Senin, 05 Desember 2022
11 Jumadil Awwal 1444

Kekeringan Terburuk Landa Eropa hingga China, Sungai Kering Ancam Hasil Panen

Jumat, 26 Agu 2022 - 15:50 WIB
Kekeringan Terburuk Landa Eropa hingga China, Sungai Kering Ancam Hasil Panen
Ilustrasi Kekeringan Eropa dan China (Inilah.com/Haviez Ali)

Bencana kekeringan hebat terus melanda sejumlah kawasan di Eropa, bahkan kekeringan juga terasa hingga semenanjung China.

Kekeringan di Eropa yang membuat sungai-sungai mengering, diprediksi menurunkan hasil panen sekitar 15 persen. Bencana ini jadi yang terburuk selama ratusan tahun.

“Kekeringan saat ini tampaknya masih menjadi yang terburuk sejak setidaknya 500 tahun,” kata Riset Gabungan Komisi Eropa dalam laporan terbarunya.

Menurut penelitian tersebut, defisit curah hujan yang parah mempengaruhi pertanian dan meningkatkan risiko kebakaran hutan yang menciptakan ‘situasi yang mengkhawatirkan’. Sebanyak 64 persen wilayah UE mendapatkan peringatan atau siaga.

Vegetasi dan tanaman menunjukkan efek negatif dari kekeringan di 17 persen dari wilayah Uni Eropa.

Baca juga
PBB Didesak Jatuhkan Sanksi pada China untuk Pelanggaran HAM Muslim Uighur

Komisi Uni Eropa memperkirakan hasil jagung, kedelai, dan bunga matahari masing-masing akan menurun 16 persen, 15 persen, dan 12 persen.

Sementara di China, gelombang panas terparah dalam sejarah membuat danau kering, listrik padam, sampai kebakaran hutan.

Gelombang panas di China juga berpotensi menjadi yang terpanjang di dunia. Pada 15 Agustus, gelombang panas di China telah berlangsung 64 hari. Ini adalah rekor terpanjang sejak 1961.

Pada 18 Agustus 2022, suhu di Chongqing mencapai 45 derajat Celcius. Ini menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di luar wilayah Xinjiang.

Volume air di Sungai Yangtze dan danau utama di lembahnya, Dongting dan Poyang, turun ke level paling rendah. Padahal sungai Yangtze menjadi hajat hidup orang banyak, menyediakan air bagi ratusan juta orang China.

Baca juga
80 Ribu Lebih Wisatawan Terdampar di Hainan Akibat Temuan Omicron

Kekurangan air ini menimbulkan segudang permasalahan. Pekan depan, misalnya, seharusnya menjadi panen musim gugur beras, biji-bijian, dan tanaman lainnya di lembah Yangtze.

Beberapa wilayah telah melakukan modifikasi cuaca dengan cara penyemaian awan. Selain masalah gagal panen, China dihadapkan dengan masalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Beberapa provinsi seperti Sichuan di China barat daya mengandalkan listrik dari PLTA. Tapi akibat kekeringan, volume air di waduk setempat berada di titik terendah membuat sejumlah PLTA berhenti beroperasi untuk sementara waktu.

Tinggalkan Komentar