Rabu, 01 Februari 2023
10 Rajab 1444

Kelola Duit Rp607 Triliun, Presiden Jokowi Minta BPJamsostek Hati-hati Jangan Tekor

Jumat, 07 Okt 2022 - 20:52 WIB
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Anggoro Eko Cahyo. (Foto:Pikiran Rakyat).

Dalam mengelola dana anggota senilai Rp607 triliun, Presiden Jokowi mewanti-wanti BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek) untuk ekstra hati-hati. Investasi jangan sampai kejeblos alias merugi.

Hal itu disampaikan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Anggoro Eko Cahyo usai bertemu Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/10/2022).

“(Presiden) berharap, pesan titip dana yang Rp607 triliun itu, titip diinvestasikan dengan baik, hati-hati. Karena itu uang yang sangat besar, uang para pekerja,” kata Anggoro.

Anggoro mengatakan, BPJS Ketenagakerjaan sudah menyesuaikan portofolio investasinya sejalan dengan perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global.

Direktur Investasi BPJS Ketenagakerjaan Edwin Michael Ridwan mengatakan pihaknya selama 19 bulan terakhir telah menyesuaikan portofolio investasi untuk menerapkan mitigasi dan beradaptasi dengan profil risiko yang ada.

Baca juga
5 Tips Perencanaan Keuangan bagi Pasangan Muda

Beberapa upaya mitigasi itu antara lain pengurangan porsi investasi di saham dan menjual sejumlah kepemilikan di Surat Utang Negara (SUN) untuk kemudian membeli produk investasi yang prospektif sesuai tren kenaikan imbal hasil (yield) instrumen keuangan.

“Kita selalu forward looking dan kita antisipatif dan bukan reaktif sehingga sejak kita masuk itu komposisi kita masuk di saham 17 persen dan kita kurangi terus dan tidak menambah penempatan di saham,” kata dia.

BPJS Ketenagakerjaan, kata Edwin, juga menjual kepemilikan di SUN. dan membeli produk obligasi negara tenor 10 tahun. Harapannya, mendapat keuntungan dari tren kenaikan imbal hasil di atas tujuh persen sejalan dengan era kenaikan suku bunga di pasar global saat ini.

Baca juga
Rayakan Harpelnas, Direksi BPJAMSOSTEK Terjun Langsung Beri Pelayanan

“Kita sudah membelanjakan sekarang, karena kita melihat bahwa produk dari suku bunga, terutama obligasi negara yang 10 tahun sekarang sudah di atas tujuh persen, jadi kita banyak belanja,” ujar Edwin.

Tinggalkan Komentar