Jumat, 12 Agustus 2022
14 Muharram 1444

Kerusuhan Anti-China di Solomon Makin Meluas, Rumah PM Diserang

Sabtu, 27 Nov 2021 - 10:36 WIB
Kerusuhan Solomon inilah.com
(The Australian)

Kerusuhan semakin meluas di Kepulauan Solomon pada Jumat (26/11/2021). Massa bahkan mencoba menyerbu kediaman pribadi Perdana Menteri (PM) Manasseh Sogavare.

Ini merupakan hari ketiga kerusuhan pecah. Polisi menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan ke massa.

Massa yang beringas juga dilaporkan AFP membakar gedung dan menjarah toko di ibu kota Honiara. Ribuan orang dilaporkan mengacungkan kapak dan pisau, mengamuk di kota Chinatown, Point Cruz dan kawasan bisnis.

Sebuah gudang besar dibakar di Chinatown dan menyebabkan ledakan yang membuat banyak orang melarikan diri dari tempat kejadian dengan panik. Ada juga laporan tentang gudang tembakau yang dibakar yang menyebabkan kabut asap pariah di wilayah itu.

Sementara itu, PM Sogavare disebut meminta bantuan tentara asing untuk mengamankan negerinya. Tentara Australia dan Papua Nugini dilaporkan dikirimkan ke Solomon untuk membantu menenangkan situasi.

Baca juga
Kerusuhan di Penjara Ekuador Tewaskan 13 Napi

Sebelumnya, kerusuhan massal terjadi di Solomon, guna menuntut PM Sogavare mundur dari jabatannya. Akibat insiden ini, sang PM pun mengambil langkah untuk melakukan penguncian nasional selama 36 jam ke depan.

Kerusuhan ini sendiri berhulu dari konflik China dan Taiwan. Pada tahun 2019 lalu, pemerintah Solomon secara resmi menghentikan pengakuannya atas Taipei dan mulai berpindah kepada Beijing.

Langkah ini ditentang keras oleh warga di wilayah Malaita, yang merupakan wilayah asal para pengunjuk rasa. Pemimpin daerah Malaita, Daniel Suidani, sebelumnya berjanji akan membuat wilayahnya tidak terlibat dengan Beijing dan menghentikan izin usaha yang dimiliki oleh etnis Tionghoa di sekitar Malaita.

Baca juga
China Bantah Dirikan Basis Militer di Kepulauan Solomon

Langkah ini mendapat kecaman langsung dari Honiara. Konflik antara pemerintah pusat dan pihak Malaita sendiri juga meruncing pada Mei ketika Suidani mencari perawatan medis di Taiwan dan dicap pusat sebagai kunjungan yang tidak sah.

Anggota parlemen nasional dari Malaita mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan ketakutan atas protes yang terjadi.

Tinggalkan Komentar