Republik mengendalikan DPR saat ini, hampir tidak ada peluang untuk berlanjutnya proses undang-undang kontrol senjata di Kongres. Sementara di tingkat lokal, undang-undang senjata mungkin lebih longgar setelah keluarnya keputusan Mahkamah Agung tahun lalu, untuk melegalkan undang-undang pembersihan di negara bagian New York, yang telah dibukukan selama satu abad.

Baca juga
AS Blacklist Drone DJI Karena Ikut Langgar HAM Muslim Uighur China

Dalam pendapat yang kontroversial dan tidak beralasan untuk mayoritas konservatif, Hakim Clarence Thomas berpendapat bahwa Amandemen Kedua menciptakan hak luas untuk membawa senjata api di depan umum untuk membela diri. Sejak keputusan Mahkamah Agung, sejumlah hakim di pengadilan yang lebih rendah di seluruh negeri telah mengeluarkan putusan yang menghalangi atau merobohkan undang-undang senjata setempat.

Menurut sebuah laporan The Hill, para hakim dalam kasus-kasus ini mengatakan tidak konstitusional untuk melarang senjata yang tidak memiliki nomor seri, untuk menghentikan mereka di bawah dakwaan kejahatan dari membeli senjata, atau melarang senjata di bandara atau bahkan perkemahan musim panas.

Pelajaran penting dari penembakan massal Amerika, termasuk yang terbaru, adalah bahwa masing-masing adalah insiden individu, yang melibatkan keadaan yang berbeda, motivasi yang berbeda, korban yang berbeda. Kita harus selalu berhati-hati untuk mengenali kekhususan ini, serta kerugian yang tak terbayangkan yang diderita oleh para korban dan keluarga mereka.

Tetapi kita tidak boleh melupakan fakta bahwa semua tragedi ini terjadi dalam budaya yang telah memfasilitasi keuntungan penjualan senjata yang mematikan, sehingga relatif mudah bagi orang-orang dengan niat jahat untuk mendapatkannya. Kecuali, dan sampai keadaan ini berubah, warga Amerika Serikat harus senantiasa siap dibantai. [ The New Yorker]

Tinggalkan Komentar