Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Kenaikan Tarif Royalti Batu Bara Bakal Gerus Margin ITMG dan ADRO

Kenaikan Tarif Royalti Batu Bara Bakal Gerus Margin ITMG dan ADRO - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Analis menilai rencana kenaikan tarif royalti batu bara sebesar 20% untuk pemegang IUPK dan PKP2B sebagai kebijakan sensitif. Margin emiten-emiten di sektor batu bara pemegang izin tersebut bakal tergerus signifikan. Tak terkecuali, emiten PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).

Analis Panin Sekuritas Timothy Wijaya mengatakan hal tersebut. Ia mengomentari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengumumkan wacana peningkatan tarif royalti batu bara. Angka royalti tersebut menjadi 20% dari sebelumnya 13,5%. Rencana ini berlaku bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B)

Selain itu, kata dia, pemerintah juga mengusulkan tarif royalti tersebut bersifat progresif. Jika harga batu bara mencapai US$70 per metrik ton, tarif royaltinya sebesar 14%. Jika harga batu bara melebihi US$100 per metrik ton, tarif royaltinya mencapai 24%.

Baca juga
Tak Masuk Akal Jokowi Naikkan Harga Pertalite Cs

“Tujuan dari skema peningkatan royalti tersebut adalah agar pemerintah mampu mendapatkan PNBP atau Penerimaan Negara Bukan Pajak yang semakin tinggi di tengah kenaikan harga batu bara global,” kata Timothy di Jakarta, Rabu (9/3/2022).

Kenaikan Tarif Royalti Gerus Margin Emiten

Menurut dia, kenaikan royalti itu sangat sensitif bagi emiten-emiten pemegang IUPK dan PKP2B. Sebab, kenaikan dari 13,5% ke 20% merupakan kenaikan yang signifikan, yaitu sebesar 6,5% atau 50% peningkatan dari persentase sebelumnya.

“Sementara pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) hanya kena biaya royalti 3%, 5%, atau 7% berdasarkan kalori batu bara yang mereka tambang,” ungkap dia.  “Perbedaan IUP dan IUPK-PKP2B ini cukup signifikan dari sisi biaya royaltinya.”

Baca juga
Mandiri Institute: Akhir 2021, UMKM Malah Tancap Gas

Dari coverage Panin Sekuritas, Timothy melihat ITMG dan ADRO sama-sama memiliki izin PKP2B. “Ini tentunya potensial memberatkan dan menurunkan margin perseroan ke depannya jika kebijakan tersebut benar-benar terimplementasi. Saat ini masih dalam pertimbangan di Kementerian Keuangan,” papar dia.

Untuk saham-saham di sektor pertambangan batu bara alias coal mining, menurut dia, pihaknya masih masih dalam posisi under review alias masih dalam peninjauan. “Tapi, secara umum masih optimistis jika melihat harga batu bara yang cukup baik pengaruhnya terhadap kinerja fundamental saham-saham di sektor pertambangan batu bara,” timpal Timothy.

Pada Februari lalu, harga batubara sudah menguat 38,22% secara bulanan (month on month). Sementara itu jika dihitung dari awal 2022 atau secara year to date, harga batu bara telah menguat hingga 233,83 persen.

Baca juga
IHSG di Zona Hijau, Waspadai Profit Taking di Saham-saham Batu Bara

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira, memasuki Maret 2022, harga batu bara kembali menyentuh level US$446 per metrik ton. Sementara terakhir, harga batu bara di Newcastle turun 2,15% ke US$425,65.

Pada sesi pertama perdagangan saham Rabu (9/3/2022), saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) berakhir melemah 225 (0,8%) ke posisi Rp28.075 per unit saham. Begitu juga dengan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang turun 50 poin (1,6%) ke posisi 3.070 per unit saham.

Disclaimer: Pelajari dengan teliti sebelum membeli atau menjual saham. Inilah.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor.

Tinggalkan Komentar