Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Kembali Melonjak, Pengulangan Infeksi COVID-19 Lebih Menakutkan

Senin, 14 Nov 2022 - 05:25 WIB
Infeksi Covid-19
(ilustrasi)

Kasus COVID-19 di Indonesia mengalami lonjakan akhir-akhir ini. Hal terimbas masuknya sub varian Omicron XBB yang bisa memunculkan gelombang baru pandemi. Kewaspadaan tinggi harus dilakukan apalagi studi baru mengungkapkan, pengulangan COVID-19 lebih berisiko daripada infeksi pertama.

Pemerintah melaporkan tambahan kasus baru positif virus Corona pada Minggu (13/11/2022) sebanyak 4.877 kasus. DKI Jakarta menjadi provinsi penyumbang kasus terbanyak, yaitu 2.261 kasus.

Dengan adanya penambahan kasus harian ini, total kasus Corona di Indonesia sejak Maret 2020 hingga hari ini berjumlah 6.561.504 kasus. Sementara kasus sembuh tercatat 4.347 sehingga total menjadi 6.352.606.

Selain itu, 36 pasien COVID-19 dinyatakan meninggal dunia dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, jumlah kasus kematian akibat Corona di Indonesia menjadi 159.104.

Berdasarkan data sebaran Minggu, kasus COVID-19 paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dengan 2.261 kasus. Provinsi Jawa Barat menjadi penyumbang kasus harian terbanyak kedua dengan 706 kasus.

Sementara berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tambahan kasus COVID-19 selama sepekan terakhir (3-9 November) mencapai 35.248 atau melonjak 47,3 persen dibandingkan pekan sebelumnya (27 Oktober-2 November) yang menembus 23,39 persen.

Penambahan kasus sebanyak 35.248, melonjak signifikkan dibandingkan pada pekan kedua Oktober 2022. Pada pekan kedua Oktober (6-12 Oktober), kasus COVID-19 di Indonesia mencapai 11.586. Artinya, kasus COVID-19 sudah naik tiga kali lipat lebih atau 204 persen dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Baca juga
Kenangan Doni Monardo untuk Almarhum Achmad Yurianto

Lonjakan kasus ini terjadi menyusul masuknya varian Omicron XBB. Subvarian baru Omicron ini sudah mendominasi di Indonesia sejak tiga minggu terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh penularannya yang lebih cepat dengan puncak kasus diperkirakan setara dengan BA.4 dan BA.5 yang menyebar pada Juli hingga Agustus 2022.

Kementerian Kesehatan mengumumkan jika varian tersebut sudah terdeteksi di Indonesia pada 22 Oktober lalu. Selain itu, pemerintah menduga kenaikan kasus aktif COVID-19 dalam beberapa waktu terakhir juga disebabkan karena mulai loggarnya kesadaran masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, saat ini varian XBB di Indonesia lebih mendominasi. Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan Kemenkes, sebaran XBB di Batam mencapai angka 48 persen.

“Berdasarkan hasil penulusuran untuk lokasi di Batam ya, ada 48 persen. Jadi, lebih banyak di sana karena tempat keluar dan masuk atau transit,” kata Maxi Rein.

Lonceng bahaya

Lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia akhir-akhir ini harus menjadi perhatian. Ibarat lonceng bahaya, semua pihak harus waspada agar tidak terjadi lagi gelombang baru pandemi COVID-19. Apalagi dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan Kamis (10/11/2022), menyebutkan, risiko kematian, rawat inap, dan masalah kesehatan serius akibat COVID-19 melonjak secara signifikan gara-gara infeksi ulang dibandingkan serangan pertama dengan virus, terlepas dari status vaksinasi.

Baca juga
Digugat MSU Rp56 Miliar, YLKI: Korban Meikarta Dilindungi UUPK

“Infeksi ulang dengan COVID-19 meningkatkan risiko hasil akut dan jangka panjang,” kata Dr Ziyad Al-Aly dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St Louis, mengutip Reuters. “Ini terbukti pada orang yang tidak divaksinasi, divaksinasi, dan suntikan booster.”

Temuan diambil dari data Departemen Urusan Veteran AS yang dikumpulkan dari 1 Maret 2020 hingga 6 April 2022 pada 443.588 pasien dengan satu infeksi SARS-CoV-2, 40.947 dengan dua infeksi atau lebih, dan 5,3 juta orang yang tidak terinfeksi. Sebagian besar subjek penelitian adalah laki-laki.

Pasien yang terinfeksi ulang memiliki risiko kematian lebih dari dua kali lipat dan risiko rawat inap lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan mereka yang terinfeksi COVID-19 hanya sekali. Mereka juga memiliki risiko tinggi untuk masalah paru-paru, jantung, ginjal, diabetes, kesehatan mental, tulang dan otot, dan gangguan neurologis, menurut laporan yang diterbitkan di Nature Medicine.

“Bahkan jika seseorang memiliki infeksi sebelumnya dan divaksinasi – yang berarti mereka memiliki kekebalan ganda dari infeksi sebelumnya ditambah vaksin – mereka masih rentan terhadap hasil yang merugikan setelah infeksi ulang,” kata Al-Aly, yang juga pemimpin studi.

Studi juga menemukan, orang dengan infeksi berulang lebih dari tiga kali lebih mungkin untuk mengembangkan masalah paru-paru, tiga kali lebih mungkin untuk menderita kondisi jantung dan 60 persen lebih mungkin untuk mengalami gangguan neurologis dibandingkan pasien yang telah terinfeksi hanya sekali. Risiko yang lebih tinggi paling menonjol pada bulan pertama setelah infeksi ulang tetapi masih terlihat enam bulan kemudian.

Baca juga
Menakar Peluang JIS jadi Home Base Persija Jakarta

Risiko kumulatif dan beban infeksi berulang meningkat dengan jumlah infeksi, bahkan setelah memperhitungkan perbedaan varian COVID-19 seperti Delta, Omicron dan BA.5, kata para peneliti.

“Kami mulai melihat banyak pasien datang ke klinik dengan suasana tak terkalahkan,” kata Al-Aly. “Mereka bertanya-tanya, ‘Apakah infeksi ulang benar-benar penting?’ Jawabannya adalah ya, itu benar-benar terjadi.”

Dengan lonjakan kasus COVID-19 ini, orang-orang harus menyadari bahwa infeksi ulang memiliki konsekuensi yang berat sehingga harus diambil tindakan pencegahan. Menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan penggunaan masker kembali menjadi cara ampuh untuk menghindari risiko terinfeksi COVID-19 yang berulang. [ikh]

Tinggalkan Komentar