Minggu, 05 Februari 2023
14 Rajab 1444

Kereta Cepat Buatan China yang Banyak Masalah, Akhirnya Datang Juga

Sabtu, 03 Sep 2022 - 19:50 WIB
Kereta Cepat Buatan China yang Banyak Masalah, Akhirnya Datang Juga
Gerbong kereta cepat buatan China.

Setelah menempuh perjalanan 11 hari, kereta cepat buatan China akhrinya tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis malam (1/9/2022). Proyek kereta ini banyak masalah.

Saat ini, kereta itu secatra perlahan diturunkan dari kapal kargo menggunakan crane. Kereta cepat ‘made in’ China itu, memulai debutnya di Indonesia.

Satu kereta penumpang bertenaga listrik dan satu kereta inspeksi, masing-masing dengan formasi delapan gerbong, tiba di pelabuhan di Jakarta pada Kamis malam (1/9), setelah menempuh perjalanan laut selama 11 hari dari Pelabuhan Qingdao di China. Proses penurunan kereta dari kapal itu dimulai pada Jumat (2/9) sore, dan selanjutnya akan diangkut melalui jalur darat menuju Depo Tegalluar di Bandung.

Dalam upacara penyambutan yang diadakan di pelabuhan itu pada Jumat, Presiden Direktur PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi, perusahaan patungan antara konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dan konsorsium perusahaan perkeretaan China, mengatakan kepada Xinhua bahwa kedatangan dua unit pertama itu menjadi tonggak sejarah bagi megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Baca juga
Mendarat Dini Hari di Tokyo, Presiden Jokowi Disambut Wamenlu Jepang

“Kedatangan ini merupakan pencapaian penting. Kami sangat senang dengan hal ini. Dan kami semakin bersemangat untuk menyelesaikan proyek ini tepat waktu sesuai target. Ini juga sebagai bukti kepada masyarakat bahwa kami dan pemerintah serius dalam mengerjakan proyek ini,” kata pejabat KCIC.

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wijoatmojo pada upacara tersebut mengatakan, kereta-kereta itu tidak hanya akan memperluas koridor ekonomi dan meningkatkan mobilitas masyarakat antara Jakarta dan Bandung, tetapi juga memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk belajar lebih banyak tentang teknologi canggih yang dimiliki China.

Tiko, sapaan akrabnya, mengatakan, keseluruhan proses pembangunan KCJB menemui berbagai tantangan, terutama tantangan geologis. “Namun, ini pengalaman pertama kita, jadi itu akan menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Kita harus bersyukur karena saat ini hampir berada di tahap akhir proyek,” katanya.

Diselimuti kain hijau selama perjalanan, dua kereta pertama itu baru akan terlihat penampilannya setelah tiba di Bandung. Menurut Direktur Rolling Stock Kontraktor KCJB, Liu Shaoyu, kereta itu dilengkapi dengan teknologi canggih yang juga diterapkan pada kereta peluru Fuxing, dapat beradaptasi dengan lingkungan operasi yang kompleks di sepanjang jalur kereta, dan dilengkapi dengan sistem pemantauan gempa dan peringatan dini.

Baca juga
Lockdown Besar-besaran di China Berimbas Rantai Pasokan Produk Apple

Liu mengatakan gerbong-gerbong kereta itu diwarnai dengan karakteristik lokal. Bagian luar gerbong berwarna perak dan merah dengan pola abstrak komodo, reptil endemik di beberapa pulau di Indonesia.

Warna-warna utama untuk bagian interior adalah abu-abu, merah, dan biru, diambil dari landmark Indonesia Candi Borobudur, bendera nasional Indonesia, dan warna laut. Selain itu, tempat duduknya juga dihias dengan pola Mega Mendung yang biasa digunakan pada kain batik tradisional Indonesia.

Menurut rencana, 10 kereta tambahan dijadwalkan akan diangkut dari China ke Indonesia secara bertahap hingga awal 2023. Mendengar kabar kedatangan kereta cepat itu, Farisa Sunanti (29), warga Bandung yang bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta, mengaku sudah tidak sabar untuk naik kereta cepat tahun depan

Baca juga
Suguhan Empat Saham saat IHSG dalam Tekanan Negatif

Selama ini, dia selalu naik kereta dari Bandung ke Jakarta setiap Senin pada waktu subuh, dengan perjalanan yang memakan waktu lebih dari tiga jam. Dia kemudian kembali ke Bandung setiap akhir pekan, juga dengan kereta, untuk berkumpul bersama suami dan putrinya yang berusia tiga tahun.

“Saya membaca berita bahwa kereta itu akan mengurangi waktu tempuh antara dua kota itu menjadi hanya 45 menit. Itu akan sangat membantu saya. Saya mungkin bisa pulang setiap hari,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar