Sabtu, 26 November 2022
02 Jumadil Awwal 1444

Kemenkes: Kasus Gagal Ginjal Akut Tinggal 11 Anak

Jumat, 25 Nov 2022 - 03:15 WIB
Sebab Gagal Ginjal Akut
Juru Bicara (Jubir) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Mohammad Syahril saat temu media virtual, Kamis (24/11/2022) (Foto: tangkapan layar)

Juru Bicara (Jubir) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Mohammad Syahril mengatakan sejak dua minggu terakhir sudah tidak ada penambahan kasus baru gagal ginjal akut

“Jadi pertanggal 23 November terdata 27 provinsi dengan total 324 dan yang saat ini masih dirawat 11 orang. Meninggal 200 dengan yang sembuh 133 orang,” ujarnya saat temu media virtual, Jakarta, Kamis (24/11/2022).

Gagal ginjal akut dapat menyebabkan anuria atau hilangnya jumlah buang air kecil (BAK) pada anak. Berdasarkan laporan terkahir dari Kementerian kesehatan (Kemenkes), kasus gagal ginjal menyentuh angka 324 kasus dengan 200 orang meninggal. Selain itu, Kemenkes melaporkan 11 pasien masih rawat inap dengan stadium 3.

Baca juga
53 Persen Pasien Gagal Ginjal Akut Sama Sekali Tidak Mengeluarkan Urine

“Masih sisa 11 pasien dan masuk stadium 3 artinya sudah tidak keluar air kencing, tapi masih bisa sembuh,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Kemenkes telah memberikan obat penawar gagal ginjal akut femopizole sehingga semakin banyak anak-anak yang bisa sembuh. Masih menurutnya, Dinas Kesehatan memiliki tanggung jawab untuk melakukan pemantauan terhadap pasien gagal ginjal yang telah pulang ke rumah.

“Jadi setelah pulang kerumah maka Dinas Kesehatan  mempunyai kewajiban untuk pasien yang pulang dikontrol,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Togi Junice Hutadjulu menjelaskan pihaknya segera melakukan pemeriksaan terkait obat-obatan yang diduga terkontaminasi bahan kimia.

Baca juga
Kemenkes Datangkan 200 Vial Fomepizole untuk Sembuhkan Ginjal Akut

“Kejadian pada awal oktober dari Kemenkes kita langsung melakukan investigasi dan juga melakukan sampling dari obat-obatan dan testing. Dari situ, kita bisa menetapkan obat yang aman dan tidak memenuhi syarat,” tegasnya.

Masih menurutnya, pihaknya sampai saat ini masih melakukan penelitian terhadap obat yang terkontaminasi bahan kimia etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG).

“Memang sebenarnya tugas rutin juga untuk melakukan survei tersktruktur terhadap laporan dari masyarakat atau fasilitas kesehatan. Kami akan melakukan sampling dan pengujian tersebut,” tegasnya.

Tinggalkan Komentar