Rabu, 18 Mei 2022
17 Syawal 1443

Kemenag Memperluas Pintu Keberangkatan Haji tak Hanya dari Jakarta

Kemenag Memperluas Pintu Keberangkatan Haji tak Hanya dari Jakarta

Kementerian Agama (Kemenag) berupaya untuk memperluas pintu keberangkatan jamaah ibadah umrah Indonesia dari beberapa provinsi lain.

Kemenag memperluas pintu keberangkatan agar jamaah yang berangkat tidak hanya terpusat dari ibukota Jakarta saja.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief mengatakan kebijakan tersebut perlu atas dasar tingginya animo masyarakat untuk beribadah umrah meski masih di tengah COVID-19.

“Insya Allah dalam waktu dekat sudah banyak yang bisa menerbangkan (jamaah umrah). Kita juga usulkan dari Makasar, dari Medan, bisa berangkat sehingga tidak usah ke Jakarta,” kata Hilman di Banda Aceh, Jumat (11/3/2022).

Baca juga
Sudi Sialalhi, Mensesneg Era SBY Tutup Usia

Ia menjelaskan selama ini pemerintah masih menerapkan skema kebijakan satu pintu (one gate policy) untuk keberangkatan ibadah umrah. Sehingga seluruh jamaah dari setiap provinsi di Tanah Air harus berangkat menuju Arab Saudi dari Jakarta.

Pemerintah Indonesia mulai melepas jamaah ibadah umrah pada awal Januari 2022 setelah beberapa tahun terakhir tidak mengirim jamaah akibat COVID-19.

Hingga saat ini, jamaah umrah asal Indonesia yang sudah berangkat ke Tanah Suci lebih dari 40.000 orang, sehingga perlu perluasan kebijakan satu pintu.

“Alhamdulillah sudah lebih dari 40 ribu orang jamaah umrah Indonesia. Jadi kebijakan satu pintu akan diperluas, ya,” kata Hilman.

Baca juga
Angkat Jenderal Aktif Jadi Dirjen, Menteri KP Trenggono Dinilai Ancam Demokrasi

Dia mengatakan, Pemerintah Arab Saudi tidak lagi memberlakukan kebijakan yang mewajibkan para jamaah umrah untuk wajib memakai masker, menjaga jarak, mengikuti karantina, serta menunjukkan hasil negatif tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR).

Kendati demikian, Pemerintah Indonesia tetap ingin memastikan bahwa jamaah umrah yang berangkat sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19 yang lengkap.

“Karena kalau PCR tidak ada, karantina tidak ada, maka ujung-ujungnya vaksinasi lengkap. Kita imbau jamaah sadar untuk melengkapi vaksinasinya,” katanya.

Tinggalkan Komentar