Rabu, 17 Agustus 2022
19 Muharram 1444

Kekhawatiran Resesi Buat Minyak Jatuh ke Terendah sebelum Invansi Ukraina

Jumat, 05 Agu 2022 - 07:22 WIB
Kekhawatiran Resesi Buat Minyak Jatuh ke Terendah Pra-Invansi Ukraina - inilah.com
(Foto: iStockphoto.com)

Harga minyak jatuh pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (5/7/2022) pagi WIB. Angkanya mencapai level terendah di posisi sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada Februari. Para pedagang resah atas kemungkinan resesi ekonomi tahun ini yang meningkatnya kekhawatiran dapat menghambat permintaan energi.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September kehilangan US$2,12 atau 2,3 ​​persen, menjadi menetap di US$88,54 per barel di New York Mercantile Exchange, penyelesaian pertama di bawah ambang 90 dolar per barel sejak 2 Februari.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober merosot US$2,66 atau hampir 2,8 persen, menjadi ditutup pada US$94,12 per barel di London ICE Futures Exchange, penyelesaian terendah sejak 18 Februari.

Baca juga
Maskapai Ukraina Ganti Seragam Pramugari, Kini Pakai Sepatu Nike

Kemunduran harga terjadi setelah aksi jual di pasar minyak, dengan standar harga minyak mentah AS dan Brent masing-masing anjlok 4,0 persen dan 3,7 persen, pada Rabu (3/8/2022).

Data yang dirilis Rabu menunjukkan lonjakan stok minyak mentah AS pekan lalu, memicu kekhawatiran atas pelemahan permintaan.

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan persediaan minyak mentah negara itu meningkat 4,5 juta barel selama pekan yang berakhir 29 Juli. Para analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan penurunan 1,7 juta barel dalam pasokan minyak mentah.

“Tampaknya pelemahan dari Rabu menyusul permintaan bensin tersirat AS yang lebih lemah dari perkiraan, bersama dengan terobosan level dukungan teknis pada Kamis (4/8/2022), telah menyeret minyak lebih rendah,” kata Analis UBS, Giovanni Staunovo.

Baca juga
China Kecam Sanksi Barat untuk Rusia

Prospek permintaan tetap diliputi oleh meningkatnya kekhawatiran tentang kemerosotan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, tekanan utang di negara-negara berkembang, dan kebijakan nol COVID-19 yang ketat di China, importir minyak terbesar dunia.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, pada Rabu (3/8/2022) memutuskan akan meningkatkan produksi sebesar 100.000 barel per hari untuk September.

Tinggalkan Komentar