Sabtu, 21 Mei 2022
20 Syawal 1443

Plt Kepala Biro HDI Bela Gus Yaqut: Menag Tak Bandingkan Azan dengan Suara Anjing

Plt Kepala Biro Humas, Data dan Informasi (HDI) Sekretariat Jenderal Kemenag Thobib Al-Asyhar (Foto Kemenag RI) - inilah.com
Plt Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Sekretariat Jenderal Kemenag Thobib Al-Asyhar (Foto Kemenag RI)

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut sama sekali tidak membandingkan suara azan dengan suara gonggongan anjing. Ia menegaskan kabar Yaqut membandingkan dua hal yang berbeda tersebut sangat tidak tepat.

“Menag sama sekali tidak membandingkan suara azan dengan suara anjing, tapi Menag sedang mencontohkan tentang pentingnya pengaturan kebisingan pengeras suara,” kata Thobib dalam keterangan resminya kepada Inilah.com, Kamis (24/3).

Gus Yaqut, kata Thobib, saat wartawan melakukan dorstop tentang Surat Edaran (SE) Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala hanya menjelaskan bahwa hidup di masyarakat yang plural perlu ada toleransi.

Baca juga
Satgas: 29 Kelurahan di Depok Tak Miliki Kasus Aktif COVID-19

Sehingga perlu pedoman kehidupan harmoni tetap terawat dengan baik, termasuk tentang pengaturan kebisingan pengeras suara yang bisa membuat tidak nyaman.

“Dalam penjelasan itu, Gus Menteri memberi contoh sederhana, tidak dalam konteks membandingkan satu dengan lainnya, makanya beliau menyebut kata ‘misal’. Yang dimaksud Gus Yaqut adalah misalkan umat muslim tinggal sebagai minoritas di kawasan tertentu, di mana masyarakatnya banyak memelihara anjing, pasti akan terganggu jika tidak ada toleransi dari tetangga yang memelihara,” kata dia.

Thobib menilai Adik kandung dari Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf tersebut saat itu hanya sekadar mencontohkan bahwa suara yang terlalu keras apalagi muncul secara bersamaan di masjid/musala, bisa menimbulkan kebisingan dan dapat mengganggu masyarakat sekitar.

Baca juga
Mobil Tertabrak Kereta di Depok, Penumpang Menumpuk dari Stasiun Bogor-Depok

Karenanya, Ia mengatakan perlu ada pedoman penggunaan pengeras suara agar toleransi dan keharmonisan dalam bermasyarakat dapat terjaga.

“Dengan adanya pedoman penggunaan pengeras suara ini, umat muslim yang mayoritas justru menunjukkan toleransi kepada yang lain. Sehingga, keharmonisan dalam bermasyarakat dapat terjaga,” kata dia.

Lebih lanjut, Thobib mengatakan Yaqut tidak melarang masjid-musala menggunakan pengeras suara saat azan. Sebab, hal demikian bagian dari syiar agama Islam.

Edaran yang terbitkan, kata dia, hanya mengatur antara lain terkait volume suara agar maksimal 100 dB (desibel). Selain itu, mengatur tentang waktu penggunaan adanya penyesuaian di setiap waktu sebelum azan.

Baca juga
DPR Cecar 3 Pembantu Jokowi Soal Isu Memuluskan Presiden 3 Periode

“Jadi yang diatur bagaimana volume speaker tidak boleh kencang-kencang, 100 dB maksimal. Diatur kapan mereka bisa mulai gunakan speaker itu sebelum dan setelah azan. Jadi tidak ada pelarangan,” tegasnya.

“Dan pedoman seperti ini sudah ada sejak 1978, dalam bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam,” tandasnya.

Tinggalkan Komentar