Rabu, 25 Mei 2022
24 Syawal 1443

Kendala Gas Alam di Eropa Lambungkan Harga Batu Bara ke US$188,38 per Ton

Kendala Gas Alam di Eropa Lambungkan Harga Batu Bara ke US$188,38 per Ton - inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Harga batu bara acuan atau HBA menyentuh angka 188,38 dolar AS per ton di Februari 2022. Posisi ini mengalami lonjakan sebesar 29,88 dolar AS dari bulan sebelumnya yang hanya senilai 158,50 dolar AS per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM di Jakarta Agung Pribadi mengatakan ada beberapa faktor yang memicu kenaikan tersebut. Salah satunya terpicu akibat peningkatan permintaan global atas kebutuhan batu bara.

“Faktor lain yang mempengaruhi kenaikan HBA adalah adanya kendala pasokan gas alam di Eropa. Sebagian besar negara-negara Eropa beralih ke batu bara demi memenuhi pembangkit listrik,” kata Agung dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (8/2/2022).

Baca juga
IHSG Volatile, Analis Suguhkan Tiga Saham Pilihan

Agung menyampaikan bahwa dorongan angka HBA turut terpengaruh oleh keputusan pemerintah. Indonesia sempat menjalankan kebijakan larangan ekspor batu bara selama 1-31 Januari 2022 untuk mengatasi kekurangan pasokan batu bara pembangkit listrik di dalam negeri.

HBA merupakan harga dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kilokalori per kilogram GAR, total kelembaban 8 persen, total sulfur 0,8 persen, dan abu 15 persen.

Nantinya, harga ini akan terpakai secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara selama satu bulan pada titik serah penjualan secara free on board di atas kapal pengangkut.

Baca juga
Kran Ekspor Batu Bara Dibuka, Kadin: Insya Allah tidak akan Terjadi Krisis Energi

Terdapat dua faktor turunan yang mempengaruhi pergerakan HBA yaitu, penawaran dan permintaan. Pada faktor turunan penawaran terpengaruh oleh cuaca, teknis tambang, dan kebijakan negara pemasok. Begitu juga dengan teknis di rantai pasok, seperti kereta, tongkang, maupun terminal pemuatan.

Sementara untuk faktor turunan permintaan terpengaruh oleh kebutuhan listrik yang turun. Ini berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti gas alam cair, nuklir, dan air.

 

Tinggalkan Komentar