Rabu, 25 Mei 2022
24 Syawal 1443

Ketika Anak Nangis, Tenangkan Dulu Sebelum Kasih ASI

ASI
Istockphoto

Ada aturan yang penting untuk diperhatikan bagi ibu yang memberikan ASI kepada anaknya. Biasanya anak mengirim signal sedang lapar dan haus dengan cara menangis. Dalam kondisi ini, sebaiknya bayi yang sedang menangis tidak langsung diberikan ASI. Orang tua harus menenangkan bayi tersebut terlebih dahulu.

“Anak yang nangis tidak boleh langsung disusuin. Kita mesti tenangkan dulu. (Kalau dia masih nangis diberi ASI) bisa keselek ya. Sesudah itu baru kita lihat ada tandanya dia lapar baru kita kasih (ASI),” kata Prof. Dr. dr. Damayanti, R. Sjarif, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo ditulis di Jakarta, Kamis, (7/4/2022).

Baca juga
Terkepung, Pemimpin Tertinggi ISIS Tewas Ledakkan Diri

Masih menurut Damayanti, ibu harus mengetahui apakah buah hatinya benar-benar lapar membutuhkan ASI atau tidak. Sehingga, lanjut Damayanti, nantinya anak akan mempunyain jadwal kapan harus minum ASI secara teratur.

“Nanti anak punya jadwal tersendiri nah ibunya harus memperhatikan. Jangan nunggu anak sampai teriak-teriak kelaparan. Jadi, setiap anak punya jadwal sendiri-sendiri,” katanya.

Selama pemberian ASI, ibu juga perlu memperhatikan ada tidaknya kondisi weight faltering yakni kenaikan berat badan anak yang tidak cukup atau di bawah rata-rata dari kenaikan berat badan minimal setiap bulannya.

Jika ditemukannya kondisi ini, maka ibu perlu segera memperbaiki cara menyusuinya dan jangan lupa berkonsultasi ke dokter. Nantinya, dilakukan evaluasi 1-2 minggu. Bila tidak membaik maka anak harus dirujuk mengingat adanya kemungkinan dia mengalami penyakit tertentu termasuk infeksi.

Baca juga
8 Perkembangan Terbaru Omicron

“Kalau weight faltering dibiarkan saja nanti jadi stunting,” kata Prof. Damayanti.

Berbicara asupan gizi khususnya pada anak di bawah usia 2 tahun yang umumnya masih mendapatkan ASI, maka protein hewani misalnya dari sumber telur, ikan dan ayam kemudian lemak dan karbohidrat menjadi penting.

“Komposisi ASI dan komposisi otak persis, 60 persen lemaknya. Jadi jangan kasih makanan yang tidak ada lemaknya. ASI dikasih lemak 60 persen. Yang namanya makanan untuk bayi sampai tumbuh 80 persen otaknya di 2 tahun adalah komposisi ASI. Jadi harus ada lemak 60 persen, protein sekitar 10-15 persen dan karbohidrat,” paparnya.

Baca juga
Talenta Digital Menjadi Pelindung Sektor Kesehatan

Lebih lanjut, sayur dan buah tidak ikut membentuk otak, tetapi tetap harus dikenalkan setelah anak berusia 2 tahun. Sementara asupan lemaknya diturunkan jumlahnya.

“Jadi sesudah (usia 2 tahun) itu, maka turunkan lemaknya, dikasihlah sayur dan buah. Tetapi bukan ujug-ujug 3 tahun dikasih sayur buah terus dia mau, kan harus dikenalkan. Porsinya juga kecil-kecil, bukan porsi orang dewasa yang dikecilkan,” tambahnya.

Tinggalkan Komentar