inilahREVIEW
Tak Semua Datang Sebelum Prabowo Menang, Kesetiaan PAN Bersama 08

Ilustrasi relasi kuat Presiden Prabowo Subianto dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) dalam tiga gelaran Pilpres. (Desain: Inilah.com/Dede).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dalam perpolitikan Indonesia yang gemar lupa, kesetiaan justru sering terdengar ganjil. Koalisi datang dan pergi, berpindah tangan seiring arah angin kekuasaan.
“Mohon ini dicatat. Kita semua ingat, PAN sudah tiga kali berturut-turut dari tahun 2014. Ada saya ada Pak Prabowo, PAN dukung Pak Prabowo. 2019 ada saya ada Pak Prabowo, PAN kembali dukung Pak Prabowo. 2024 ada Pak Anies, Pak Prabowo dan Pak Ganjar, PAN tetap dukung Pak Prabowo. Tiga kali berturut-turut paling konsisten. Maka untuk keberlanjutan nanti di kabinet, rasa-rasanya sih mestinya PAN harusnya ditambahin. Mestinya ada tambahan, tiga kali loh konsisten.”
Penggalan pidato Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) itu meluncur santai, tapi maknanya tajam. Disampaikan di hadapan ribuan kader Partai Amanat Nasional (PAN) dalam gelaran Kongres PAN ke-6 dan peringatan HUT ke-26 pada 23 Agustus 2024.
Grand Ballroom Hotel Kempinski Jakarta malam itu menjadi saksi bagaimana Jokowi, mengenakan seragam biru cerah, seolah menepuk pundak Prabowo Subianto dari kejauhan. Bukan dengan perintah, melainkan pengingat. Tentang loyalitas. Tentang siapa yang bertahan ketika kalah, bukan sekadar datang ketika menang.
Bukan bermaksud memberi panggung bagi Jokowi yang semestinya rehat dari hingar bingar politik, tapi pesannya itu terasa makin relevan setahun berselang. Politik nasional kembali berisik setelah empat pimpinan partai, Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menggelar pertemuan pada Minggu (28/12/2025).
Pertemuan yang dikemas sebagai konsolidasi itu langsung memantik spekulasi. Publik bertanya-tanya, ada apa? Bukankah pemerintahan Prabowo hari ini nyaris disokong semua partai parlemen, kecuali PDIP? Apakah koalisi mulai retak? Atau justru sedang dibagi ulang?
Wajar jika kecurigaan liar muncul. Politik Indonesia jarang mengenal kata setia. Koalisi lazimnya cair, berpindah seiring arah angin kekuasaan. Namun, di tengah dinamika itu, ada satu hal yang sulit dibantah. Di antara para sekutu Prabowo hari ini, PAN adalah satu-satunya partai yang tidak pernah benar-benar pergi sejak awal.
Sejak 2014, saat Prabowo kalah dalam pertarungan pertamanya, PAN tetap berdiri di barisan yang sama. Lima tahun berselang, ketika Prabowo kembali maju dan kembali tumbang, PAN tidak berpaling. Bahkan pada 2024, ketika peta politik nasional jungkir balik dan pilihan kandidat lebih beragam, PAN kembali mengambil posisi yang sama, sementara banyak partai lain baru merapat setelah kemenangan diraih.
Bandingkan dengan Golkar yang pada 2019 memilih mendukung Jokowi, rival Prabowo kala itu. Atau PKB yang pada Pilpres 2024 memilih jalur berbeda dengan mendukung Anies Baswedan–Muhaimin Iskandar bersama PKS dan Partai NasDem. Konsistensi PAN menjadi anomali di tengah politik yang cair.
Konsisten hingga 2029
Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi menyebut pilihan itu bukan romantisme masa lalu. Menurutnya, PAN justru sudah melangkah lebih jauh ke depan.
“Ketua Umum PAN, Bang Zulkifli Hasan sudah menegaskan bahwa di Pilpres 2029 akan bersama Pak Prabowo dan Partai Gerindra lagi,” kata Viva saat berbincang dengan Inilah.com.
