Senin, 08 Agustus 2022
10 Muharram 1444

Kesemutan Tanda Awal Diabetes

Senin, 10 Jan 2022 - 12:30 WIB
Kesemutan Tanda Awal Diabetes - inilah.com
istimewa

Kebas dan kesemutan merupakan salah satu gejala umum neuropati diabetik atau gangguan saraf yang disebabkan oleh penyakit diabetes. Kesemutan tanda awal diabetes.

Meski begitu, kondisi ini seringkali masyarakat tidak sadar sejak awal karena gejalanya biasa saja.

Data dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2021, Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia, dengan jumlah pasien diabetes mencapai 19,5 juta orang. Kemudian diproyeksikan masih akan terus meningkat hingga 28,6 juta orang pada tahun 2045.

Dari angka tersebut, hampir 1 dari 5 penderita diabetes menderita neuropati diabetik yang merupakan komplikasi diabetes paling umum dan bisa berdampak signifikan pada pasien, seperti mengalami infeksi berulang, ulkus yang tidak kunjung sembuh hingga amputasi jari dan kaki. Komplikasi yang paling sering muncul akibat neuropati diabetik adalah terjadinya kaki diabetes atau diabetic foot ulcer (DFU).

Baca juga
3 Cara Mudah Penuhi Sarapan dengan Gizi Seimbang

Gejala Diabetes

Procter & Gamble (P&G) Health ingin meningkatkan kesadaran akan gejala neuropati diabetic seperti kebas dan kesemutan tanda awal diabetes yang harus diwaspadai dan dideteksi sedini mungkin.

Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan Sp.PD-KEMD, dokter konsultan endokrinologi, metabolik dan diabetes, memaparkan, neuropati adalah kondisi gangguan saraf tepi dengan keluhan tertentu. Penyebabnya bisa beragam tapi yang paling banyak adalah karena kadar gula tinggi atau neuropati diabetik.

“Gejalanya mulai dari kebas, kesemutan, mati rasa, nyeri, rasa tebal, rasa berpasir, rasa dingin, panas, terbakar, hingga yang paling berbahaya adalah hilangnya sensitivitas proteksi sehingga tidak bisa merasakan ketika terluka. Ini bisa mengakibatkan luka atau cidera yang dapat berujung pada amputasi,” papar Tri Juli Edi Tarigan, Jakarta, Senin, (10/01/2022).

Dr. Tri Juli melanjutkan, kebas dan kesemutan bisa jadi merupakan gejala awal dan masyarakat tidak boleh abai.

Baca juga
Kesadaran Masyarakat untuk Deteksi Penyakit Jantung Bawaan Masih Kurang

Jika berulang, sebaiknya segera periksa ke dokter, karena mungkin saja Anda tidak sadar sudah menderita diabetes dan sudah mengalami komplikasi.

“Deteksi dini akan membantu pasien mendapatkan penanganan sejak awal, sebelum terjadi kerusakan saraf yang semakin parah. Salah satu cara mengurangi gejala neuropati adalah dengan melakukan latihan fisik atau berolahraga, serta mengkonsumsi vitamin untuk saraf jika perlu,” tambahnya.

Senam Neuromove untuk Cegah Gangguan Saraf

Dr. Ade Jeanne Domina L. Tobing, Sp.KO, Spesialis Kedokteran Olahraga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) menjelaskan pentingnya aktivitas fisik dan latihan fisik secara baik, benar, terukur dan teratur (BBTT).

Aktivitas sedentary seperti duduk berjam-jam dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular atau penyakit kurang gerak seperti diabetes melitus, kegemukan, tekanan darah tinggi, osteoporosis termasuk gejala neuropati akibat penyakit.

Terlebih sejak pandemi dan pembatasan kegiatan sosial, membuat orang semakin jarang bergerak dan cenderung pada gaya hidup sedentary.

“Jadi harus ada keseimbangan antara asupan makanan dengan aktivitas/latihan fisik . Salah satu cara untuk mencegah neuropati, perlu melakukan latihan fisik seperti senam Neuromove, yang gerakannya didesain khusus untuk mengaktifkan sel-sel saraf dan meningkatkan fungsi saraf serta otak kanan-kiri, sehingga fungsi kognitif seperti memori, emosi, konsentrasi menjadi lebih baik. Selain mencegah neuropati, Neuromove juga dapat meningkatkan kelenturan dan kekuatan otot, serta meningkatkan ketahanan jantung –paru dan peredaran darah,” papar Dr. Ade.

Tinggalkan Komentar