Jumat, 27 Mei 2022
26 Syawal 1443

Kekhawatiran Permintaan China dan Resesi Global Jatuhkan Harga Minyak

Permintaan China dan Resesi Global Jatuhkan Harga Minyak - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Bersama dengan pasar saham di Asia, Harga minyak tergelincir pada Senin (9/5/2022) sore. Hal ini terpicu oleh data China yang lemah dan kekhawatiran resesi global.

Pasar berekspektasi, kondisi tersebut  dapat mengurangi permintaan minyak. Pada saat yang sama, investor mengamati pembicaraan Uni Eropa tentang embargo minyak Rusia yang dapat memperketat pasokan global.

Harga minyak mentah berjangka Brent kehilangan 41 sen atau 0,4 persen, menjadi diperdagangkan di 111,98 dolar AS per barel pada pukul 06.03 GMT. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 53 sen atau 0,5 persen, menjadi diperdagangkan di 109,24 dolar AS per barel.

Kedua kontrak acuan sempat berubah positif setelah jatuh lebih dari satu dolar AS di awal sesi perdagangan.

“Sentimen penghindaran risiko yang lebih luas dipicu oleh kekhawatiran resesi, dan penguncian China adalah faktor utama yang menekan harga minyak,” kata Analis CMC Markets, Tina Teng.

Baca juga
Dugaan Kejahatan Perang Rusia Buat Harga Minyak Merangsek Naik

Pasar keuangan global juga telah dihantui oleh kekhawatiran atas kenaikan suku bunga dan kekhawatiran resesi karena penguncian COVID-19 yang lebih ketat dan lebih luas di China menyebabkan pertumbuhan ekspor yang lebih lambat di ekonomi nomor dua dunia pada April.

Impor minyak mentah oleh China, importir minyak utama dunia, naik hampir 7,0 persen pada April dari tahun sebelumnya meskipun impor untuk empat bulan pertama turun 4,8 persen tahun tersebut.

Pemotongan harga oleh Arab Saudi juga mencerminkan kekhawatiran atas permintaan minyak global, kata Teng. Arab Saudi, pengekspor minyak utama dunia, menurunkan harga minyak mentah buat Asia dan Eropa untuk Juni pada Minggu (8/5/2022).

Baca juga
The Fed Jalankan Tappering, Sri Mulyani Jamin Indonesia Aman

Pekan lalu Komisi Eropa mengusulkan embargo bertahap terhadap minyak Rusia sebagai bagian dari paket sanksi terberatnya atas konflik di Ukraina, meningkatkan harga minyak Brent dan WTI untuk minggu kedua berturut-turut. Namun, proposal tersebut membutuhkan suara bulat di antara anggota Uni Eropa minggu ini.

Proposal Uni Eropa diikuti oleh janji oleh negara-negara G7 pada Minggu (8/5/2022) untuk melarang atau menghapus impor minyak Rusia. Washington juga memberlakukan sanksi baru terhadap eksekutif Gazprombank dan bisnis lainnya.

Jepang, bagian dari G7 dan salah satu dari lima importir minyak mentah terbesar dunia, pada prinsipnya akan melarang impor minyak mentah Rusia, kata Perdana Menteri Fumio Kishida, Minggu (8/5/2022).

“Tampaknya tak terelakkan bahwa baik Uni Eropa dan Jepang akan bersaing untuk mendapatkan lebih banyak pasokan non-Rusia di masa depan, dan ini menopang harga,” kata Analis Senior OANDA, Jeffrey Halley, dalam sebuah catatan.

Baca juga
Minyak Dunia Mahal, Pertamax Siap-siap Melejit di Atas Rp14.000/Liter

Namun demikian Wakil Perdana Menteri Bulgaria Assen Vassilev mengatakan pada Minggu (8/5/2022) bahwa negaranya akan memveto sanksi minyak Uni Eropa terhadap Rusia jika tidak mendapatkan pengurangan dari larangan yang diusulkan.

“Pembicaraan akan berlanjut besok, Selasa (10/5/2022), pertemuan para pemimpin mungkin diperlukan untuk menyimpulkannya. Posisi kami sangat jelas. Jika ada pengurangan untuk beberapa negara, kami ingin mendapatkan pengurangan juga,” Vassilev kepada televisi nasional BNT.

Bulgaria sebelumnya mengatakan akan mencari pengecualian dari larangan minyak Rusia yang diusulkan jika pilihan tersebut diizinkan, tetapi tidak jelas apakah negara itu mencari pengecualian penuh atau penundaan serupa dengan yang diusulkan pada Jumat (6/5/2022) untuk Hongaria, Slovakia, dan Republik Ceko.

Tinggalkan Komentar