Pernyataan itu terdengar nyaris tanpa jeda ragu. Dalam politik yang penuh hitung-hitungan, komitmen sebelum kontestasi dimulai justru terasa janggal. Namun Viva menegaskan, alasan PAN bertahan berada di jalur yang sama sejak awal tidak pernah berubah.
“PAN adalah partai yang setia dan konsisten mendukung Pak Prabowo di Pilpres. PAN dan Gerindra memiliki visi perjuangan yang relatif sama,” ujar dia.
Nada yang lebih lugas datang dari Wakil Ketua Umum PAN lainnya, Yandri Susanto. Ia tak mengelaborasi panjang, seolah menganggap kesetiaan itu tak lagi perlu pembuktian tambahan.
“PAN melihat yang paling tepat untuk pimpinan nasional sekarang dan ke depan Pak Prabowo, karena beliau lahir batin ikhlas buat bangsa dan negara, tahu persoalan yang dihadapi dan mengerti jalan keluarnya,” kata Yandri kepada Inilah.com.
Posisi PAN Paling Strategis
Konsistensi PAN dibalas dengan kepercayaan Prabowo. Zulhas tidak hanya duduk sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, pos yang strategis di tengah isu krisis pangan global, tetapi juga memegang beberapa tugas kunci lain.
Eks Danjen Kopassus bersandi 08 itu turut mempercayakan Zulhas sebagai Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air. Tak berhenti di situ, Zulhas juga ditunjuk sebagai Ketua Tim Pengembangan Koperasi Merah Putih, salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo untuk memperkuat ekonomi desa dan rantai distribusi nasional.
Bagi sebagian pihak, akumulasi peran itu memancing bisik-bisik. Apakah ini sumber kecemburuan di antara sekutu koalisi? Apakah pertemuan empat pimpinan partai di akhir 2025 terkait pembagian pengaruh?
Dosen FISIP-SKSG UI, Mulyadi, menilai tafsir itu terlalu jauh. Menurutnya, pertemuan tersebut lebih tepat dibaca sebagai konsolidasi, bukan sinyal kegamangan.
“Konsistensi dukungan PAN terhadap Prabowo memang patut diapresiasi. Sebagai partai yang paling konsisten mendukung Prabowo, PAN menunjukkan komitmen kuat dalam koalisi pemerintahan,” tutur Mulyadi kepada Inilah.com.
Ia juga menepis anggapan adanya rasa iri terhadap posisi Zulhas. “Saya tidak melihat indikasi kuat iri hati atau ketidakpuasan terhadap kepercayaan Prabowo kepada Zulhas,” ujarnya.
Dalam peta koalisi Prabowo hari ini, peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, memandang posisi PAN justru semakin strategis. Bukan semata karena jumlah kursinya di parlemen, melainkan karena fleksibilitas dan rekam jejaknya.
PAN, kata dia, adalah partai yang tidak mengikatkan diri pada satu poros kandidat sejak awal, tetapi ketika sudah memilih, ia bertahan. Dalam politik Indonesia yang sering pragmatis, konsistensi semacam itu menjadi barang langka.
“PAN memegang peranan yang penting, bukan hanya sekarang tetapi dari pemilu sebelumnya. Hal ini karena posisi PAN bukan hanya partai bercorak Islam yang masuk parlemen, tetapi Zulhas yang tidak mematok capres atau cawapres. PAN bisa menjadi joker dalam sebuah permainan,” ucap dia saat dihubungi Inilah.com.
Di titik inilah, ucapan Jokowi setahun lalu terasa seperti alarm yang kembali berbunyi. Bukan soal jatah kursi semata, melainkan pengakuan atas loyalitas yang dibayar mahal. Bertahan saat kalah, bukan sekadar ikut merayakan kemenangan.
Dan dalam politik, kadang yang paling diingat bukan siapa yang paling cepat datang, melainkan siapa yang tak pernah pergi. [Rez/Reyhaanah]
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.