Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Kekhawatiran Suku Bunga Agresif AS Mencuat Lagi, Harga Minyak Tergerus

Jumat, 18 Nov 2022 - 09:01 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Harga Minyak Menanjak Lantaran Kekhawatiran Pasokan - inilah.com
(Foto: iStockphoto.com)

Harga minyak anjlok lebih dari tiga persen pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (18/11/2022) pagi WIB. Emas hitam ini mengalami tekanan negatif oleh kekhawatiran kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif.

Begitu juga dengan meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di China yang menambah kekhawatiran permintaan di pihak importir minyak mentah terbesar dunia itu.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari terpuruk 3,08 dolar AS atau 3,3 persen, menjadi menetap di 89,78 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, setelah merosot 1,1 persen sehari sebelumnya.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) tergelincir 3,95 dolar AS atau 4,6 persen, menjadi ditutup pada 81,64 dolar AS per barel New York Mercantile Exchange, setelah jatuh 1,5 persen pada Rabu (16/11/2022).

“Ini semacam pukulan tiga kali lipat. Kami memiliki kasus COVID-19 yang meningkat di China, suku bunga terus meningkat di sini di AS dan sekarang kami memiliki pelemahan teknis di pasar,” kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial.

Baca juga
Penelitian Kekebalan Komunitas Terhadap COVID-19 Rampung Desember 2021

Presiden Federal Reserve (The Fed) St. Louis, James Bullard mengatakan aturan kebijakan moneter dasar akan mengharuskan suku bunga naik setidaknya ke sekitar 5,0 persen, sementara asumsi yang lebih ketat akan merekomendasikan suku bunga di atas 7,0 persen.

Dolar AS juga naik karena investor mencerna data ekonomi AS. Dolar yang lebih kuat membuat minyak berdenominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

China melaporkan peningkatan infeksi COVID-19 setiap hari dan kilang-kilang China telah diminta mengurangi volume minyak mentah Saudi pada Desember, Reuters melaporkan, sementara juga memperlambat pembelian minyak mentah Rusia.

Baca juga
Varian Baru COVID-19 B.1.1.529 Berasal dari Afrika, Pakar: Belum Tentu Akan Lebih Berbahaya

Meskipun beban kasus COVID-19 di China lebih kecil daripada negara lain, importir minyak mentah terbesar di dunia ini mempertahankan kebijakan ketat untuk meredam wabah awal, mengurangi permintaan bahan bakar.

Pada indikator teknis, kontrak berjangka bulan depan AS turun di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, memicu likuidasi oleh para dana, kata Kissler, menambahkan dia memperkirakan tekanan akan berlanjut awal minggu depan.

“Pasar benar-benar terperangkap dalam potensi kehancuran permintaan yang serius, dan kami pasti melihat perubahan mood ke sisi negatifnya,” kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures.

Polandia dan NATO pada Rabu (16/11/2022) mengatakan sebuah rudal yang jatuh di dalam negara itu mungkin ditembakkan oleh pertahanan udara Ukraina dan bukan serangan Rusia, meredakan kekhawatiran perang Rusia-Ukraina dapat meluas.

“Syukurlah, ketakutan itu telah mereda dan situasi menurun, yang membuat keuntungan minyak hilang,” kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA. “China tetap menjadi risiko penurunan minyak dalam waktu dekat.”

Baca juga
Harapan Pasokan dari Venezuela Picu Pelemahan Harga Minyak

Minyak mendapat dukungan dari angka resmi yang menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan 5 juta barel dalam pekan terakhir.

Pasokan juga mengetat pada November karena OPEC dan sekutunya, yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+, menerapkan kontrol produksi terbaru mereka untuk mendukung pasar.

Tinggalkan Komentar