Minggu, 26 Juni 2022
26 Dzul Qa'dah 1443

Ketahui 11 Golongan Orang yang berisiko Terkena Neuropati

Rabu, 22 Jun 2022 - 12:30 WIB
Neuropati
Freepik

Kebanyakan pasien dengan risiko neuropati berasal dari usia lanjut atau tua. Namun, ada beberapa golongan orang yang juga mengalami risiko neuropati.

Neuropati adalah kerusakan saraf tepi yang dapat mengenai sensorik, motorik, otonom, dan campuran. Kerusakan saraf ini dapat berisiko fatal dan tidak dapat diperbaiki lagi jika tidak ditangani sejak dini.

Ada sekitar 11 golongan orang yang berisiko terkena neuropati yang perlu Anda ketahui. Berikut adalah rinciannya:

1. Berusia tua

2. Menderita diabetes

3. Ada riwayat keluarga

4. Hipertensi

5. Merokok

6. Mengkonsumsi alkohol

7. Menderita penyakit-penyakit pembuluh darah, misalnya penyakit jantung

8. Kanker

9. Terpapar bahan kimia

10. Terinfeksi penyakit tertentu

11. Mengkonsumsi obat-obatan yang menyebabkan neuropati.

Ketua Pokdi Neuro Fisiologi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI): dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), menjelaskan, saraf tepi atau perifer menghubungkan sistem saraf pusat dengan semua bagian penting tubuh.

Baca juga
Hasil Antigen Positif Bisa Pakai Layanan Telemedisin Isoman

“Neuropati adalah gangguan pada sistem saraf tepi yang bisa terjadi akut ataupun kronis, dengan gejala umum seperti kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi terbakar di tangan dan kaki yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien,” kata Ketua Pokdi Neuro Fisiologi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI): dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), ditulis di Jakarta, Rabu, (22/6/2022).

Penyebab gangguan saraf tepi dapat terjadi karena penyakit tertentu, kondisi fisik, usia lanjut, dan kurangnya asupan nutrisi. Riset juga membuktikan, gejala neuropati mulai menyerang kalangan muda.

Karena itu, vitamin B berperan penting karena mampu meregenerasi sel saraf sehingga asupan vitamin B harus tercukupi untuk menjaga kesehatan saraf tepi.

Baca juga
Tips Aman Berpuasa untuk Pasien Gagal Ginjal

“Deteksi dini sangatlah penting agar pengobatan lebih awal dapat dilakukan termasuk pemberian vitamin neurotropik,” tambahnya.

Masih menurutnya, hal tersebut bertujuan untuk mencegah dampak neuropati yang lebih berat, karena kerusakan saraf dapat bersifat irreversible jika lebih dari 50 persen serabut saraf telah rusak.

Kurangnya aktivitas fisik

Setiap orang memiliki potensi risiko gejala neuropati, karena itu Neuropathy Awareness Week menjadi waktu yang tepat untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dan mencegah dampak bahayanya.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Ditjen Kesmas, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Imran Agus Nurali, SpKO mengungkapkan, berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, proporsi penduduk Indonesia yang kurang aktivitas fisik meningkat dari 26,1 persen pada 2013 menjadi 33,5 persen pada 2018.

Baca juga
Satgas: 5.886.211 Orang Sembuh dari COVID-19

“Artinya 1 dari 3 orang menjalani gaya hidup sedentari dan hal ini berpotensi meningkat selama pandemi yang dapat berisiko terhadap penyakit tidak menular (PTM) termasuk kerusakan saraf. Peningkatan kasus PTM secara signifikan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah, karena penanganannya membutuhkan banyak waktu, biaya besar dan teknologi tinggi,” paparnya.

Tinggalkan Komentar